----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Presiden Perintahkan Panglima TNI Usut Keterlibatan Oknum Militer

Jakarta (Bali Post) -

Presiden Abdurrahman Wahid tampaknya gerah juga dengan adanya serangkaian
bom yang terjadi belakangan ini, termasuk yang merenggut sedikitnya 15
korban nyawa dan puluhan luka-luka serta kendaraan hancur di gedung Bursa
Efek Jakarta (BEJ) Rabu (13/9) lalu, sehari menjelang pengadilan Soeharto
Kamis (14/9) kemarin. Usai sidang kabinet di Bina Graha, Jakarta kemarin,
Presiden memerintahkan agar aparat segera menindak dengan tegas pelaku
pengeboman tersebut, termasuk apabila ada orang-orang penting yang terlibat
di dalamnya. Bahkan, Presiden juga telah menginstruksikan secara khusus
Panglima TNI untuk membantu kepolisian, khususnya mengusut dugaan
keterlibatan oknum TNI dalam pengeboman tersebut.

Menurut Jaksa Agung Marzuki Darusman usai mengikuti sidang kabinet di Bina
Graha kemarin, dalam mengungkap kasus pengeboman, kerap kali polisi
mengalami rintangan yang sangat besar ketika proses penyidikan telah
mengarah pada dugaan keterlibatan oknum militer. Karena itu, Presiden
memerintahkan Panglima TNI agar turut membantu dan menelusuri siapa-siapa
oknum TNI yang ikut bermain dalam pengeboman-pengeboman tersebut.

Hal senada diungkapkan Sekretaris Kabinet Marsilam Simanjuntak dalam jumpa
pers usai sidang kabinet. Menurutnya, presiden telah menginstruksikan secara
khusus Panglima TNI dan Jaksa Agung untuk mengusut dengan tegas pelaku
pengeboman tersebut. Bahkan, dengan nada agak keras, Presiden mengatakan di
Indonesia ini tidak ada satu pun ''sapi keramat'' yang bisa lepas dari
jangkauan hukum. Termasuk pula dugaan keterlibatan sejumlah orang penting
dalam berbagai kerusuhan di negeri ini.

Marsilam mengakui, dalam sidang kabinet tersebut, Kapolri mengakui sistem
pengamanan kita memang tidak memuaskan, atau tidak memenuhi standar. Karena
itu, presiden memerintahkan Polri agar meningkatkan sistem pengamanan
tersebut, termasuk meningkatkan kinerja intelijen, agar lebih dini mampu
mendeteksi segala kemungkinan kejadian.

Jenis C4 atau C3

Kepala Dinas Penerangan Polda Metro Jaya Supt. Nur Usman mengatakan, bom
yang meledak di areal parkir lantai II gedung BEJ Rabu lalu kemungkinan
jenis C4 atau C3. ''Kalau dilihat dari dahsyatnya ledakan bom itu, berasal
dari bom karet bisa jenis TNT, C3 atau C4. Agaknya ledakan ini sama seperti
yang terjadi di rumah kediaman Dubes Filipina di Jalan Imam Bonjol Jakarta
beberapa waktu lalu. Hanya kekuatan bom ini diatur sebesar 15 kg, sedangkan
di Imam Bonjol seberat 20 kg,'' katanya.

Ia juga mengatakan, bom jenis ini biasa digunakan untuk operasi-operasi
khusus, seperti perang di Bosnia. Namun, ia tidak bersedia berkomentar soal
dugaan keterlibatan militer dalam peledakan BEJ itu.

Untuk mengidentifikasi ledakan di BEJ, kemarin petugas Gegana dan
Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri melakukan penyisiran dan
observasi di sekitar di mana terjadi ledakan. Dari penyisiran ditemukan 10
kantong besar yang akan diperiksa di Labfor. ''Tim Labfor bukan mencari
motif ledakan dan jumlah korban. Kami hanya mencari dari mana sumber ledakan
dan mengumpulkan barang bukti untuk mengetahui asal ledakan,'' tegas Ketua
Labfor Mabes Polri Brigjen Pol. AM Erwin Mapasaeng kepada Bali Post di
halaman gedung BEJ.

Observasi dan penyisiran yang dilakukan timnya telah mencapai 50%, namun
pihaknya enggan berkomentar lebih jauh karena khawatir terjadi
kesalahpahaman terhadap keterangan. ''Tim kami mengalami kesulitan karena
kondisi AC yang masih panas, lampu penerang yang terbatas, genangan air dan
kurangnya oksigen di ruang bawah,'' jelasnya.

Kadispen Polda Metro Jaya Supt. Pol. Nur Usman mengatakan, peledakan bom
bersumber dari mobil sedan tua merek Crown atau Corolla. Terbukti, bagasi
sedan ini hancur total. Tim Labfor hanya menemukan nomor kerangka mesin yang
sudah dirusak oleh pelakunya, dan hanya sisa nomor 21.

Diminta Mundur

Sosiolog Universitas Indonesia Dr. Imam B. Prasodjo mengatakan, masyarakat
secara bersama-sama perlu membangun kesadaran publik dalam menyikapi teror
pengeboman akhir-akhir ini. ''Kita harus membangun empati bahwa pengeboman
ini berdampak real bagi masyarakat,'' katanya. ''Apalagi kasus pengeboman
gedung BEJ itu benar-benar menyusahkan banyak orang, bahkan korbannya
kebanyakan dari kalangan bawah,'' tambahnya.

Ia berpendapat, aksi teror ini harus dihentikan. ''Kita harus menyatakan
perlawanan terhadap perbuatan biadab itu,'' katanya, seraya menambahkan
untuk tidak lagi berkompromi dengan kekuatan lama, yang tampaknya berada di
balik semua ini.

Prasodjo juga mendesak Kapolri melakukan pemaparan publik (public expose)
mengenai kasus-kasus pengeboman ini, agar publik tahu perkembangan terakhir
pengusutan kasus ini. ''Kapolri juga harus memberi penyataan kesanggupan
untuk menyelesaikan kasus ini. Jika tidak mampu, sebaiknya Kapolri mundur
saja,'' katanya.

Namun, anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Golkar Ferry Mursyidan
Baldan tidak setuju dengan pendapat bahwa Kapolri harus mundur jika tidak
mampu menuntaskan kasus ini. ''Yang penting bukan mundur atau tidak mundur,
tetapi kita harus memperbesar tekanan (pressure) publik agar Polri bekerja
sungguh-sungguh dan tidak takut mengusut siapa pun,'' katanya.

Anggota DPR dari Fraksi Bulan Bintang Ahmad Sumargono mengatakan, seharusnya
bukan malah dituntut mundur, tetapi Kapolri sejak lama seharusnya sudah
mengundurkan diri. Sementara Ketua Fraksi PDI-P Arifin Panigoro berpendapat,
mestinya atasan Kapolri menilai dulu kinerja Kapolri, kalau memang dianggap
kurang baik, barulah atasannya yang meminta mundur.

Keharusan

Menanggapi permintaan Presiden kepada Jaksa Agung dan Kapolri untuk mengusut
tuntas kasus pengeboman di BEJ, Ferry Mursyidan Baldan mengatakan,
permintaan itu sudah merupakan keharusan. Menurutnya, permintaan Gus Dur itu
harus dianggap sebagai tekanan bagi Kapolri dan Jaksa Agung untuk bekerja
lebih keras lagi.

Anggota Fraksi PDI-P DPR Sabam Sirait yang ditemui di sela-sela sebuah
seminar di Jakarta kemarin, minta pemerintah sejak awal punya komitmen untuk
menindak pelanggar hukum. Tidak saja soal dugaan pelanggaran hukum yang
dilakukan Soeharto, tetapi juga jenis-jenis pelanggaran lainnya.

Wakil Sekjen DPP PAN Bara Hasibuan mengharapkan polisi segera mengambil
inisiatif guna mencari terobosan baru untuk melakukan investigasi kepada
Soeharto dan keluarganya, berkaitan dengan peledakan bom yang terjadi di BEJ
tersebut.

Ia yakin, peristiwa ledakan bom di BEJ itu ada hubungannya dengan perlakuan
yang diterima keluarga Soeharto belakangan ini, khususnya tentang peradilan
Soeharto.

Pengamat politik J. Kristiadi juga sependapat dengan Bara Hasibuan.
Menurutnya, pasti ada korelasi antara peledakan bom dan pengadilan Soeharto.
Buktinya, tiap akan ada pengadilan Soeharto pasti ada peledakan bom atau
kerusuhan di suatu daerah. Bahkan, akhir-akhir ini muncul pengerahan massa
yang mendukung Soeharto dan menolak mantan presiden itu diadili. ''Mereka
meminta supaya Soeharto tidak diadili dan meminta pemerintah supaya
mengampuninya,'' katanya.

Kristiadi mengakui, aparat pasti akan kesulitan menangkap pelaku dari
peledakan bom tersebut lantaran tidak ada bukti-bukti yang mampu menjerat
pelaku tersebut ke penjara. Namun, Ketua DPR Ir. Akbar Tandjung minta aparat
mesti segera menemukan pelaku pengeboman gedung BEJ tersebut. Pasalnya,
kejadian pengeboman itu sangat mempengaruhi sektor lainnya khususnya bidang
investasi, karena para investor akan menjadi ketakutan menanamkan modalnya
di Indonesia. Yang terpenting, katanya, aktor intelektualnya harus segera
diketahui.

Ketua Komisi II DPR yang membidangi soal hukum Amin Aryoso mengatakan,
meskipun kejadian pengeboman itu bisa saja dikaitkan dengan peradilan
Soeharto, DPR belum berani menyimpulkan pelakunya adalah pendukung Soeharto.
Ia menilai, kalau penegakan hukum terhadap Soeharto masih begini-begini
saja, menandakan pemerintah kurang serius dalam menangani pengadilan
Soeharto. Boleh jadi nantinya, rakyat makin tidak percaya terhadap
pemerintah. Jika hal itu terus berkembang, tindakan anarkis akan dilakukan
rakyat. ''Jaksa Agung pokoknya yang lebih tahu, apa yang harus
diperbuatnya,'' tegasnya.

Aksi teror dua hari lalu itu, menurut Ahmad Sumargono, boleh saja dikatakan
sebuah teror politik yang sengaja dilakukan di tempat umum. Tujuan utamanya
untuk menakuti rakyat dan menekan pemerintah agar tidak meneruskan
pengadilan Soeharto. Namun, katanya, bisa jadi peledakan itu merupakan teori
terbalik buat Soeharto. Bisa saja ada pihak-pihak yang ingin nama Soeharto
jelek dan akhirnya dihukum berat. Makanya ia berkeinginan agar proses
pengadilan Soeharto segera diselesaikan dan selanjutnya status Soeharto
jelas. Teror untuk menakuti rakyat itu tidak berkepanjangan, sehingga jangan
rakyat kembali dijadikan korban.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Sep 2000 jam 09:53:01 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke