----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 17 Juli 2000

Negeri Dengan 4 Kekejaman

Perspektif Baru
Bersama: Imam Prasodjo

Perspektif Wimar:

TRAGEDI menimpa negara kita sejak awal krisis, walaupun
sebetulnya dari dulu Indonesia selalu ditimpa tragedi. Di balik
krisis ekonomi, krisis politik, krisis sosial, yang benar-benar
nyata imparsial, ril dan paling susah diatasi adalah tragedi
sosial berupa konflik, berupa pembunuhan, berupa kekejaman.
Sekarang pun sedang terjadi di bagian-bagian tanah air kita,
terutama di Maluku. Topik inin terlalu besar untuk bisa dibahas
dengan benar dalam suatu kesempatan semacam ini, dan juga
terlalu aktual, terlalu 'current', untuk dikenakan analisa tanpa
menimbulkan masalah-masalah yang baru. Namun sambil berjalan
kita juga harus sadar, harus ada upaya, paling tidak dalam hati
nurani masing-masing untuk mempersiapkan hari depan yang lebih
baik. Karena itu kita akan bicara dengan Dr Imam Prasodjo,
seorang dosen sosiologi di FISIP, Universitas Indonesia juga
direktur dari Nurani Dunia, suatu yayasan yang menyalurkan
bantuan kemanusiaan untuk korban bencana sosial dan bencana
alam. Baru-baru ini 252 orang berkumpul di Bali selama dua hari.
Mereka tidak mewakili siapa-siapa kecuali seluruh masyarakat
Indonesia yang tanpa agenda politik tertentu sedang resah,
sedang gelisah, dan tidak sabar melihat krisis yang
berkelanjutan. Krisis ini tidak bisa diselesaikan oleh dua ratus
ataupun dua ribu orang, tapi sekurang-kurangnya kita bisa
berteriak, bertanya, dan mengeluarkan sikap mengenai ini semua.
Dalam Forum Rembug Nasional di Bali tersebut dibicarakan seluruh
topik krisis nasional dengan satu perhatian khusus pada masalah
kerawanan sosial. Dalam topik kerawanan sosial ini Imam Prasodjo
menjadi fasilitator, menjadi moderator kelompok. Perspektif Baru
berbincang mengenai apa yang dibicarakan di Bali maupun
pandangan Imam Prasodjo mengenai kerawanan sosial pada umumnya.
Inilah pembicaraan Imam Prasodjo dengan pemandu Perspektif Baru
Wimar Witoelar.

PAK IMAM, Anda bisa memberikan garis besar yang disimpulkan atau
yang diserukan di pertemuan di Forum Rembug Nasional di Bali?

Dalam forum itu kita membuat semacam maklumat, sebetulnya ini
merupakan kesimpulan yang ingin memberikan kesadaran pada kita
semua bahwa kita sekarang ini dalam keadaan yang betul-betul
mengalami keterpurukan. Kekejaman sosial telah menghancurkan
seluruh sendi-sendi kehidupan, dan ini sudah dimulai di bagian
sebelah Timur yaitu di beberapa pulau-pulau di daerah Maluku.
Disitu terjadi kekejaman komunal yang telah berimbas pada ribuan
bahkan sekarang sudah ada yang memperkirakan lebih dari satu
juta pengungsi. Negeri kita sebetulnya telah menjadi negeri
pengungsi terbesar di dunia. Ini mengakibatkan anak-anak yang
tadinya bersekolah lau terputus sekolahnya dan hidup dalam
penampungan-penampungan. Perempuan-perempuan yang tidak tahu
menahu harus menanggung ini semua, serta korban-korban
pembunuhan bergeletakan di rumah sakit-rumah sakit, dan ini
pernah saya saksikan. Sekarang di Buton misalnya sudah lebih
dari seratus ribu pengungsi, di Bitung sudah melebihi 70.000
pengungsi, di Ternate juga begitu, di Makasar, dan kemarin saya
berkunjung ke Madura, itu juga akibat lain dari kekerasan yang
terjadi di Sambas Kalimantan. Itu juga masih menyisakan
pengungsi-pengungsi, belum lagi pengungsi-pengungsi dari Aceh.
Jadi negeri kita sekarang telah menjadi negeri pengungsi, dimana
tidak saja orang kehilangan akibat PHK, tapi tercabut akar-akar
sosialnya. Mereka mendadak tidak memiliki penghasilan, tidak
memiliki lingkungan sosial yang selama ini menjadi tetangga
mereka, dan yang paling kasihan adalah anak-anak dan perempuan
yang selama ini berada di penampungan-penampungan, yang entah
bagaimana menyelesaikannya. Ini yang pertama. Kesimpulan dari
diskusi Forum Rembug Nasional, ada empat kekejaman sosial yang
harus menjadi perhatian kita.
'Pertama' yang telah saya singgung tadi yaitu kekerasan komunal.
Kekerasan komunal ini tidak hanya dibungkus agama tapi juga
etnik, antarkampung, seperti yang terjadi di Jakarta, bahkan
antarkesebelasan yang baru saja bertandingpun bisa menjadi satu
kekerasan. 'Kedua' adalah keterbuangan sosial atau 'social
displacement'. Ini akibat kekerasan, akibat proses perubahan
sosial yang begitu drastis, sehingga menimbulkan anak-anak
jalanan. Anak-anak jalanan ini hampir di semua kota muncul.
Buton yang tadinya tidak ada pengemis, anak yang minta-minta,
sekarang sudah terjadi. 'Social displacement' ini juga menjadi
perhatian kita. Kemudian yang 'ketiga' adalah disintegrasi
sosial. Kerawanan sosial ini muncul karena nilai-nilai
masyarakat yang merekatkan kita bersama itu relatif melemah dan
sekarang ada 'social distrust' yang luar biasa mengendur.
Misalnya di Indramayu ada tawuran antarkampung, terus di
Banyumas juga ada ketegangan-ketegangan muncul yang kelihatannya
di semua elemen, di lapisan bawah ada kecenderungan 'social
distrust', ketidak percayaan antarsesama kelompok. Yang
dikhawatirkan adalah kekejaman keempat, yaitu kekejaman yang
muncul akibat anarki sosial. Sehingga ada maling yang
tertangkap kemudian 'rame-rame' dibunuh.
Ini karena memudarnya nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan
hukum tidak berfungsi secara baik. Sehingga jika terjadi sedikit
saja 'dislocation', atau satu kesalahpahaman, itu bisa
menimbulkan satu kekejaman yang luar biasa. Saya kira itu yang
kemarin disimpulkan.

Untuk orang biasa apalagi yang terlindung dari pengalaman
langsung dari kekerasan karena Indonesia begitu luas, jadi
banyak saja orang yang tidak mengalami ini. Bagaimana kira-kira
menghadapi tragedi ini Pak Imam?

Kita ini seperti analog kapal 'Titanic', kalau orang pernah
melihat film itu kapal yang begitu besar dengan penumpang yang
begitu banyak, tapi kita tahu orang yang berada di kelas atas
juga ada di 'deck', yang sekarang banyak yang sudah tenggelam,
sudah mati. Tapi yang di atas, banyak yang berpesta pora dan
masih terlihat orang yang main biola. Sekarang di Timur begitu
banyak orang menderita, keamanan sudah tidak ada lagi. Di Barat
juga begitu. Lubang besar di dua kapal ini sudah terjadi tetapi
di Jakarta banyak orang yang masih bisa tersenyum, sama sekali
tidak ada sensitivitas. Inilah yang justru sekarang menjadi
tugas kita untuk bagaimana melakukan 'awareness campaign',
kampanye untuk melakukan penyadaran kepada kita semua bahwa
situasi seperti ini harus menjadi perhatian kita semua. Ini
adalah maklumat kerawanan sosial yang dihasilkan di Bali yaitu
untuk memukul genderang bahwa kita betul-betul dalam keadaan
krisis, dan seandainya kita tidak sadar maka kita akan tenggelam
bersama-sam dan bangsa Indonesia tidak akan terselamatkan.

Kalau kita menemukan kesadaran itu, terus bagaimana Pak Imam?

Kalau seandainya kesadaran itu bisa ditemukan tentu kita harus
membuat program apa yang harus kita lakukan, karena perubahan
sosial yang begitu panjang ini tidak bisa diselesaikan dalam
waktu cepat. Maka program-program yang harus kita laksanakan
tidak hanya menggantungkan pada pemerintah tapi kita semua.
Pertama bagaimana kita melakuakan agar kekerasan komunal itu
tidak terjadi misalnya. Dalam Forum Rembug Nasional ada beberapa
poin yang perlu jadi perhatian, karena begitu kompleksnya maka
kita perlu ada semacam pemetaan sosial, 'social maping' yang
jelas. Karena tanpa ada 'social maping' yang jelas, program
apapun nanti akan percuma. Oleh karena itu perlu ada satu upaya
agar 'social maping' dilakukan. Kedua untuk jangka panjang,
perlu ada kontrol efektif terhadap kekuasaan. Sebab kekuasaan
selama ini seringkali seperti kuda yang tidak pernah bisa
dikendalikan secara efektif. Bahkan sering jadi penyebab dari
kekerasan itu sendiri. Karena itu harus ada kontrol kekuasaan
secara efektif, dimonitor secara baik agar tidak di 'abuse'.
Kemudian jangan sampai situasi seperti ini, karena sentralisme
kekuasaan yang kemarin terjadi terus muncul semangat kedaerahan,
semangat kesukuan, dan semangat-semangat yang didasarkan pada
ikatan-ikatan primordial semata. Oleh sebab itu harus diterapkan
bagaimana prinsip meritokrasi untuk menjadi acuan pertama dan
menghilangkan secara bertahap semangat-semangat kedaerahan yang
tidak perlu. Kemudian pendidikan 'multi culture' harus
dirancang. Ini semua yang saya sebutkan adalah untuk jangka
panjang. Sekarang untuk jangka pendeknya apa? Tentu yang harus
dihentikan sekarang adalah segala macam kekerasan dengan segera,
dengan seefektif mungkin. Kedua adalah laksanakan rekonsiliasi.
Ketiga adalah laksanakan penegakan hukum.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Jul 2000 jam 05:15:25 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke