---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Pelaku Pengeboman BEJ Menyaksikan "Hasil Karyanya" Kompas - PEMEO biasanya seorang kriminal akan kembali ke tempat ia melakukan kejahatannya untuk menyaksikan "hasil karya" kejahatannya ternyata berlaku buat para pelaku peledakan Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ). Tengku Ismuhadi Jafar (30), Iwan Setiawan (34), Ibrahim A Manap, Irwan, dan Ibrahim Hasan (30), ikut menonton kepulan asap hitam pekat setelah bom yang mereka pasang meledak, 13 September lalu. Dari berbagai informasi yang terkumpul, peledakan bom di BEJ merupakan ide dari Jafar. Sebelum melakukan peledakan itu, tiga dan dua hari sebelum peledakan tersebut, mereka melakukan survei ke Gedung BEJ. Belum diketahui, siapa yang akhirnya mendapat informasi di lantai parkir P2 terdapat saluran pembuangan air. Keempat pelaku itu datang ke gedung tersebut dengan menggunakan dua mobil, yaitu Corona Mark II B 2676 WL warna biru dan Suzuki Sidekick B 2487 BY warna ungu. Corona yang dibawa sendiri oleh Irwan langsung masuk ke Gedung BEJ dan diparkir di P2. Anggota Komando Pasukan Khusus AD (Kopassus) berpangkat sersan dua itu yang dilihat saksi sebagai orang yang bergegas masuk ke lift di situ, sebelum ledakan dahsyat mengguncang Gedung BEJ. Akibat ledakan itu, sebanyak 10 orang tewas, 90 orang luka-luka (berat dan ringan), 104 unit mobil rusak berat, 57 unit mobil rusak ringan, serta kerugian material lainnya yang mencapai puluhan milyar rupiah. Sementara itu, Suzuki Sidekick yang dikemudikan Iwan dengan penumpang Tengku Jafar, Ibrahim Manap, dan Ibrahim Hasan parkir di jalan di luar Gedung BEJ. Setelah Irwan bergabung kembali dengan mereka, Iwan mengarahkan mobilnya ke Parkir Timur Senayan. Mereka putar-putar di situ sebentar, lalu minum minuman ringan di situ. Ketika ledakan bom terjadi dan asap hitam mulai mengepul dari bawah Gedung BEJ, mereka masih menunggu sebentar di situ. Kemudian, mereka kembali bergerak ke luar dari Parkir Timur Senayan lewat pintu XI ke jalan depan TVRI. Dari situ mereka naik Jembatan Senayan terus ke Jembatan Semanggi dan turun untuk masuk ke Jalan Sudirman ke arah Blok M. Seperti mobil-mobil lainnya, mobil Suzuki mereka pun jalan perlahan-lahan. Itu terjadi karena arus lalu lintas tersendat sebagai akibat ditutupnya jalur lambat sejak di depan gerbang masuk kompleks Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya. Selain itu, pengendara mobil lainnya memang melambatkan laju jalannya untuk memuaskan keingintahuan mereka atas apa yang terjadi di Gedung BEJ itu. Konon, saat itu, Tengku Jafar menyempatkan turun dari mobil dan berbaur dengan para "penonton" malapetaka itu. Sekitar setengah jam ia berada di seputar Gedung BEJ, melihat-lihat kesibukan aparat kepolisian, satpam Gedung BEJ, dan pemadam kebakaran bekerja. Setelah puas melihat-lihat, ia pulang ke rumahnya dengan menggunakan taksi. Namun, penyidik lain mengatakan, mereka hanya lewat saja dengan mobil Suzuki itu dan langsung pulang ke bengkel Tengku Jafar. Mereka sebentar ada di sana, lalu pulang ke rumah masing-masing. Iwan Setiawan pulang ke daerah Condet, Pasar Rebo, Jakarta Timur; Ibrahim Hasan ke Cilodong, Jakarta Selatan; Tengku Ismuhadi Jafar ke rumahnya di Jalan GD Baru, Ciganjur, Jakarta Selatan; Irwan ke Pasar Rebo, Jakarta Timur; dan Ibrahim Manap ke Bekasi. Sekitar pukul 21.00, mereka kumpul kembali di bengkel itu, sama-sama menyaksikan televisi dan mendengarkan radio yang menyiarkan peristiwa hasil kejahatan mereka. Tidak ada pesta besar di bengkel itu. Mereka cuma minum kopi atau teh, ditemani kue-kue kecil. Sejauh ini, tidak ada seorang penyidik pun yang mengatakan bahwa para tersangka peledakan itu sudah menceritakan asal-usul bahan peledak yang mereka gunakan. Para saksi antara lain mengaku hanya membantu mencari mobil, membeli peralatan untuk merakit bom, seperti baterai, kabel, atau jam. Yang lainnya mengaku, hanya melihat saat Irwan dan Ibrahim Hasan merakit bom. "Sudah ada yang mengatakan asal bahan peledak yang mereka gunakan, tetapi pernyataan mereka perlu kami cross check lagi," kata Kepala Direktorat Reserse Polda Metro Jaya Senior Superintendent Harry Montolalu. Montolalu menyadari bahwa banyak pihak yang meragukan hasil kerja timnya dalam menangkap para tersangka pengeboman. Ia tidak marah terhadap pihak-pihak yang meragukannya itu. "Yang penting kami kerja. Nanti, toh, semuanya akan terbuka di pengadilan," katanya. Ia menambahkan, sungguh tidak masuk akal kalau masa sekarang ini polisi atau TNI melakukan rekayasa. Sejauh ini, tersangka pelaku serangkaian peledakan sudah mencapai 30 orang. Tersangka itu, 27 orang ditangkap aparat Polda Metro Jaya, dua orang ditangkap aparat Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Bandung (Polda Jawa Barat), dan seorang oleh aparat Kepolisian Resor (Polres) Metro Jakarta Timur. "Sedangkan saksi yang kami mintai keterangannya mencapai 62 orang," kata Montolalu. Mengenai tersangka Praka Ibrahim Hasan yangmerupakan anggota Komando Cadangan Strategis AD (Kostrad), ia ditangkap karena kedapatan membawa satu linting ganja oleh aparat Polres Metro Jakarta Timur yang tengah menggelar Operasi Kilat Jaya di Jalan Matraman, Rabu malam pekan lalu. Karena dia anggota TNI, setelah dibuat berita acara perkara secukupnya, Polres Metro Jakarta Timur langsung menyerahkannya ke Polisi Militer Kodam Jaya. Ia baru ketahuan sebagai salah seorang tersangka peledakan bom setelah Iwan ditangkap Polda Metro Jaya, Sabtu lalu. Iwan merupakan orang pertama yang ditangkap sebagai tersangka kasus serangkaian peledakan bom di Jakarta.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Sep 2000 jam 08:40:34 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
