---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Pengakuan Tiga Tersangka Utama kepada Polisi. Jenderal H, Otak Pembantaian di Poso Media Indonesia - 9 Agustus 2000 PALU (Media): Tiga tersangka utama kasus Poso berdarah yang menjalani pemeriksaan terpisah di Mapolda Sulawesi Tengah hari Selasa (8/8) kembali mengungkap nama seorang jenderal yang berada di balik pembantaian warga dan pembumihangusan rumah-rumah korban di Kabupaten Poso. Jenderal berinisial H menurut tersangka Fabianus Tibo (57), Dominggus Soares (37), dan Marinus Riwu (43) itu berperan sebagai aktor intelektual di balik pertikaian berdarah itu. Dalam pemeriksaan sebelumnya, ketiga tersangka yang dikenal sebagai tokoh sentral perusuh bersenjata api di kabupaten penghasil kayu hitam (eboni) ini mengungkapkan dua nama jenderal terlibat dalam pertikaian berdarah di daerah itu yakni berinisial R dan T. Kaditserse Polda Sulteng Supt Andi Ahmad Abdi kepada Antara sesuai pemeriksaan terhadap ketiga tersangka, membenarkan nama H disebut-sebut sebagai salah seorang konseptor penyerangan kantong-kantong permukiman muslim di lima kecamatan dalam wilayah Kabupaten Poso, termasuk di Kota Poso sendiri. "Anggota saya melaporkan bahwa Tibo Cs menyebut-nyebut nama H sebagai aktor intelektual," katanya dan menolak merinci lebih jauh . Bahkan masih menurut para tersangka, jenderal ini selain merencanakan pembantaian warga dan pembumihangusan rumah-rumah penduduk, juga merencanakan seluruh wilayah Kabupaten Poso untuk dikuasai umat kristiani. Menurut Abdi, meskipun para tersangka mengaku hanya sebagai orang suruhan dari sejumlah jenderal, termasuk H, namun informasi yang disampaikan mereka itu ternyata bertolak belakang dengan keterangan sejumlah saksi yang didatangkan polisi. "Pengakuan Tibo, Soares, dan Riwu yang menyebutkan bahwa mereka tidak mengetahui peristiwa pembantaian di Pondok Pesantren Walisongo (9 km selatan Kota Poso) bertentangan dengan keterangan sejumlah saksi korban yang menyebutkan justru ketiga orang ini yang memimpin pembantaian tersebut," katanya. Sementara itu, Kadispen Polda Sulteng Ass Supt Ismail Bafadal menjelaskan saat para tersangka dipertemukan dengan sejumlah saksi korban di `ruang khusus`, kontan semua mereka menunjuk diri Tibo, Soares, dan Riwu sebagai pimpinan pasukan Kelompok Merah yang membantai penghuni Ponpes Walisongo. "Adanya sikap spontan dari para saksi korban ini membuat polisi meragukan keterangan ketiga tersangka yang sebelumnya disampaikan kepada penyidik," ujarnya. Wajah Tibo yang sejak awal penyidikan tampak biasa-biasa saja serta sangat kooperatif menjawab pertanyaan polisi, justru saat itu tiba-tiba berubah total. "Pokoknya sejak dipertemukan dengan para saksi korban, Tibo mulai memberikan jawaban berbelit-belit, bahkan terkesan menutup-nutupi perbuatannya," tutur Bafadal. Bupati Poso Abdul Muin Pusadan yang dihubungi secara terpisah mengatakan dengan tertangkapnya tiga pimpinan perusuh bersenjata api di daerahnya itu mulai melegakan masyarakat setempat, bahkan para warga Poso sebelumnya eksodus ke berbagai daerah di Pulau Sulawesi mulai berangsur-angsur kembali.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 10 Aug 2000 jam 08:25:53 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
