---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Media Indonesia, 21 September 2000 EDITORIAL: Di Balik Misi Kemanusiaan AS AMERIKA Serikat dan Barat adalah sosok dengan banyak wajah. Ia bisa ganti-berganti. Paham-paham kemanusiaan tumbuh subur di belahan dunia ini, tetapi penghancuran manusia juga sering diprakarsai oleh negeri-negeri di wilayah ini. Dan, kini Barat dipimpin Amerika, maka negeri inilah sang pemegang hegemoni apa saja di dunia ini. Lihat saja persekutuan Barat yang tergabung dalam NATO telah membuat kian panjang catatan manusia di Yugoslavia yang terbunuh dihajar peluru dari mesin-mesin perang. Perang saudara di negeri itu telah memakan banyak nyawa, tetapi mesin perang NATO kian menghancurkan manusia. Ini artinya menyelamatkan manusia tapi dengan menghancurkan manusia. Tetapi, inilah cara standar Barat dalam menyelesaikan persoalan di beberapa negara yang dianggap tidak sesuai dengan kehendak mereka. Atas nama kemanusiaan tetapi melenyapkan manusia dengan cara yang tak kalah tragis. Selain Yugoslavia, Irak kini telah amat menderita. Setelah dikeroyok dengan mesin-mesin perang oleh Amerika dan sekutunya pada tahun 1990-an, kini negeri itu sedang mengalami kesengsaraan karena embargo ekonomi. Jutaan anak-anak Irak kini di bawah standar hidup yang layak. Padahal, yang diburu satu orang bernama Saddam Hussein, yang dianggap musuh Barat. Tapi, karena satu manusia, Barat tega membunuh masa depan jutaan anak-anak di Irak. Jadi, logika kemanusiaan seperti apa yang hendak diperlihatkan Barat? Kini hal yang sama sedang diperlihatkan kepada Indonesia. Amerika Serikat lewat Menhan William Cohen berkehendak menghukum Indonesia dengan embargo ekonomi jika negeri ini tak bisa menyelesaikan kasus terbunuhnya tiga pekerja UNHCR di Atambua 6 September silam. Alangkah mudahnya main gertak. Kita mengutuk pembunuhan di Atambua yang biadab itu. Dan, itu bisa dibuktikan dengan tak hentinya media massa memberitakan kasus tersebut. Itu artinya, perlawanan terhadap tindak kekerasan telah menjadi sikap bersama masyarakat Indonesia. Bahwa polisi sebagai penjaga keamanan telah gagal, itu telah diakui oleh Kapolri Jenderal Rusdihardjo. Bahkan, ia telah meminta maaf. Bisa jadi ada yang bermain di balik pembunuhan itu. Ini juga sedang kita selidiki. Dan, Presiden Abdurrahman Wahid yang ketika peristiwa itu terjadi berada di New York mengikuti KKT Millenium juga mengatakan ada pihak-pihak yang berusaha mempermalukannya di forum internasional. Dan, AS mestinya bisa mencatat siapa Abdurrahman Wahid. Lepas dari berbagai kekurangannya, ia adalah sosok yang sejak dulu mempunyai komitmen terhadap kemanusiaan; dan ingin terus memerangi kekerasan. Di bawah Presiden sipil ini Indonesia sedang berupaya memperbaiki diri dalam berbagai hal. HAM, demokrasi, dan politik; meski jalannya memang tertatih-tatih. Karena terlalu banyak persoalan yang harus dihadapi. Maka, ancaman embargo ekonomi oleh Amerika, terdengar menjengkelkan. Karena Indonesia juga sedang introspeksi akan masa silamnya yang kelam oleh kekuasaan yang korup dan otoriter. AS mestinya juga melakukan hal yang sama atas langkah-langkahnya yang pongah di berbagai belahan dunia. Karena ancaman bagi negeri yang sedang terpuruk juga tidak membuatnya bertekuk. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Sep 2000 jam 10:15:51 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
