----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Pendukung Militer, Menang
Ketua MPR Amien Rais Seperti 'Bodor'

koridor.com [21 Aug, 7:07]

Pengamat politik dari FISIP UI Arbi Sanit menilai hasil Sidang Tahunan MPR
2000 merupakan kemenangan kelompok status quo pada umumnya, dan pendukung
militer khususnya.

Selain itu dia juga menilai hasil tersebut sebagai pengkhianatan terhadap
perjuangan gerakan reformasi yang mengorbankan jiwa mahasiswa khususnya dan
masyarakat pada umumnya.

"Benar-benar menyedihkan. Sebelum Presiden Soeharto jatuh, dia sudah
berjanji TNI/Polri di MPR/DPR hanya sampai 2004. Sekarang diputuskan sampai
2009. Benar-benar militer meraih sukses luar biasa," tegas Arbi di Jakarta
kemarin.

Pandangan serupa juga ditegaskan budayawan Ayip Rosidi. "Sidang Tahunan MPR
ini merupakan pengkhianatan partai-partai terhadap agenda reformasi yang
dicita-citakan semenjak runtuhnya Orde Baru," tegasnya saat menyambut acara
pemberian ke-12 hadiah sastra Rancage di Auditorium Institut Pertanian
Bogor, Sabtu (19/8).

Penegasan Arbi Sanit dan Ayip Rosidi itu berkaitan dengan putusan Sidang
Tahunan MPR 2000 yang menetapkan bahwa keberadaan Fraksi TNI/Polri di MPR
hingga 2009, sedangkan di DPR sampai 2004. Keputusan tersebut telah
menimbulkan reaksi berbagai kelompok masyarakat yang hampir setiap hari
melakukan unjuk rasa ke Gedung MPR/DPR Senayan.

Selain soal keberadaan Fraksi TNI/Polri di DPR dan MPR, kata Arbi, yang juga
mengganggu perjalanan reformasi adalah penetapan prinsip atau kaidah hukum
nonretro aktif. Artinya, dengan prinsip itu, hukum tidak bisa berlaku surut.

"Jadi, pelanggar HAM yang dulu banyak dilakukan kelompok status quo dan
militer tidak bisa dituntut ke pengadilan. Ini berarti, kepentingan militer
yang dulu banyak melanggar HAM, aman. Demikian juga dengan kelakuan
tokoh-tokoh Orde Baru yang melanggar HAM, tidak bisa dituntut ke pengadilan.
Ini hebatnya," tegas Arbi sinis.

Menurut pengamat politik itu, hasil Sidang Tahunan MPR 2000 ini menunjukkan
para anggota MPR yang terlibat dalam ST MPR tersebut hanya memikirkan
masalah kekuasaan serta bagaimana menjatuhkan presiden atau memeloroti
kekuasannya.

"Mereka sama sekali tidak berpikir memperjuangkan masalah mendasar yang
sedang dihadapi masyarakat yakni masalah ekonomi dan otonomi daerah," tegas
Arbi seraya menambahkan bahwa, kalaupun masalah itu terdapat dalam ketetapan
hasil ST MPR tersebut, porsinya kecil sekali. "Tidak sesuai dengan biaya dan
pengorbanan rakyat yang seharusnya mereka perjuangkan dalam Sidang Tahunan
MPR itu," tambahnya.

Sedangkan Ajip Rosidi menjelaskan keputusan anggota MPR yang `membiarkan`
peran TNI hingga 2009 merupakan pengkhianatan terhadap reformasi.

"Pak Amien (Ketua MPR RI) itu katanya ahli politik, tetapi bicaranya seperti
bodor (melawak) saja. Dia katakan TNI masih diperlukan untuk mempertahankan
negara jika ada serangan dari `luar`. Lho, kok TNI diminta tolong. Itu kan
sudah kewajibannya," ujar sastrawan yang dikenal giat memperjuangkan sastra
daerah itu.

Ayip juga memprihatinkan kondisi bangsa Indonesia belakangan ini, di mana
terjadi banyak peristiwa saling bunuh di beberapa belahan negeri ini.

"Kita sudah mencapai titik nadir kehidupan berbangsa. Baku bunuh sudah
terjadi di negara ini. Padahal perbedaan itu, sabda Rasul adalah suatu
rahmat, yang harus disyukuri," katanya seraya tidak kuasa menahan tangis.

Tudingan MPR mengkhianati reformasi hampir setiap hari didengungkan berbagai
kelompok masyarakat khususnya mahasiswa melalui aksi unjuk rasa ke DPR.
Mereka menuntut agar TNI harus keluar dari lembaga legislatif sampai 2004
dan tidak perlu diperpanjang hingga 2009.

Dalam sidang-sidang sejak di Badan Pekerja (BP) MPR hingga memasuki Sidang
Tahunan, tampak bahwa terutama fraksi-fraksi besar masih menginginkan agar
TNI/Polri tetap berada di MPR hingga 2009. Sedangkan fraksi-fraksi kecil
tetap mendesak agar keberadaan Fraksi TNI/Polri berakhir saja pada 2004.

Adalah Hartono Mardjono, anggota Fraksi Partai Bulan Bintang yang melakukan
interupsi terakhir saat pengesahan hasil-hasil Sidang Tahunan MPR 2000 pada
hari terakhir persidangan 18 Agustus lalu. Dia menolak keberadaan Fraksi
TNI/Polri hingga 2009 dan memberi minderheidsnota (menerima dengan
catatan--red) Tap VII/MPR/2000 tentang Peran TNI dan Peran Polri.

Meski ditentang banyak pihak pengamat politik Dr John N Palinggi mengatakan
dalam kondisi seperti saat ini, peran TNI/Polri masih dibutuhkan terutama
untuk menciptakan kondisi keamanan yang tenang.

"Jujur saja, politisi sipil itu kan hanya ngomong di mana-mana. Tetapi, coba
mengatasi kerusuhan sosial dan politik yang terjadi di Maluku, Aceh, Poso
dan sebagainya. Semua itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan omongan,"
tegas Palinggi.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Aug 2000 jam 07:52:16 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke