----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kompas, 18 Juli 2000

Sekjen PBB Berusaha tak Agendakan Maluku
* Menlu: RI tidak Terima Intervensi Negatif

Jakarta, Kompas

Presiden Abdurrahman Wahid mengatakan, Sekretaris Jenderal
Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Kofi Annan akan berusaha
tidak memasukkan masalah Maluku ke dalam agenda PBB, meskipun
banyak pihak meminta masalah Maluku dibicarakan secara khusus
dalam agenda PBB.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Alwi Shihab
menegaskan, pada prinsipnya, pemerintah tidak bisa menerima
intervensi asing yang bersifat negatif, dalam arti menggerogoti
kedaulatan negara RI.

"Saya telah menerima telepon dari Sekjen PBB Kofi Annan yang
mengatakan pihaknya menerima permintaan dari berbagai pihak agar
masalah Maluku dibicarakan secara khusus di PBB. Akan tetapi,
saya meyakinkan dia, dalam waktu satu minggu ini keadaan akan
mereda, sehingga tak perlu membicarakan lagi masalah Maluku di
PBB," ujar Presiden di Bina Graha, Jakarta, Senin (17/7), saat
bertemu dengan para duta besar Uni Eropa dan para gubernur.

"Kofi Annan bilang, pihaknya akan mengusahakan agar suara-suara
yang menginginkan perlunya pasukan asing tidak sampai
diagendakan dalam sidang Dewan Keamanan PBB," kata Presiden.

Tak terima

Usai melantik serangkaian pejabat tinggi di Departemen Luar
Negeri (Deplu), Menlu Alwi Shihab menegaskan, pada prinsipnya
Indonesia tidak bisa menerima intervensi negatif. "Saya
mengatakan, intervensi positif itu apabila berkisar pada bantuan
kemanusiaan. Tetapi intervensi negatif itu, artinya menggerogoti
kedaulatan kita. Dan itu tidak bisa kita terima," tegas Alwi
Shihab.

Ia menekankan, tidak bisa menerima adanya satu tentara asing,
baik dari PBB atau negara lain, menginjak wilayah Indonesia.
Karena itu, ia menekankan, tidak perlu terlalu mempedulikan
pandangan asing yang menganggap Indonesia tidak mampu mengatasi
masalah Maluku. "Itu terserah mereka. Tetapi sekarang kita
bekerja keras," katanya.

Menanggapi masih terus berlangsungnya pertikaian dan kekerasan
di Maluku meski status darurat sipil sudah diterapkan,
Sekretaris Jenderal Komnas HAM Asmara Nababan, dalam kesempatan
terpisah mengungkapkan, pihaknya lebih mengusulkan diundangnya
misi PBB, bukan pasukan PBB.

Sementara Ketua Badan Pengurus Komisi untuk Orang Hilang dan
Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Munir, yang baru kembali dari
berbagai pertemuan internasional di Jerman, mengungkapkan,
rakyat Eropa memang agak kebingungan juga dalam menyikapi soal
Maluku.

"Mereka juga tidak begitu setuju kalau dikirim pasukan PBB ke
Maluku, tetapi ada baiknya kalau dikirimkan terlebih dahulu
special rapporteur PBB ke Maluku untuk menilai kondisi hak asasi
manusia secara fair," kata Munir.

Namun, kata Munir, persoalannya special rapporteur itu hanya
bisa dikirim kalau ada permintaan resmi dari Indonesia.

AS pilih Australia

Di Sydney, Australia, Menteri Pertahanan (Menhan) AS William
Cohen mengatakan, sejauh ini belum ada permintaan dari Indonesia
kepada AS untuk membantu menuntaskan persoalan Maluku. Namun,
bila ada intervensi asing di Maluku, Cohen berharap Australia
bisa mengoordinasikan hal itu. Selain lebih dekat, Australia
juga dipandangan berhasil memulihkan perdamaian di Timor Timur
(Timtim).

Cohen berkunjung dua hari di Australia. Usai berbicara dengan
mitranya, Menhan Australia John Moore, Cohen mengatakan, akan
melakukan koordinasi dengan sangat hati-hati, terutama dalam
upaya memberi tanggapan yang paling tepat. Ia sekali lagi
menegaskan, hingga saat ini belum ada permintaan bantuan resmi
dari Pemerintah Indonesia.

Menanggapi hal itu, Dirjenpol Deplu Dr N Hassan Wirajuda
mengatakan, masalah Maluku tidak bisa disamakan dengan Timtim
yang sejak awal sudah menjadi masalah internasional. "Ini kan
masalah intern," katanya. Selain itu, Maluku berada di negara
yang pemerintahannya masih efektif. Karena itu, adanya
intervensi asing, walau dalam bentuk kemanusiaan, hanya bisa
dilaksanakan bila ada permintaan resmi dari Pemerintah
Indonesia.

Wirajuda meragukan efektivitas intervensi kemanusiaan asing
dalam wilayah konflik seperti Maluku. "Sebagai konsep,
intervensi kemanusiaan itu sangat meragukan. Tidak jelas. Dan
dalam praktiknya, sangat tidak konsisten," lanjutnya. Ia lalu
memberi contoh, intervensi kemanusiaan justru tidak bergerak di
Rwanda, Burundi, dan Somalia yang jelas-jelas pemerintahannya
sudah tidak efektif. (AFP/Reuters/gun/osd/oki/rie)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Jul 2000 jam 05:16:09 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke