----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Kasus Jafar, LBH Medan Minta Pertanggungjawaban Poldasu

MEDAN (Waspada): Seorang Pelaksana Harian Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan
Fadilah Hutri Lubis, SH, mengatakan segera mendatangi Kapoldasu untuk
meminta pertanggungjawaban terhadap ditemukannya mayat Jafar Siddiq.
Dia menilai selama ini Kapoldasu lepas tangan terhadap jaminan keamanan
warga negara. Namun dalam pandangannya penghilangan Jafar Siddiq adalah
pembunuhan yang dilakukan kelompok terorganisir. Tapi Lubis tidak mau
menyebut organisasi dimaksud. Orang yang tidak senang dengan ketua IFA tentu
saja yang tidak senang dengan kampanye internasionalnya terhadap pelanggaran
HAM di Aceh, tambah Lubis di LBH Medan, Jumat (8/9). Menurutnya Jafar Siddiq
bisa saja sudah dibuntuti dari New York, setelah sampai di Medan baru
diculik.
Karena, katanya, Medan sudah dianggap daerah yang paling aman untuk
menghilangkan sekaligus membunuh aktivis. Kalau Poldasu tidak dapat mengusut
dan menuntaskan kasus penghilangan aktivis maka kekhawatiran terhadap
keselamatan warga dan aktivis di daerah ini makin terancam, katanya.
Penculikan dan pembunuhan di Medan sudah terlalu banyak, dari sekitar 16
orang yang hilang tak satupun yang pulang selamat. Kalau ada yang diketahui
keberadaannya sudah jadi mayat, katanya.
Maya Manurung juga berpendapat sama, kalau di Jakarta korban penculikan
masih ada yang pulang selamat seperti yang menimpa empat orang aktivis
agraria beberapa hari lalu tapi di Medan hilang tak tentu rimba dan kalau
ditemukan hanya mayatnya.
Untuk itu LBH Medan berpendapat agar jajaran Poldasu segera bertindak untuk
membersihkan citra daerah ini yang rawan dengan penculikan aktivis.
Hilang__
Sementara Pelaksana Harian Lembaga Bantuan Hukum Medan Maya Manurung, SH,
mengatakan Medan sudah terkenal sebagai daerah paling mudah untuk
menghilangkan orang.
Dia berbicara kepada Waspada, Jumat (8/9) di ruang kerjanya. Menurutnya
hanya ada satu keluarga yang merasa kehilangan dengan empat mayat lain yang
berada di Rumah Sakit Pirngadi Medan.
Manurung mengatakan, seorang ibu bernama Irawati yang melaporkan anaknya
hilang 24 Juli 1999. Irawati, asal Idi Rayeuk kemarin mendatangi LBH Medan
untuk melihat mayat di Pirngadi apakah seorang di antara anaknya.
Irawati mengatakan nama anaknya Azhari, 22, hilang di Medan sejak setahun
lalu. Dia mengatakan anaknya adalah seorang pegawai negeri di Idi Rayeuk
sekaligus membuka usaha jual beli perlengkapan boat (perahu motor).
Menurut Irawati, hilangnya Azhari sudah dilaporkan kepada presiden (Habibie)
waktu itu, bupati Aceh Timur, Kodim, Kontras dan Denpom 1/7 Medan. Namun
sampai sekarang belum ada kepastian tentang nasib Azhari. Irawati kemarin
datang bersama mak cik Azhari untuk menemaninya ke Pirngadi.
Setelah sekian lama hilang, Irawati ingin segera mengetahui anaknya sehingga
ketika tahu ada lima mayat di Pirngadi dia langsung menuju LBH Medan untuk
didampingi menuju rumah sakit.
Irawati mengatakan tidak punya ciri-ciri khusus tentang anaknya. Hanya saja
dari foto yang ditunjukkan, Azhari berambut lurus, wajah oval, tinggi badan
sekitar 165 cm dan kulit putih.
Saat berangkat ke Medan tahun lalu, katanya, Azhari, ingin membeli onderdil
boat untuk dijual lagi. Berangkat dengan mobil BK 1908 LD dan menginap di
Hotel Surya Indah Medan.
Dalam waktu itulah, kata Irawati, anak, mobil, serta sejumlah uang juga
hilang. Dia memastikan memang hilang dari hotel itu karena ada beberapa
orang yang melihat. Sementara Maya Manurung mengatakan indikasi ini
menunjukkan tidak murni perampokan. "Ada unsur politis," katanya. Apalagi,
kata dia, banyak yang hilang dari Aceh.
Dari Rumah Sakit Pirngadi, Irawati belum dapat memastikan apakah salah satu
mayat itu Azhari. Karena, kata Maya, Irawati tidak sanggup menahan bau yang
keluar dari mayat tersebut.(carn)

Mobil Brimob Dihujani GLM Di Aceh Tiga Tewas, Dua Cedera, 13 Rumah Dibakar

TAKENGON (Waspada): Bagaikan tanpa henti, berbagai insiden di Aceh Tengah
senantiasa meminta tumbal nyawa. Belum ditemukannya 13 warga yang diculik,
kini giliran pasukan Brimob Resimen I Jakarta diserang dengan GLM.
Danton Brimob Iptu (Lettu.Pol) Rudi Wicaksana tewas dengan kondisi
menyedihkan. Kepalanya hancur, otak terburai keluar. Nasib yang sama juga
dialami anggotanya, Sertu P.Hendarto dan Bharatu Aidil Fitriansyah. Dua
lainnya, Bharatu Wayan Aniarta dan Bharatu Supriando harus dirawat di RSU,
karena menderita luka tembak.
Penghadangan itu terjadi, Jumat (8/9) pukul 12:05 di Dusun Wih Kanis, Desa
Ramung, Kecamatan Bandar-Aceh Tengah. Pasukan Brimob yang mengendarai mobil
Hiline, Kijang dan Reo dihadang di tikungan patah memasuki tanjakan. Siraman
GLM dari atas bukit, membuat mobil Hiline yang ditumpangi Danton dan 5
anggotanya hancur.
Bombardir dengan GLM juga turut diarahkan ke mobil kijang tetapi terhindar.
Kemudian terjadi baku tembak selama satu jam lebih, demikian informasi yang
berhasil Waspada himpun dari berbagai sumber.
Setelah kontak senjata selama satu jam dengan posisi aparat di bawah bukit,
akhirnya kelompok sipil bersenjata yang diperkirakan 30 orang mundur dan
bersembunyi. Baru kemudian pasukan aparat mengevakuasi rekannya yang tewas
dan cedera.
Korban dilarikan ke RSU Datu Beru Takengon, sementara bantuan kekuatan dari
aparat keamanan gabungan (Polres/TNI) dikerahkan ke Kecamatan Bandar,
khususnya ke lokasi kejadian. Aparat keamanan berusaha menguasai TKP dan
lokasi di sekitarnya, agar dapat mengamankan masyarakat yang akan mengungsi.
Kapolres Aceh Tengah Supt Drs. Misik Natari, ketika dikonfirmasi Waspada di
ruang kerjanya, walau dalam kondisi lemas dan tegang, mengakui telah terjadi
penghadangan terhadap anggotanya.
"Demi mengamankan masyarakat dan menjalankan tugas negara, tiga anggota saya
tewas dengan kondisi menyedihkan, kepalanya hancur otaknya keluar," sebut
Kapolres yang tak kuasa menahan tangisnya, sambil menunjuk pakaian
berlumuran darah dan ceceran otak.
Kegiatan GAM sudah kelewat batas, sebut Kapolres. Masyarakat dibunuh, rumah
dibakar, harta dijarah. Mereka mengadakan sweeping di mana-mana. Aparat ke
sana (TKP red) untuk membebaskan masyarakat dari sweeping GAM dan mengecek
13 rumah yang dibakar di dusun Sepeden, dan di beberapa desa lainnya.
Walau telah kehilangan tiga anggota (satu perwira), Kapolres tetap
mengerahkan anggotanya untuk memburu kelompok GBPK. Dalam insiden itu,
senjata dan amunisi milik Brimob yang tewas itu berhasil diamankan oleh
aparat keamanan.
Rumah dibakar, warga mengungsi
Selama sepekan ini insiden di berbagai daerah di sentral kopi Ararica itu
intensitasnya meningkat. Yang paling rawan dan parah terjadi di kecamatan
Bandar. Kamis (7/9) dua warga kecamatan itu ditemukan tewas, 13 lainnya
hilang diculik (Waspada 8/9).
Pada malam harinya, 13 rumah penduduk Sepeden dan Jungke habis dibakar.
Masyarakat dicekam ketakutan. Akibatnya warga di sembilan desa di daerh
rawan itu sepakat untuk mengungsi ke DPRD.
Jumat (8/9) sekitar pukul 17:00, halaman gedung DPRD Aceh Tengah dibanjiri
pengungsi lelaki. Kaum ibu dari warga yang mengungsi itu, hingga berita ini
diturunkan masih mengungsi di kantor camat Bandar (sekitar 33 kilometer
utara Takengon).
Pengungsi diterima DPRD Aceh Tengah dan Pemda setempat, sementara kaum
perempuan yang masih berada di kantor camat Bandar, bila kondisi masih rawan
akan dijemput hari ini (Sabtu 9/9).
Bantahan GAM
Biro penerangan GAM Wil Linge, kepada Waspada melalui telefon selular,
membantah tudingan aparat yang menyebutkan pihaknya melakukan semua insiden
itu. "Kami tidak pernah melakukannya. Ini perbuatan sadis dan biadab yang
direkayasa aparat," jelas Ali Gergel Piraq, biro penerangan GAM Wil Linge
Alas Kutacane.
13 Warga belum ditemukan
13 Dari 16 warga yang diculik kelompok sipil bersenjata, hingga berita ini
diturunkan belum diketahui nasibnya. Tiga dari enam belas korban telah
dikembalikan, namun kini kondisi fisiknya lemah dan stres.
Dalam Agustus ini, untuk Kabupaten Aceh Tengah sudah 9 orang tewas, 15
diculik, satu kritis dihantam timah panas, 19 rumah penduduk dibakar, satu
polindes, dua buah jembatan, serta 8 pos siskamling. (b23)

GAM Himpun Kekuatan Militer Selama Jeda Kemanusiaan

SURABAYA (Waspada): Menteri Pertahanan Dr H Moh Mahfud MD SHSU mengatakan
berdasarkan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan jeda kemanusian di Aceh
mulai Juli sampai 2 September tampaknya GAM telah mengambil keuntungan dan
pemerintah Indonesia dirugikan.
"Jeda kemanusiaan di Aceh itu sudah berakhir pada 2 September dan akan
diperpanjang tiga bulan, GAM diuntungkan karena mereka menghimpun kekuatan
militer sendiri dan GAM mempunyai ribuan pucuk senjata," katanya seusai
silaturahim dengan ulama Jatim di Surabaya, Jum'at (8/9).
Guru besar FH UII ini mengatakan jeda kemanusiaan itu sebenarnya agak
merugikan Indonesia tetapi setelah dipertimbangkan dari beberapa segi maka
jeda kemanusiaan itu diperpanjang sampai Desember dengan dua catatan.
"GAM harus bekerja dalam kerangka negara kesatuan RI dan tidak ada
alternatif negara merdeka tapi harus negara kesatuan, di dalam waktu tiga
bulan ini sudah harus ada kesepakatan antara GAM dan Indonesia tentang
bentuk otonomi khusus yang diminta mereka dan akan diberikan oleh
pemerintah," katanya.
Kalau mereka melanggar kesepakatan ini, lanjut Mahfud, pemerintah bisa
secara sepihak membatalkan jeda kemanusiaan tanpa berunding lagi. "Jeda
kemanusiaan itu untuk melindungi orang banyak, bukan untuk menghimpun
kekuatan untuk menteror orang, camat diberhentikan diganti orang GAM, itu
yang mereka manfaatkan," katanya.
Tentang penegakan hukum terhadap GAM, Mahfud mengatakan orang GAM itu
"bajunya" satu tetapi tidak ada yang bentuknya GAM murni, ada
perampok-perampok yang menyatakan diri sebagai GAM, kemudian ada orang-orang
yang mencari selamat. "Itu kita evaluasi semua, namun prinsipnya Desember
tidak ada lagi perpanjangan, Indonesia adalah negara kesatuan dan Aceh tidak
akan dilepaskan. Dengan resiko apapun, Aceh adalah bagian dari republik.
Begitu pula dengan Irian Jaya akan tetap bagian dari republik dengan resiko
apa pun," katanya.
Ketika ditanya tentang tuntutan referendum, dia mengatakan referendum tidak
bisa dilakukan secara sepihak karena yang menetapkan MPR, sedangkan MPR
tidak pernah berbicara referendum karena itu tidak boleh. (ant)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Sep 2000 jam 05:27:22 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke