---------------------------------------------------------- The US government makes available 55.000 GREEN CARDS (permanent residence visa) in a random lottery. Visit http://www.us-immigration.org for details on how to play the GREEN CARD LOTTERY -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Indonesia Daily News Online http://www.indo-news.com/ Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Takut Terjadi Kontak Senjata , Warga Mengungsi Ke Masjid Raya Baiturrahman BANDA ACEH (Waspada): Takut terjadi kontak senjata antara GAM dengan pasukan Brimob BKO, ratusan warga Desa Keumireu dan Leupung Blee, mengungsi ke halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Senin (18/9) dinihari. Arus pengungsian berawal dari kedatangan pasukan keamanan, untuk melakukan operasi rutin di sejumlah desa dalam kecamatan tersebut. Pasukan yang diangkut dengan belasan truk Reo milik Polri, masuk ke lokasi kedua desa tersebut dan sejumlah desa lainnya berlangsung dua tahap. Tahap pertama pk. 03:00 dan kedua pk. 06:00. "Di antara pasukan itu ada yang menggunakan truk dan ada juga yang berjalan kaki," ungkap Tgk. Muhammad, Imum Meunasah Desa Keumireu yang Waspada temui, di lokasi pengungsian. Memang, kata dia, ketika mereka masuk ke sejumlah desa, aparat tidak melakukan tindakan yang bersifat mencelakai warga. Namun, karena takut akan terjadi kontak senjata, maka sejumlah warga desa mengungsi untuk mencari tempat yang aman. "Kami mengungsi karena takut terjadi kontak senjata," katanya berulang-ulang. Pengungsian di siang bolong itu, sempat menjadi perhatian masyarakat Kota Banda Aceh. Bahkan, sejumlah pejabat dari Kabupaten Aceh Besar datang dan berdialog dengan pengungsi serta memintanya kembali ke tempat masing-masing. Bupati Aceh Besar, Drs H. Sayuthi Is, MM, yang datang bersama unsur muspida daerah itu dan sejumlah perwira Polda Aceh, langsung melakukan negoisasi dengan tokoh masyarakat kedua desa tersebut dan Koordinator Relawan Kemanusiaan, Muhdar Syahputra. Dalam negoisasi itu, bupati mengharapkan kepada warganya untuk kembali ke desanya masing-masing. Sebab, kata Sayuthi, selain lokasinya yang tidak memungkinkan, juga dikarenakan tempat pembangunan dapur umum dan sanitasi tidak memungkinkan. "Apalagi ini kan tempat ibadah, yang tidak boleh dikotori oleh siapa pun," ungkapnya. Menanggapi hal itu, Tgk. Muhammad, tokoh masyarakat yang ditunjuk mewakili pengungsi dalam negoisasi tersebut menegaskan, pihaknya tetap tidak akan kembali, jika ada jaminan keamanan dan aparat tidak segera ditarik dari desa mereka. Setelah berjam-jam terlibat negoisasi, sedangkan para pengungsi tetap pada tuntutannya, maka diperoleh kesepakatan untuk memindahkan pengungsi tersebut ke Balee Tgk. Chik Di Tiro (BTCD) Banda Aceh. Sekitar pk. 16:30, para pengungsi yang terus bertambah akhirnya diangkut ke BTCD, menggunakan sejumlah bus mahasiswa yang disediakan pihak Polres Aceh Besar. Hingga berita ini diturunkan, para pengungsi yang berjumlah sekitar 400 jiwa itu, masih bertahan di lokasi pengungsian BTCD Banda Aceh, dengan mendapat bantuan medis dari PMI Cabang Banda Aceh dan Aceh Besar. (cik/crin) Aktifis Aceh Diminta Hati-hati MEDAN (Waspada): Aktifis Aceh yang berjuang untuk penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) diminta untuk berhati-hati karena keselamatannya sangat terancam menyusul kurangnya jaminan keamanan dari aparat terkait, kata Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Irham Buana Nasution, SH. Dia berbicara kepada Waspada di LBH Medan, Senin (18/9) menyusul berbagai tindak kekerasan dan penghilangan yang terjadi terhadap aktifis Aceh. Nasution menilai timbulnya penghilangan dan tindak kekerasan dirancang begitu sistematis. Pernyataan itu juga merupakan keprihatinan terhadap orang hilang di Medan mulai dari T. Nashiruddin Daud, Jaffar Siddiq. Lalu di Aceh ada penembakan terhadap Rektor IAIN Ar Raniri dan terakhir penembakan ulama di Aceh Utara. "Artinya banyak tindak kekerasan yang mengancam para aktifis dan tokoh HAM," kata Nasution Penghilangan dan tindak kekerasan terhadap aktifis HAM, kata dia, dilakukan dengan maksud untuk meredakan dan memperkecil perjuangan HAM untuk rakyat Aceh di tingkat lokal dan internasional. Kalau terus berkelanjutan, menurut dia, pemerintah Indonesia bisa dituding kembali sebagai pemerintahan yang anarkis karena kurangnya jaminan terhadap keselamatan warga negara. Peringatan agar aktifis itu berhati-hati, kata dia, bukan hanya untuk aktifis di Aceh tetapi juga untuk seluruh aktifis HAM termasuk aktifis Aceh yang ada di Sumut karena sangat rentan terhadap penghilangan. Dia meminta agar aparat keamanan mampu membuat suatu kebijakan strategis untuk memberi perlindungan terhadap tokoh-tokoh HAM dan aktifis serta masyarakat sipil. Nasution kuaatir terjadinya pembiaran terhadap kasus penghilangan dan tindak kekerasan terhadap aktifis akan bisa berulang bukan saja untuk aktifis Aceh tapi juga untuk Sumut. Aktifis HAM yang bersuara vokal diharapkan bisa mendapat prioritas pengamanan lebih baik karena ada nada sedih melihat kekerasan dan motif penghilangan yang tidak jelas, kata Nasution lagi. Dia juga menghimbau agar tokoh dan aktifis HAM tidak terjebak dengan pendapat-pendapat yang tanpa dasar sehingga memicu kekerasan lain. Padahal, kata Nasution, sejak pemisahan Polri dari TNI harus bisa memberi jaminan keamanan pada masyarakat lebih besar dibanding sebelumnya. Selain itu juga, kata Nasution, harus ada proses hukum untuk menjamin keamanan para aktifis. Sementara tentang hadiah uang yang ditawarkan International Forum for Aceh (IFA) untuk penemu Jafar Siddiq Hamzah hidup atau mati, katanya, harus menunggu hasil visum dokter forensik. Sampai saat ini, menurut Nasution, belum ada pengumuman resmi tentang hasil autopsi tim forensi terhadap mayat itu sehingga tanpa bukti tersebut, IFA tidak akan memberi uang hadiah terhadap penemunya. (carn) Masyarakat Pidie Kini Demam Mogok MASYARAKAT di Kabupaten Pidie, saat ini, sedang dilanda demam mogok. Buktinya, meskipun tidak ada perintah dari pihak manapun, mereka melakukan aksi mogok yang telah dimulai, Jum'at dan berakhir Minggu (1-3/9). Memang sebelumnya, Panglima Komandan Pusat Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) Tgk Abdullah Syafi'ie Di Tiroe, Rabu (30/8) melalui siaran persnya menyerukan umat Islam, khususnya bangsa Aceh, untuk berdo'a selain itu juga berpuasa sunat selama tiga hari mulai tanggal 1 hingga 3 September 2000, demi terciptanya keamanan di Bumi Serambi Mekkah ini. Namun kenyataannya di lapangan, masyarakat di daerah tersebut selain berdo'a dan berpuasa sunat, juga melakukan aksi mogok masal. Aksi itu, mau tidak mau sangat berdampak negatif terhadap anak-anak sekolah. Mereka tidak mendapatkan pelajaran dari guru sebab rumah sekolah tutup. Begitu pula yang dialami para abang becak dan ibu-ibu pedagang sayur yang harus mendapatkan uang setiap harinya guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Mereka terpaksa gigit jari pada hari mogok tersebut. "Kalau sering begini, bisa sengsara anak dan istri saya," kata seorang abang becak di tempat mangkalnya. "Pegawai Negeri enak dapat gaji tiap bulannya, tetapi kalau kami untuk mendapatkan sesuap nasi harus bekerja setiap hari," tambah pedagang lain menutup toko mereka, sayapun ikut begini," tegasnya. Kapolres Pidie, Letkol Endang Emiqail Bagus mengambil sikap terhadap aksi mogok yang dilakukan masyarakat di bawah pengawasannya, yaitu memerintahkan anak buahnya untuk berkeliling dengan menggunakan mobil pick-up menghimbau para pedagang untuk membuka toko mereka, juga terhadap supir labi-labi untuk menarik kembali. "Bukalah toko-toko dagangan saudara dan para sopir labi-labi bekerjalah seperti biasanya, agar masyarakat yang sedang berpuasa dapat berbelanja untuk persiapan berbuka puasa," ujar penceramah dari kepolisian. Kata dia, ini juga merupakan ibadah. Irfan Syahputra ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 19 Sep 2000 jam 11:20:40 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
