---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Tolong di Terjemahkan dan Propagandakan Ke Tingkat Internasional LEMBAGA STUDI DAN ADVOKASI HAK ASASI MANUSIA (ELS-HAM) Institute for Human Rights Study and Advocacy (Ihrstad) Jl. Kampus STTJ - Padang Bulan, Jayapura - PAPUA BARAT Tel/Fax: 62-967-581600; email: [EMAIL PROTECTED] SIARAN PERS Jayapura, 1 Agustus 2000 Penanganan Pengungsi Ambon di Papua dan Konflik Maluku : ELS-HAM PAPUA PROTES KERAS Pro Kontra Sudah ada sekitar 20.000 pengungsi asal Maluku dan Maluku Utara berada di Papua Barat sejak Januari 1999 lalu perang saudara berkecamuk di negeri lada itu. Kehadiran ribuan pengungsi tersebut menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Masyarakat Papua khawatir kehadiran mereka bisa menimbulkan persoalan baru atau memperlebar perang saudara tersebut di Papua. Tetapi juga karena selama ini pihak Pemerintah, baik pusat maupun daerah hanya lelap saja dengan persoalan Maluku dan Maluku Utara. Ribuan pengungsi yang membanjiri Papua Barat tidak ditangani serius. Selama ini hanya gereja-gereja, rakyat Papua dan LSM - lah yang menangani mereka. Pengalaman inilah yang kemudian berimplikasi terhadap kedatangan 2.150 pengungsi Ambon di atas KM Dobonsolo di Papua beberapa hari yang lalu. Meskipun pada akhirnya pihak Pemda Papua Barat setuju menerima pengungsi, ELS-HAM Papua Barat merasa penting menyampaikan sikapnya terhadap penanganan pengungsi dan masalah Maluku. Kondisi Pengungsi dan Sikap Pemda Papua Senja semakin gelap. Pasukan anti huru hara dari TNI dan POLRI berpakaian lengkap maupun satgas Papua yang memegang parang, kapak, panah dan tombak lalu lalang. Dua bocah ingusan asal Ambon duduk sambil menangis, gementaran, wajahnya memancarkan ketakutan mendalam. Ketika namanya ditanya, keduanya menangis dan tergagap menjawab : Lisa Nussy (11) dan adiknya Wisye (7). Ayah ibunya menitipkan mereka kepada 'orang tua-tua' ke mana saja mereka kelak diserahkan supaya bisa sekolah. "Pergilah mencari sekolah. Bila Tuhan menghendaki, kita akan bertemu!" kata ayahnya lalu kembali ke Ambon untuk berperang. Dua bocah itu lalu diselamatkan oleh seorang pria tua dari Hamadi - Jayapura. Di tempat terpisah, seorang ibu yang baru turun dari kapal dan hendak menaiki truk TNI AL, dihardik oleh Satgas Papua dan dipaksa untuk segera kembali ke kapal. Bayinya diambil oleh seorang Satgas sedang satgas lain menyeret si ibu kembali ke kapal. Ketika si ibu menangis histeris sebagai protes, sang satgas membentaknya "Kalau mau menangis, menagislah di atas kapal Dobonsolo!" Ibu itu pun dipaksa naik, tepat ketika lonceng gereja GKI Pengharapan berdentang tiga kali untuk ibadah minggu malam. Kedatangan KM Dobonsolo di Jayapura dari minggu 30 Juli 2000 yang menurut informasi Administrasi Pelabuhan Biak membawa 2.150 pengungsi terdiri dari ibu-ibu, anak-anak, nenek-nenek, orang jompo dan anak-anak muda memang menimbulkan ketegangan. Kondisi mereka sebagian besar sangat mengenaskan. Dokter Daniel Untoriohadi mengatakan setiap hari menerima 20 orang pasien yang mengalami berbagai penyakit, baik yang disebabkan kondisi kapal maupun depresi. Banyak pengungsi diserang penyakit ispa dan diare. Ny. Elizabeth Ririhatuela (38), asal Way, Ambon, melahirkan di atas kapal dalam pelayaran dari Sorong ke Manokwari. Nyonya Elizabeth masih dirawat di klinik KM Dobonsolo ditemani oleh dua tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil. Pasien lainnya, Ny. Marlin Taberima (25) mengalami shock hingga pingsan. Bahkan, ketika hendak memasuki pelabuhan Manokwari (28/7/2000), ibu Yohana (65) meninggal dunia karena serangan jantung dan dehidrasi. Rata-rata pengungsi mengalami tekanan mental yang parah. Dan mereka tanpa harapan. "Jika saudara-saudara kami di Papua menolak kedatangan kami, maka hanya ada dua pilihan bagi kami : kembali ke Ambon untuk mati atau mencari negara lain yang mau menerima kami. Kami mohon maaf kepada saudara-saudara di Papua jika kedatangan kami mengganggu ketenteraman tanah Papua," kata Hangky Hattu, seorang aktivis LSM yang ikut mengungsi. Kepasrahan dalam keadaan mengenaskan ini menyusul sikap Pemda Papua yang menolak menerima kedatangan pengungsi. Dermaga umum diduduki pihak TNI dan Brimob mencegah sementara kapal yang tiba pada pukul 09.00 tidak dapat merapat. Satgas Papua menjaga ketat dermaga TNI AL. Pada pukul 13.00 WIT, para penumpang diturunkan melalui kapal-kapal kecil lainnya tanpa memperhatikan prosedur keselamatan. Barang-barang bawaan diturunkan melalui tali. Beberapa penumpang nekad mencebur diri ke laut lalu ditolong dengan perahu. Sampai pukul 06.00 seluruh penumpang tujuan Jayapura dan penumpang Sorong yang terikut ke Jayapura sudah berhasil diturunkan. Keputusan mendadak diambil untuk menurunkan ibu-ibu dan anak-anak yang membutuhkan pertolongan segera. Keputusan ini nyaris menyulut konflik baru dengan satgas Papua yang menilai itu sebagai penyimpangan terhadap keputusan awal. Dari empat kali rapat koordinasi dengan berbagai komponen masyarakat di Jayapura (27-28/7/2000) disepakati bahwa kehadiran pengungsi harus ditangani dengan memperhatikan berbagai dimensi. Jika semata-mata memperhatikan aspek kemanusiaan, maka dikuatirkan bahwa pemerintah pusat akan cuci tangan. "Persoalan Maluku adalah ekses dari konflik politik di tingkat pusat yang harus segera diselesaikan oleh Presiden Gus Dur, Wapres Megawati, Ketua MR RI Amien Rais, dan Ketua DPR RI Akbar Tanjung. Jika Papua begitu mudah menerima pengungsi tanpa mendesak pemerintah pusat untuk menyelesaikan masalah ini, maka Papua akan menjadi daerah tujuan pengungsi. Bersama mereka akan menyusup pula provokator yang bisa mengakibatkan peristiwa Ambon jilid II di Papua. Pada hal orang Papua sendiri juga sudah sangat menderita akibat persoalan DOM di masa lalu. Kita sebaiknya berhati-hati menangani masalah pengungsi, sebab jika tidak, maka masalah utamanya bukan saja tidak terselesaikan melainkan juga bisa menciptakan masalah baru di Papua," demikian dikatakan Wagub III Papua Brigjen TNI Atururi yang juga mengikuti pencalonan gubernur Papua. Maka disepakati bahwa KM Dobonsolo akan "disandera" bersama para pengungsi di Jayapura sampai pemerintah pusat mengambil sikap tegas bagi penyelsaian kasus Ambon. Hal serupa akan dilakukan terhadap KM Rinjani yang menurut jadwal akan merapat di Jayapura pada hari Senin, 31 Juli 2000. Pertimbangan soal provokator pun beralasan. Daniel Untoriohadi, dokter kapal, juga menceritakan peristiwa mengenaskan yang dialaminya. Seusai kaum muslim menunaikan ibadah subuh delepas kapal bertolak dari Biak ke Jayapura (29/7/2000), para pengungsi yang umumnya beragama nasrani menciderai 6 orang kaum muslim. Seusai menolong para korban, sejumlah pengungsi mendesak masuk, menendang si dokter, memukulinya, menodongnya dengan kapak dan pistol dan mengancamnya untuk tidak lagi menolong kaum muslim. Bahkan ketika menggeledah sejumlah penumpanng yang berhasil diturunkan dari kapal, Satgas Papua menemukan 3 pucuk pistol, 7 senjata rakitan dan 8 senjata tajam. Hal-hal inilah yang sangat dikuatirkan akan menyulut konflik di Papua. Sikap ELSHAM ELSHAM melihat bahwa para pengungsi, terutama ibu-ibu, anak-anak, dan orang tua berhak mendapatkan perlindungan dan pelayanan yang layak bagi kemanusiaan. Mereka, adalah rakyat sipil tidak berdosa yang menderita akibat percaturan kepentingan politik di tingkat elite, baik di Jakarta maupun di Ambon yang lari dan menyelamatkan diri dari situasi perang. Selayaknya mereka ditolong tanpa mempedulikan latar belakang suku, agama, dan persoalan yang dihadapi. Sekaligus dengan itu ELSHAM melihat pula bahwa penanganan persoalan pengungsi masti mencakup pula upaya untuk menuntaskan perang yang sedang berkecamuk. Oleh sebab itu, maka : * ELSHAM Papua Barat Memprotes Keras sikap Pemda Papua yang menolak menerima kehadiran para pengungsi demi pertimbangan politik. ELSHAM juga mengecam keras perlakuan Satgas Papua yang menangani kedatangan para pengungsi dengan perlakuan tanpa peri kemanusiaan. Perlu disadari bahwa hak para pengungsi untuk mendapatkan pelayanan kemanusiaan ada dan dilindungi baik dari sisi agama, moral dan hukum apa pun latar belakang persoalannya. * ELSHAM mendesak lembaga-lembaga kemanusiaan dan keagamaan baik di Papua Barat, maupun di Jakarta, baik lembaga nasional maupun internasional seperti UNHCR untuk sesegera mungkin melakukan pelayanan kemanusiaan bagi para pengungsi tanpa membedakan latar belakang primordial. ELSHAM juga mendesak pihak POLRI dan TNI untuk melakukan pemeriksaan serius untuk menemukan senjata-senjata yang dapat mengancam situasi keamanan di Papua. * ELSHAM mendesak pemerintah pusat untuk segera menuntaskan persoalan Maluku dengan mengijinkan intervensi masyarakat internasional, khususnya 'Humanitarian Intervension' untuk membantu warga masyarakat sipil yang sudah sangat menderita akibat perang saudara yang terus berkecamuk. Janganlah isu 'Kedaulatan Negara', prasangka buruk dan berbagai alasan lainnya menjadi tembok yang mengeraskan hati dan membutakan bangsa Indonesia dari penderitaan yang sedang dialami sesama manusia di Maluku. Semoga Masalah Maluku dapat cepat diselesaikan agar ada damai yang memungkinkan pengungsi kembali membangun negerinya yang porak poranda akibat perang.(@) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 2 Aug 2000 jam 04:29:34 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
