----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

MPR Khianati Reformasi
Rakyat Indonesia Kecewa

koridor.com [17 Aug, 17:19]

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengkhianati agenda reformasi. Anggota
MPR, lebih mementingkan kompromi politik daripada kepentingan rakyat.
Terbukti, dipertahankannya peran politik TNI/Polri hingga 2009.

Walaupun mayoritas anggota MPR, merupakan hasil pemilu yang demokratis, toh
hasil sidang tahunannya sangat mengecewakan rakyat Indonesia.

Telah terjadi penyimpangan atau distorsi terhadap demokrasi yang dilakukan
oleh elite politik. Demikian terungkap dalam diskusi Kinerja MPR dan
Aspirasi Rakyat, pada Kamis (17/8).

Sebenarnya, rakyat dan mahasiswa, telah melampiaskan ketidakpuasan melalui
aksi unjuk rasa di jalanan, sebagai bentuk penekanan, terhadap anggota
majelis, agar menjalankan kehendak rakyat. Namun, tetap saja seolah
diabaikan.

Namun, menurut anggota MPR dari Fraksi Reformasi, Alvin Lie,
kekurangan-kekurangan dalam sidang tahunan, masih dapat diperbaiki, dan
jangan menganggap Ketetapan (Tap.) MPR terlalu sakral.

"Ketetapan-ketetapan masih dapat direvisi dalam sidang tahunan mendatang
bila memang diperlukan. Asal juga jangan terlalu mudah dan asal ganti
ketetapan, karena hal ini akan menimbulkan instabilitas," tandas Alvin.

Senada dengan Alvin, anggota MPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB)
Effendi Choirie mengatakan, masyarakat harus beri pressure kepada parlemen,
agar jangan sampai terlena dan mengabaikan tuntutan agenda reformasi.

Apalagi saat ini, telah terjadi distorsi agenda reformasi oleh pihak-pihak
tertentu, dan pihak ini merupakan fraksi yang besar dan sangat menentukan
dalam Sidang Tahunan MPR.

Terjadinya distorsi di sidang tahunan, akibat konsensus-konsensus elite.
Misalnya, rencana pencabutan Tap MPR No. 25 tahun 1966 yang bersifat
diskriminatif, tapi malah ditentang pencabutannya.

Padahal, sikap diskriminatif bertentangan dengan prinsip demokrasi. Bahkan
terakhir muncul pula gagasan memasukkan unsur Piagam Jakarta dalam Pasal 29,
dimana penambahan tujuh kata tersebut bersifat sangat diskriminatif, karena
memanjakan saatu pihak tetapi mengingkari keberadaan pihak lain.

Sikap fraksi-fraksi besar di MPR, menurut Efendi Choirie, menghalangi
tuntutan reformasi. "Kami dari F-KB, memang partai besar, namun dibandingkan
dengan fraksi lain, kami kalah dalam pengambilan keputusan, sehingga
akhirnya keputusan sidang mengecewakan rakyat," ujar Effendi.

Sesuai jadwal, Sidang Tahunan MPR akan berakhir Jumat (18/8) besok, dengan
acara mengesahkan hasil-hasil sidang, yang telah menghabiskan biaya lebih
dari 15 miliar rupiah. Sedangkan para anggota majelis, masih menginap di
hotel bintang lima.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 18 Aug 2000 jam 11:36:35 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke