----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

ISTIQLAL (16/08/2000)# SUMBANGAN LATIEF DAN HERMAWAN SULISTYO BAGI
PEMBUKAAN TABIR SEKITAR G.30-S

Oleh: Sulangkang Suwalu

        Dalam beberapa bulan ini muncul dua buah buku baru, yang  mengungkap
tabir sekitar G.30-S, yang selama 32 tahun ditutup-tutupi Presiden
Suharto. Buku-buku tsb ialah: "Suharto Terlibat G.30S" yang berisi
pembelaan Kolonel Latief di depan Mahmilti II Jawa Bagian Barat pada
tahun l973. Dan yang kedua buku "Palu Arit di Ladang Tebu" (sejarah
pembantaian massal yang terlupakan), disertasi Hermawan Sulistyo di
Arizona University.

SUHARTO PANGLIMA G.30-S DAN BERHASIL
        Dengan membaca buku pembelaan Latief, dapat diketahui betapa akrabnya
hubungan Latief dengan Suharto, bukan hanya karena Kolonel Latief
bekas anak buah Suharto, tetapi juga hubungan persahabatan yang begitu
kental. Antara kedua keluarga saling kunjung mengunjungi, bahkan
ketika Suharto pindah ke Jakarta untuk memangku jabatan Panglima
Kostrad, Kolonel Latief lah yang mengadakan dan menyediakan
perumahannya.
        Dari hubungan yang begitu eratlah, Kol. Latief sampai pada kesimpulan
bahwa Suharto loyal terhadap kepemimpinan Presiden Sukarno.
        Menurut Kol. Latief ia datang ke RSPAD 30 September 1965 malam (pukul
21.00) untuk melaporkan rencana operasi G.30-S yang akan dilancarkan
dini hari 1 Oktober 1965, guna menggagalkan rencana kudeta Dewan
Jenderal kepada Presiden Sukarno. Tujuan Kol. Latief mendatangi
Suharto, supaya sewaktu-waktu akan minta bantuan Suharto. Ia melapor
kepada Suharto atas permintaan Brigjen Supardjo dan Letkol Untung.
        "Saya mempercayai kepemimpinan beliau. Seandainya berhasil
menggagalkan usaha coup d'etat Dewan Jenderal, beliaulah yang terpilih
sebagai Pimpinan, sebagai pembantu setia Presiden Sukarno. Tetapi
situasi cepat berubah yang tidak bisa saya jangkau waktu itu. Beliau
yang kami harapkan menjadi pembantu setia Presiden/Mandataris/Pangti
menjadi berubah memusuhinya." Dengan kata lain, Kol. Latief mendekati
Suharto dengan rencana untuk menggunakan Suharto bilamana diperlukan,
akan tetapi dalam kenyataan gerakan Latieflah yang digunakan Suharto
untuk berhasil menggulingkan Presiden Sukarno dari kekuasaannya.
        Akibat kekeliruan penilaian Latief tsb, Suharto berhasil menjadi
penguasa di Indonesia selama 32 tahun, dengan didahului pembantaian
massal.
        Bagaimana juga sukar dihindari timbulnya kesan bahwa gerakan Latief
terhadap G.30-S sebenarnya merupakan bagian dari strategi besar
Suharto untuk menggulingkan Presiden Sukarno dari kekuasaannya. Kesan
ini timbul, di antaranya karena:

1. A.L. Soengkowo, mantan perwira CPM yang menjadi pelaku dalam
gerakan Latief, melalui buku kecilnya "Operasi Subuh September 65".
Latief mengatakan bahwa Suharto sudah mengetahui akan adanya G.30-S,
secara langsung atau tidak ia terlibat di dalamnya. Akan tetapi apa
yang diomongkan Latief merupakan manuver agar ia dikatakan bukan
orangnya Suharto dan lepas dari penilaian negatif serta kutukan dari
sesama rekan-rekan pelaku gerakan.

2. Pen-demisioneran kabinet oleh Dewan Revolusi itu hanyalah sebuah
rekayasa permainan tingkat tinggi untuk memberi dalih bagi Suharto,
untuk menuduh G.30-S melakukan kudeta. Bukan dirinya yang melakukan
kudeta. Karena dalam prakteknya memang tidak terjadi pendemisioneran.
Buktinya, Brigjen Supardjo pada 1 Oktober 1965 pagi hari melapor
kepada Presiden Sukarno di Halim, tentang apa yang terjadi dini hari 1
Oktober 1965 tsb. Padahal Presiden Sukarno tidak termasuk dalam forma
di Dewan Revolusi.

3. Sejalan dengan dilaporkannya rencana G.30-S di RSPAD 30 September
malam, maka daerah Kostrad di Merdeka Selatan tidak diawasi pasukan
G.30-S. Yang diawasi hanya daerah lain saja. Hal demikian tidak
mungkin akan terjadi bila tidak ada understanding antara pimpinan
G.30-S dengan Panglima Kostrad.

        Mungkin karena itulah, maka Sawito ketika peluncuran buku Kolonel
Latief di atas tanggal 17 Mei yang lalu mengatakan, sesungguhnya
Suharto itu adalah Panglima G.30-S sekaligus Panglima Kostrad. Karena
itu mudah dimengerti bila Sunardi SH mengatakan: coup de'tat G.30-S
yang dikatakan gagal, justru berhasil dengan baik, sesuai dengan
rencana lebih dulu, telah diatur dan diperhitungkan dengan cermat,
yaitu menjatuhkan kekuasaan Presiden Sukarno sebagai pemegang
pemerintahan yang sah (Lihat Kehormatan Bagi yang Berhak, hlm: l51).
        Ya, Sukarno sudah terguling, PKI telah hancur. Suharto di puncak
kekusaan. Sekarang marilah kita amati tulisan Hermawan Sulistyo.

PERANAN MILITER DALAM PEMBANTAIAN MASSA 1965/1966
        Hermawan Sulistyo lewat penelitiannya antara lain untuk menjawab:
apakah ada pola pembunuhan yang seragam? Benarkah tentara yang
merancang operasinya?
        YH, seorang pemuda yang punya peranan dalam pembunuhan, dalam buku
Hermawan mengatakan: "Tidak ada pilihan lain, membunuh atau dibunuh.
Tentu saja kami memilih membunuh." Jadi, seakan-akan hendak
digambarkan kepada masyarakat umum, bahwa pembunuhan yang dilakukan
terhadap anggota dan simpatisan PKI, karena mereka hendak dibunuh PKI.
Mereka hanya membela diri. Untuk itulah diciptakan "dokumen" yang
berisi daftar nama tokoh agama yang akan dibunuh.
        Ucapan seorang tokoh yang berperan dalam pembunuhan massal tsb, telah
melahirkan motto di kalangan pengikutnya: "kepruk dulu, persoalan
belakangan. Kalau menang mendapat bunga, kalau kalah mendapati tiang
gantungan."
        Dokumen-dokumen yang berisi daftar semacam itu, kata KH Yusuf Hasyim,
didapatnya dari komandan-komandan militer setempat di desa dan
kecamatan (Lihat Forum Keadilan, No 01, ll/4/99). Setelah sekian lama,
kata Yusuf Hasyim, baru saya sadar, karena dokumen tsb kami dapat dari
tentara. Apakah benar seperti itu? Apakah ini kerjasama kami dengan
ABRI? Tetapi persoalannya adalah siapa memakai siapa dalam menghadapi
PKI.
        Dokumen yang senada, juga ditemui, katanya, di markas PKI yang
terletak di Jl. Kenari-Pasar Paing, Mburengan. Ada kabar burung, kata
Hermawan, para penyerang menemukan dokumen yang menunjukkan
orang-orang komunis telah membuat daftar nama-nama musuh mereka, yang
diduga akan dibunuh di kemudian hari.
        Jadi, pola yang seragam dari para pembunuh ialah mereka membunuh
seakan untuk membela diri. Padahal tidak ada sama sekali mereka hendak
dibunuh, Itu tercermin dengan baiknya dari apa yang dikatakan.
        Hermawan Sulistyo: hampir tidak ada perlawanan sama sekali dari pihak
PKI. Malah salah seorang yang selamat dari pengejaran mengatakan:
tidak ada perintah melawan dari pimpinan partai.
        Memang secara umum bahwa tentara yang merancang operasi pembunuhan
massal tsb, dapat dikemukakan disini, seperti yang diuraikan Hermawan
Sulistyo bahwa pihak Kodim, dan Brigif 16 yang bermarkas di Kediri,
meminta kepada SS, Ketua satu partai di Kediri, untuk mengadakan apel
siagan. Melalui apel siaga itulah penghancuran terhadap PKI, dkk.
        Dalam perkembangannya, pada 14 Oktober 1965, 40.000 orang yang
dituduh PKI, ditangkap oleh tentara. Pada 17 Oktober, Komandan Kodim,
Mkd, memanggil SS. SS ditemani oleh Kapten Sd, kepala Seksi Intelijen
Kodim. Pihak Kodim mengeluh atas pembiayaan untuk itu. Mkd dan Sd
tidak mengerti maksudnya. SS menjelaskan: "Kirimkan mereka kesekolah,
kesukabumi ...ya, bunuh mereka!" Mkd dan Sd terkejut, tetapi setelah
beberapa saat terdiam, ia bertanya: "Tetapi ...bagaimana caranya?" SS
menjawab, hal itu mudah dilakukan. Yang penting, pada prinsipnya Mkd
dan Sd setuju atas usul tsb.
        Para tawanan kemudian dibagi dalam beberapa kelompok untuk dikirim ke
"Lubang Buaya". Para algojo dihubungi, beberapa orang diantaranya
tentara yang berpakaian sipil. Malam-malam para tawanan itu
"disekolahkan". "Murid-murid yang pergi ke sekolah itu", berjumlah
sekitar 15.000 orang dari sekitar 40.000 orang tawanan. Sebanyak
25.000 orang dilepaskan. SS dan Kodim menyebut operasi ini sebagai
"operasi teratur"
        SS memperkirakan, di samping "operasi teratur" ada "operasi tidak
teratur", yang memakan korban 5.000 orang. Jumlah korban seluruhnya
20.000 orang. Operasi tidak teratur terjadi dengan pola lain.
        Tanggal 16 Oktober 1965 apel siaga diadakan pula di Grogol. Setelah
apel siaga, operasi menjalar ke desa-desa dan Kecamatan Satang,
Jengkol, Mbiro dan Bendosari. Di Desa Kepang Pace, hanya satu
laki-laki yang masih hidup. Sisanya dikirim "kesukabumi". Itu berarti
lebih dari 1000 orang dibunuh.
        Dengan meningkatnya suasana yang menakutkan, banyak anggota PKI
meninggalkan rumah mereka dan pindah tidur di pelataran Bioskop
Wijaya, yang berlokasi di depan markas Kodim dan Kepolisian. Dengan
bermalam di tempat itu, mereka mengira bisa terhindar dari pengejaran
dari rumah ke rumah yang dilakukan oleh kelompok Ronda. Tetapi secara
diam-diam, Kodim mengangkut ratusan dari mereka ke perkebunan Sukosewu
untuk "disukabumikan".
        Dengan mencermati hasil penelitian yang dilakukan Hermawan Sulistyo
terhadap pembantaian massal anggota PKI dan simpatisannya di daerah
Kediri dan Jombang sekitar 1965/1966 dapat diketahui betapa dominannya
peranan militer di dalamnya.
        Ya, sepandai-pandai menyembunyikan bangkai di tengah rumah, akhirnya
bau yang busuk akan tercium juga. ***

- ----------------------
SiaR WEBSITE: http://www.minihub.org/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Aug 2000 jam 03:30:46 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke