----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http: under construction
Xpos, No 25/III/20-26 Agustus 2000
================================================

TIDAK "PEDE"

(LUGAS): "Rapat melulu...," begitu komentar kebanyakan orang awam
terhadap Sidang Tahunan (ST) MPR kali ini. Momentum yang baru pertama
kali terjadi dalam sejarah politik Indonesia ini, sama sekali tidak
menarik perhatian mereka. Langsung maupun tidak, mereka menganggap
perhelatan bernilai sekitar Rp35 milyar ini tak ada sangkut pautnya
dengan kepentingan orang banyak.

Memang benar. Apalagi menyimak pembahasan yang dilakukan antar para
anggota MPR itu. Menurut Johnson Panjaitan dari Perhimpunan Bantuan
Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI), keberpihakan para wakil
rakyat ini dapat terlihat jelas dari produk-produk hukum yang mereka
ajukan serta tetapkan. Nyatanya, Rancangan Undang-undang (RUU) yang
digarap intensif oleh DPR, bertitik berat pada modal (bisnis) dan
politik (kekuasaan). Kalaupun terjadi pembahasan pada RUU yang
menyangkut kepentingan negara dan orang banyak, yang justru
diuntungkan malah para konglomerat. Misalnya, RUU Serikat Pekerja dan
RUU Perpajakan, khususnya pasal yang memberi amnesti pada konglomerat
penunggak pajak.

Saking kesalnya, tiga aktivis Gerakan Pembaruan Agraria Indonesia
melakukan mogok makan dan bicara karena tak dibahasnya
persoalan-persoalan rakyat, khususnya mengenai pembaruan agraria dan
perbaikan nasib petani dalam ST MPR (14/8).

Amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945 maupun perumusan sejumlah
Tap MPR tentu saja merupakan hal yang penting. Namun, sungguh
disayangkan bila itu semua dilakukan dalam kerangka kepentingan
kelompok semata. Misalnya, upaya untuk menjadikan laporan perkembangan
kerja tahunan presiden menjadi semacam laporan pertanggungjawaban
presiden. Hal-hal demikian hanya menciptakan komplikasi baru pada
kehidupan demokrasi di Indonesia.

Celakanya lagi, tuntutan mahasiswa dan rakyat untuk menghapus "jatah"
TNI/Polri di MPR, ternyata dianggap sepi para wakil rakyat. Mereka
malah mempersilakan TNI/Polri tetap bercokol hingga tahun 2009. Mudah
diduga, partai-partai politik yang ada hendak mendapatkan dukungan
politik tentara supaya lebih kuat posisi tawarnya menghadapi kekuatan
politik lain. Sikap tidak "Pede" (percaya diri, -red.) macam ini,
jelas merugikan proses demokratisasi yang sedang berjalan. Sulit
membayangkan masa depan bangsa, bila para wakil rakyat masih bermental
begini. (*)

=========================================================
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

- -----------------------------------
SiaR WEBSITE:
http://www.minihub.org/siarlist/maillist.html

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Aug 2000 jam 04:46:32 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke