----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kolom IBRAHIM ISA
---------------------------
31 Juli 2000
PERTARUNGAN ANTARA KEKUATAN �REFORMASI� LAWAN KEKUATAN �STATUSQUO�  - - TAK
TERELAKKAN

Sepintas lalu wajah percaturan politik Indonesia, tampaknya �rumit. dan
�aneh�. Ada yang mengatakan bahwa keadaan dan perkembangan politik
Indonesia, �unpredictable�, tak bisa diramalkan. Namun bila ditelaah lebih
lanjut, rasanya tidak terlalu sulit untuk melihat �who�s who�, dan
masing-masing itu �maunya apa�. Ambillah misalnya, pernyataan Amien Rais
menjelang SU- MPR Agustus sebentar lagi. Amien Rais setengah memastikan
bahwa umur politik dari presiden Gus Dur tinggal enam bulan saja lagi. Lihat
lagi pernyataan kalangan pimpinan �Golkar� yang sudah pasang kuda-kuda
menjadikan �Golkar� sebagai partai oposisi terhadap pemerintahan Gus Dur.

Sementara pers dalam dan luarnegeri menggambarkan seolah-olah pertentangan
sengit terjadi antara presiden dengan badan legeslatif dan MPR, yang bisa
berkembang dengan dilorotnya Gus Dur, karena dikatakan bahwa MPR punya hak
untuk menggantikan presiden. Gambaran pers tsb dikemukakan,  tanpa
mengungkap hakikat sesungguhnya dari pertentangan itu.

Dewasa ini pertarungan politik yang ada adalah antara kekuatan �Reformasi�
kontra kekuatan politik �Statusquo�, suatu pertarungan �hidup-mati�, yang
berlangsung terus. Terkadang sengit, terkadang reda, silih berganti
diselingi oleh kompromi-kompromi sementara. Pertarungan tsb terkadang
terbuka, terkadang tersembunyi, terkadang biasa-biasa saja, terkadang
emosionil. Sering-sering juga berlangsung secara tidak etis, kadang-kadang
kekanak-
kanakan.Tapi satu hal jelas, pertentangan dan pertaruangn itu tak bisa
dihentikan. Sering tampak tak terdamaikan. Makin banyak fakta mengarah ke
kesimpulan bahwa,  pertarungan politik, berbentrokkannya kepentingan politik
antara dua kekuatan itu, tak terelakkan, tak terdamaikan.

Kekuatan politik yang punya dasar politik yang berprinsip, adalah  kekuatan
politik Reformasi yang sesungguhnya, yang dalam kata-kata dan perbuatan
berdiri di fihak demokrasi, hak-hak azasi manusia (HAM), yang berdiri di
pihak pluralisme, sekularisme, yang menuju ke suatu Indonesia Baru yang ber-
�civil society�,i.e. masyarakat madani. Pada zaman Orba kekuatan politik ini
selalu ditindas dengan kekerasan, begitu ia tampak muncul di permukaan arena
kehidupan sosial dan politik masyarakat. Pelbagai organisasi mahasiswa,
lembaga-lembaga di kampus-kampus, lingkungan-lingkungan kesarjanaan di
pelbagai perguruan tinggi dan lembaga studi, PDI pimpinan Megawati, PRD dan
sementara serikat buruh dan gerakan tani; semua itu merupakan bagian penting
dari kekuatan politik tsb yang terpencar dan berdiri sendiri-sendiri.
Sesudah lengsernya Suharto dan berakhirnya pemerintahan Habibie, kekuatan
politik Reformasi itu masing-masing telah mengalami perkembangannya sendiri.
Antara lain yang terpenting,  ialah PRD, partai kaum muda, yang  telah lahir
dan tumbuh dalam proses pergolakan dan perjuangan melawan Orba, sebagai
suatu kekuatan politik yang berhaluan sosial-demokrasi. Di manca negara,
kekuatan politik sosial demokrasi seperti PRD itu, juga  disebut sebagai
kekuatan Kiri atau Kiri Baru. Lalu,  terdapat PDI Perjuangan, sebagai
lanjutan dari PDI yang dipimpin Mega pada zaman Orba. Partai ini dalam
pemilu y.l. telah meraih suara pemilih terbanyak dibanding parpol-parpol
lainnya. Dengan dideklarasikan oleh Gus Dur, telah berdiri pula, Partai
Kesatuan Bangsa (PKB), yang belakangan ini secara lebih vokal terbanding
parpol-parpol lainnya di DPR, membela tujuan politik Reformasi, Demokrasi
dan HAM. PKB juga merupakan satu-satunya parpol dalam DPR yang dalam rangka
membela HAM menyokong usul presiden Gus Dur untuk menghapuskan TAP-MPRS No
25 Th. 1966, karena Tap tsb merupakan pelanggaran terhadap hak-hak
demokratis warganegara seperti yang tercantum di dalam Deklarasi Universil
PBB mengenai HAM dan UUD-45.

