---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- PERCIKAN BUDAYA NO.120/IV/2000 [EMAIL PROTECTED] MILITERISME YANG MENGAKAR catatan kecil Aini Patria Beberapa bulan lau, saya membaca Berita Daerah di koran MERDEKA Semarang. Di sebuah sekolah di Wonogiri menurut koran itu ada sekelompok orang tua murid yang mendemo para guru.. Apa pasalnya? Karena guru-guru sekolah itu mengguntingi celana para muridnya, sebab ukurannya tak seperti yang dikehendaki guru mereka. Peristiwa itu tentu menjengkelkan orang tua murid, yang dengan susah payah mencari nafkah dan berusaha membelikan celana anak mereka atas permintaan sekolah itu. Maka para orang tua murid itu berdemo menuntut agar guru-guru itu diseret ke pengadilan. Andaikata rejim Orde Baru masih berkuasa, para orang tua murid itu mungkin tak berani berdemo, kareana mereka akan dituduh PKI. Membaca berita itu saya merasa sedih, berita itu selalu mengganggu pikiran saya. Bahwa militerisme yang digalakkan penguasa Orde Baru dengan ditopang tindakan militerisasi di segala bidang mulai birokrasi (dari presiden, menteri, gubernur, bupati, camat, lurah, sampai bidang olah raga, sampai menteri agama, dsb) saya tahu. Tapi saya tak menyangka bila para guru pun sudah digerogoti ideologi militerisme begitu parah. Militerisme secara 'telanjang' hadir di Indonesia paling tidak sejak tahun 1942. Pada waktu itu pemerintah Hindia Belanda bertekuk lutut menghadapi agresi militerisme Jepang. Pada tgl 8 Maret 1942, Gubernur Jendral Tjarda van Strakenborgh van Stachouwer dan Jendral Ter Poorten datang di lapangan terbang Kalijati menemui Penguasa Perang Jepang. Esoknya, 9 Maret, dokumen penyerahan tanpa syarat ditandatangani. Sejak itu Rakyat Indonesia dijadikan "benda inventaris" yang diserahkan kepada Penguasa Perang Jepang. Kemudian militeris Jepang itu menangkapi orang-orang Belanda, diintenir. Setelah itu pembersihan pun diadakan, sasaran utama ialah orang-orang Komunis atau yang diduga sebagai Komunis serta orang barhaluan kiri lainnya yang sebelum Jepang datang telah menyiapkan gerakan di bawah tanah. Ini bisa dilaksanakan secara cepat, karena sebelum pasukan Jepang itu mendarat, mereka sudah jauh hari menyebarkan mata-mata, ada yang buka toko, jadi tukang cukur dsb. sampai ke pelosok. Sejak itulah militerisme mulai hadir dan dikembangkan dalam masyarakat oleh militeris Jepang yang waktu itu dipanggil Dai Nipon. Diantara gerakan di bawah tanah itu adalah GERAF (Gerakan Rakyat Anti Fasis). Pemrakarsa organisasi ini Dr. Cipto Mangunkusumo. Sebelum Jepang mendarat ada ucapan Dr. Cipta yang kemudian jadi buah bibir angkatan muda yang mengatakan; "Kalau nasib bangsa Indonesia ini memang dijajah, lebih baik dijajah Belanda daripada dijajah bangsa Asia". Yang menjadi pimpinan Geraf antara lain: Amir Syarifuddin, Pamudji, Sukajat, Widarta , Armunanto. Juga Ismangil, Cudanco yang dijatuhi hukuman mati oleh Jepang, karena ikut memimpin pemberontakan melawan Jepang di Blitar. Pada Januari 1943, Amir Syarifuddin bersama 53 kawannya ditangkap, diantaranya pimpinan PKI: Pamudji, Sukayat, Abdul Azis dan Abdul Rachim. Semua Pimpinan PKI itu dihukum mati, kecuali Amir Syarifuddin tidak jadi dieksekusi karena permintaan Soekarano dan Moh. Hatta. Dia lalu dijatuhi hukuman seumur hidup dan dimasukkan penjara Lowokwaru di Malang. Penjajah baru itu segera merekrut calon kader. Pilihannya cukup jitu. Sasaran rekrut adalah para guru, para ulama atau kyai dan pemuka masyarakat lain yang dinilai sebagai orang terpandang. Mereka ditarik menjadi pegawai, pemimpin para militer, berlomba belajar bahasa Jepang dan diangkat sebagai pemimpin masyarakat tingkat menengah dan bawah. Murid-murid dididik secara militer pula. Tiap hari sebelum mulai pelajaran, dibariskan dulu di halaman sekolah. Mereka diharuskan melaksanakan upacara menaikkan bendera Jepang yang oleh rakyat sering dijuluki bendera "Mata Gareng" atau bendera "Telor Mata Sapi". Penaikan bendera itu diiringi dengan lagu kebangsaan Jepang Kimigayo. Setelah bendera sampai di puncak, barisan menyerong menghadap ke timur laut untuk menghormat Tenno Heika dengan mengucapkan teriak "Tenno Heika, Bangsai..!" tiga kali (Hidup, Teenno Heika!). Sumpah setia pun dalam upacara itu diucapkan bersama-sama. Semula ada seorang yang meneladani, kemudian ditirukan bersama-sama seperti burung berkicau diwaktu pagi. Selain kerja paksa tanpa bayaran, seperti petan jarak, cari umbi iles-iles, ponang dan walur, anak-anak sekolah juga diajari baris berbaris dan perang-perangan. Para pemuda desa dikelompokkan dalam Barisan Seinendan dan Kaibodan. Merka mendapat latihan perang juga meskipun kebanyakan tak pernah menjamah senjata yang sesungguhnya. Yang penting semangatnya. Latihan-latihan biasanya diadakan diwilayah tingkat Son (Kecamatan). Hampir tiap hari di lapangan yang baru dibangun waktu itu, berkumandang suara orang-orang berteriak sambil menusuk-nusukkan 'bayonet' yang dibikin dari kayu lamtara kearah sasaran tusuk yang berbentuk orang-orangan. Orang-orangan itu ada yang bikin dari dami padi (pohon padi yang sudah kering) atau gedebok (pohon pisang). Militerisme 'telanjang' yang digalakkan sejak jaman Jepang itu, disadari atau tidak sebenaranya terus hidup di sebagian benak masyarakat. Cuma penyelenggaranya yang berbeda-beda. Dulu penyelenggaranya " Saudara Tua Nipon pemimpin Asia", kemudian dilanjutkan oleh penerus-penerusnya dan ternyata bukan hanya kalangan militer. Berkat "bimbingan" rejim militer Orde Baru yang dipimpin Pak Harto, masyarakat dan juga organisasi-organisasi, partai dan juga pendidikan, ternyata mengidap ideologi militerisme yang mendalam. Bedanya ideologi yang tersebar di jaman Jepang dalam bentuk telanjang. Sedang penyebaran ideologi militerisme di jaman Orde Baru dibalut dengan kulit Panca Sila. Jadi nipunya lebih canggih, sehingga yang mengidap tidak merasa. Mungkin diantara mereka baru tingkat kaget melihat akibatnya, misalnya gejala tindak kekerasan di mana-mana, disintergrasi bangsa, terorisme, premanisme (yang dipelopori penguasa semasa Orde Baru seperti Ptrus, penculikan dsb), satpamisme, banserisme dan skdabreg contoh yang lain. Begitu klik Soeharto merebut kekuasaan, ajaran-ajaran Soekarno dilarang. Diadakan de-Soekarnoisasi. Cuma Panca Sila yang bersumber pada pidato Soekarno 1 Juni 1945 yang dipakai. Lewat para sarjana yang diadobsi, Panca Sila itu mula-mula dipisahkan dulu dari penciptanya, lalu dikuliti, isinya dibuang, kulitnya diguanakan untuk membalut militerisme. Anak-anak sekolah, sampai tawanan, narapidana pun tiap pagi disuruh nglamuti manisnya kulit Panca Sila. Untuk apa? Untuk menutupi militerisme yang ada di dalamnya... Padepokan, 20 September 2000 Aini Patria ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 21 Sep 2000 jam 04:30:14 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