                                                                   *

Untuk jelasnya, kekuatan politik demokratis, kekuatan politik yang
sungguh-sungguh bercita-cita dan memperjuangkan Reformasi, lahirnya bukan
baru kemarin dulu. Kekuatan politik tsb, lahir bukan karena dibidani ataupun
karena dipelopori oleh sementara tokoh politik, atau tokoh pemimpin yang
punya karisma dan wibawa. Gerakan reformasi dan demokrasi  lahir dan
berkembang,  bukan karena adanya seseorang pemimpin  yang kebetulan punya
hubungan keturunan dengan sementara para �founding fathers� dari nasion dan
NKRI kita, atau karena punya hubungan keturunan dengan tokoh golongan
manapun, di masa lampau. Lebih benar, bila dikemukakan bahwa para tokoh
politik dan elite dewasa ini yang punya motivasi reformasi dan demokrasi,
yang menjadi populer dan dapat dukungan masyarakat yang luas, termasuk
pimpinan nasional seperti presiden Gus Dur dan wapres Megawati; mereka itu
justru adalah produk yang wajar dari lahir dan berkembangnya kesadaran
gerakan politik demokratis itu. Bukan pemimpin yang melahirkan gerakan,
tetapi gerakan itu sendiri yang telah melahirkan pimpinannya.

                                                                      *

Untuk jelasnya juga, �Golkar� dan sementara parpol lainnya, termasuk para
pimpinan parpol-parpol baru yang menyuarakan reformasi dan demokrasi, belum
lama, peranan mereka dalam perpolitikan Indonesia, adalah sebagai penunjang
dan pembela setia dari Orde Baru. Adalah baik dan berguna  untuk selalu
menyegarkan kembali ingatan kita, bahwa �Golkar� adalah suatu kekuatan
politik sejak zaman pemerintahan Sukarno, yang berlindung di balik nama
�golongan karya�. Sejak berdirinya Orba, �Golkar�, meskipun masih
menggunakan nama �golongan karya�,  telah tampil sebagai parpol yang
disahkan, direstui, didukung, dibina dan dibibiayai oleh penguasa. �Golkar�
jelas sekali,  adalah instrumen politik Suharto dan Orba, yang berperanan
sebagai �kuda tunggang�, dan orang-orangnya  sekaligus berperanan sebagai
�kuda troya� penguasa.�.  �Golkar� adalah �kuda troyanya� ABRI. Masih
mengiang ditelinga banyak orang, ucapan Jendral Hartono pada masa Orba,
bahwa kader ABRI adalah kader �Golkar�. Kenyataannya memang begitu!

Sekarang ini, mendadak sontak �Golkar� bergaya dengan memamerkan dirinya
sebagai parpol yang �kritis� terhadap pemerintahan. Dibilang bahwa �Golkar�
sudah berubah. Katanya tugas �Golkar� a.l. adalah untuk mengawasi jalannya
pemerintahan. �Golkar� menampilkan dirinya sebagai parpol yang mewakilli
kepentingan umum, kepentingan rakyat dan negara. Syukur alhamdulillah,
memori masyarakat kita tentang �Golkar� dan Orba tidaklah sependek yang
diperkirakan dan diharapkan oleh para elite �Golkar�.

Bisakah dilupakan bahwa �Golkar� sepenuhnya ikut bertanggungjawab atas
beleid politik Orba yang telah menjerumuskan bangsa dan negara ke jurang
kebangkrutan ekonomi dan finansil? Bisakah dilupakan bahwa salah satu dari
penyebab terbesar dari kebangkrutan ekonomi kita, adalah  koruptor,
pencoleng kekayaan negara, yang terbesar era ini,  mantan presiden Suharto?
Bukankah Suharto adalah  embah dan pelindung serta pembina dari �Golkar�?
Sungguh menakjubkan sikap Akbar Tanjung dan �Golkar�-nya,  yang baru-baru
ini menuntut kepada pemerintahan Gus Dur untuk dalam waktu kurang dari
setahun, bisa membereskan  ekonomi Indonesia , yang akar kebobrokannya
terletak pada beleid Orba-Golkar selama lebih dari 32 tahun. Sungguh
membikin orang geleng-geleng kepala, bagaimana politik kekerasan Orba/Golkar
selama puluhan tahun telah menimbulkan kekerasan vertikal dan horizontal
dimana-mana, seperti di Aceh, Maluku, Papua dll, yang kesemuanya harus
ditanggulangi oleh pemerintahan Gus Dur dalam waktu singkat. Yang paling
tidak masuk akal dan arogan sekali, adalah sikap �Golkar� dan
alians-aliansnya, yang dengan seenaknya , menggeserkan  tanggungjawab dari
situasi letupan-letuan kekerasan tsb pada pemerintahan Gus Dur dan Mega
yang, nota bene, usianya  baru 10 bulan.

                                                                         *

Kekuatan utama politik �Statusquo� yang langsung berhadap-hadapan
kepentingan dan tujuan, dengan kekuatan politik Reformasi dan Demokrasi,
adalah �Golkar�, para pendukungnya di pelbagai lapisan pemerintahan, militer
dan birokrasi, beserta para alians-aliansnya yang terdapat di dalam pelbagai
parpol yang lama maupun yang baru. Tajam dan sengit-nya perbedaan
kepentingan antara kekuatan �Statusquo� dengan kekuatan politik Reformasi
dan demokrasi, dalam pengertian tertentu, mencerminkan perbentrokan  antara
�masa silam� dengan �haridepan� dari bangsa dan negara kita.
                                                                          *

Maka wajarlah dipertanyakan apakah pertentangan politik tsb, yang pada
dasarnya begitu besar dan berakar, harus diselubungi dan  didamaikan?
Haruskah pertentangan itu dikompromikan? Kalau pertentangan itu begitu
fundamentilnya, seperti yang terjadi sekarang ini: Apakah mengkompromikan
dan  mendamaikan prinsip-prinsip yang dibela masing-masing , akan
menguntungkan perkembangan gerakan reformasi? Apakah tidak malah menghambat
kewajaran dari perkembangan reformasi dan demokrasi? Apakah dengan
menutup-nutupi pertentangan yang wajar itu, kondusif dengan kehendak untuk
menciptakan suatu masyarakat yang transparan?
                                                                          *

Pemerintahan Suharto telah tumbang. Mantan presiden Suharto sebentar lagi
akan dihadapkan ke pengadilan untuk praktek korupsinya yang meliputi
milyardan dolar AS. Pemerintahan Habibie juga sudah tiada. Perkembangan ini
menggembirakan. Ini hasil positif dari perjuangan itu sendiri.

Harus diakui bahwa sebagai hasil dari gerakan Reformasi dan Demokrasi
sementara hak demokrasi telah terrealisasi. Seperti kebebasn menyatakan
pendapat, kebebasan pers, kebebasan berorganisasi sampai membentuk partai
politik, dsb. Juga mengenai HAM sudah mulai dibincang-bincangkan dan
diseminarkan secara cukup luas.  Komnasham juga tampak melakukan
kegiatannya, meskipun masih jauh dari yang diharapkan. Masih terlalu sedikit
yang telah diprestasikan Komnasham. Yang memilukan adalah kenyataan bahwa di
kalangan pimpinan Komnasham masih ada pandangan yang mengkotak-kotakkan dan
memperiodisasi pembelaan HAM secara artifisial pada masa tertentu saja.
Ambil contoh: Kalau sudah menyangkut kasus pembantaian besar-besaran pada
tahun �65, �66, �67 , serta kasus pendiskriminasian di bidang
sosial-politik-ekonomi oleh Orba terhadap para keluarga korban pembantaian
65 itu, dan orang-orang tak bersalah yang dituduh terlibat dengan G30S, maka
Komnasham angkat bahu dan angkat tangan. Itu bukan wewenang kami, cetus
mereka. Kami hanya berurusan dengan pelanggaran HAM yang berlangsung
baru-baru ini saja, kata salah seorang pimpinan Komnasham.  Suatu sikap
birokratis yang membikin Komnasham jadi mandul.

Terbentuknya pemerintahan �koalisi nasional� sesudah pemilu, yang
dipresideni oleh Gus Dur dengan Megawati sebagai wapres, ternyata tidak
mendatangkan harmoni, ketenangan dan kestabilan politik seperti yang
diharapkan. Meskipun pemerintah koalisi nasional, personil-personilnya
katanya dijamin oleh empat tokoh politik dan seorang tokoh militer ketika
itu, namun tokh tidak membuatnya menjadi kokoh dan stabil.

Adapun sebab-musahababnya mungkin bisa dilacak pada keadaan berikut ini:

Struktur birokrasi pemerintahan sekarang  ini, cara-kerjanya, mekanismenya
serta personil-personilnya, boleh dibilang sebagaian besar masih mengikuti
cara lama. Sama seperti praktek birokrasi di zaman Orbanya Suharto maupun
Orbanya Habibie. Keterlibatan mereka-mereka itu dengan korupsi, nepotisme,
manipulasi, rekayasa, provokasi, kekerasan dan sara, masih berlangsung
terus. Segala sesuatu nampaknya seperti dulu saja. Masih terlalu banyak
segala sesuatu �disetir� oleh �orang-orang lama�. Yang begini ini, termasuk
juga di kalangan sementra menteri dari kabinet Reformasi Gus Dur, yang
sering dikatakan adalah kabinet �koalisi nasional�. Praktek-praktek yang
serupa juga terjadi di kalangan para anggota Dewan dan Majlis yang terhormat
sekarang ini. Betul, sebagian terbesar dari anggota Dewan adalah hasil
pemilu yang jurdil. Maka, seyogianya mereka-mereka itu terikat dan akan
melaksanakan dengan sungguh-sungguh janji-janji yang mereka lakukan pada
waktu kampanye pemilu, mengenai pelaksanaan reformasi, demokrasi dan HAM,
serta komitmen mereka mengenai pembentukan pemerintahan yang bersih.

Amat disayangkan, apa yang tampak dilakukan oleh para anggota Dewan dan
Majelis yang terhormat itu, khususnya masing-masing ketuanya, Akbar Tanjung
dan Amien Rais, memberikan gambaran bahwa mereka lebih peduli pada urusan
memupuk imago masing-masing. Mereka lebih peduli dengan memupuk dan
memperkuat diri di jenjang kekuasaan, mengabdikan fungsinya lebih banyak
untuk kepentingan golongan dan diri sendiri. Mereka tampak aktif dan
berinisiatif sekali dalam usaha untuk menggembosi kewibawaan dan wewenang
presiden Gus Dur, ketimbang memeras otak, aktif dan berinisiatif dalam
mencari jalan bagaimana bisa keluar dari keadaan bangsa dan negara yang
serius dewasa ini.

Cobalah diingat-ingat kembali, adakah terdengar DPR mengajukan usul kongkrit
dan serius, yang benar-benar bisa dilaksanakan oleh seluruh bangsa, untuk
mengatasi keadaan ekonomi yang sulit. Adakah DPR terdengar mengajukan usul
kongkrit untuk mengakhiri masa  kekerasan dan kemacetan di Aceh, Maluku,
Papua dll? Adakah kita mendengar DPR atau MPR mengajukan ide atau usul
kongkrit,. bagaimana mengadili penanggungjawab utama atas pelanggaran HAM,
mantan presiden Suharto, serta gembong-gembong militer yang terlibat, di
suatu tribunal nasional, untuk menegakkan keadilan?  Kasus-kasus  yang belum
begitu lama  terjadi, seperti kasus penyerbuan kantor PDI pada tanggal 27
Juli 1994 dan  kekerasan Mei 1998, tidak pernah dijamah oleh DPR maupun MPR,
dalam rangka penegakkan �rule of law� dan memberlakukan HAM.

Yang paling mengenaskan dan paling celaka ialah, masih bercokolnya pada
mereka-mereka itu mentalitias, moralitas serta budaya KKN Orba.

Di segi lain, usaha keras presiden Gus Dur untuk secara kongkrit mengatasi
problim-problim yang dihadapi oleh bangsa dan tanah air, untuk keluar dari
ancaman separatisme yang hendak memecah-belah NKRI, untuk memperoleh kembali
kepercayaan internasional, hampir tidak memperoleh sambutan yang positif
dari para anggota Dewan dan Majlis. Langkah-langkah presiden Gus Dur untuk
mengakhiri era berdominasinya �Dwifungsi ABRI�, menegakkan supremasi hukum
dan supremasi sipil, juga tidak dinilai sebagaimana seharusnya. Yang
mereka-mereka itu hebohkan, ialah soal-soal sampingan, seperti tuduhan
keterlibatan Gus Dur dalam apa yang dinamakan �Buloggate� dan tuduhan
tentang ketidak jujuran Gus Dur mengenai kasus sumbangan Sultan Brunei. Juga
berkali-kali dipersoalkan dan digugat hak prerogatif presiden untuk
mengangkat dan menghentikan menteri-menter pembantu presiden dan
pejabat-pejabat tinggi negara lainnya.

                                                                 *

Menyadari betapa bertolak belakangnya kepentingan politik antara kekuatan
�Reformasi dan Demokrasi� dengan kekuatan �Statusquo�, bisa diantisipasi
bahwa pertarungan antara kedua kekuatan itu tidak akan berhenti, dan tidak
mungkin berhenti, meskipun andaikata berlangsung pertemuan para tokoh
nasional, yaitu Gus Dur, Megawati, Amien Rais dan Megawati, untuk
berbincang-bincang mengenai masalah nasional, seperti yang diusulkan oleh
Sultan Hamengkubuwono X Di satu fihak karena Gus Dur sebagai presiden kepala
negara berniat untuk meneruskan usaha Reformasi dan Demokratisasi dalam
praktek kongkrit, di lain fihak kekuatan �Statusquo� mati-matian hendak
mempertahankan keadaan statusquo.

Perlu difikirkan betul, oleh para tokoh masyarakat, kaum cendekiawan, para
penanggungjawab LSM dan parpol, mahasiswa dan kaum muda, dan media pers,
apakah tidak sebaiknya perbedaan yang ada antara kedua kekuatan itu,
dibeberkan secara tuntas dan transparan ke hadapan rakyat. Tidak peduli,
dalam wadah yang bagaimana  hal itu dilakukan. Bisa di DPR, MPR dan juga di
hadapan media cetak maupun elektronik.Bisa menciptakan mimbar-mimbar
demokrasi yang terbuka.  Yang penting ialah agar menjadi jelas bagi rakyat,
apa sebenarnya yang jadi soal yang disengketakan oleh para elite politik
dewasa ini.

Mengikut sertakan seluruh masyarakat dalam mempersoalkan nasib bangsa,
memeras otak mencari jalan keluar, rasanya ini adalah suatu cara yang baik
dalam kita menyongsong Hari Proklamasi Republik Indonesia yang ke-55
mendatang ini.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Aug 2000 jam 04:45:06 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke