----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Serambi Selasa,  19 September  2000

Bom Meledak di Pos Kamling, 3 TNI Tewas * Polisi Didor, 2 GAM Ditangkap
SIGLI - Tiga prajurit TNI dari kesatuan Batalyon 327/Siliwangi, Senin
(18/9), tewas setelah dihantam bom rakitan ketika mereka
sedang istirahat di sebuah Pos Kamling di kawasan Meunasah Buloh Desa Dayah
Tanoh Teupin Raya, Kecamatan Glumpangtiga, Pidie. Pagi
kemarin, satu regu prajurit TNI melakukan pengamanan di kawasan tersebut.
Sebagian dari prajurit yang sedang bertugas itu, duduk
mengaso di sebuah balai yang digunakan sebagai Pos Kamling. Tiba-tiba bom
rakitan yang diduga sudah duluan ditanam di kolong balai,
meledak sekitar pukul 09.30 WIB.
Ketika bom meledak, tiga prajurit TNI yang sedang duduk di balai
masing-masing Kopda Atang, Pratu Abdul Samad, dan Praka Rasyid
Firmansyah terpelanting bersamaan dengan porak-porandanya Pos Kamling. "Bom
itu sudah lama ditanam di kolong balai, mereka hanya
menunggu aparat datang," kata Kapolres Superintendent Endang Emiqail Bagus
kepada Serambi kemarin.
Masyarakat melukiskan, suara dentuman mengejutkan warga sekitar. Bom dengan
tekanan cukup hebat membuat balai berkeping-keping,
sementara korban sempat "diterbangkan" beberapa meter. Bahkan salah seorang
dilaporkan meninggal di lokasi kejadian, karena
mengalami luka cukup serius.
Melihat teman mereka sudah tergeletak terkena bom, kata Bagus, prajurit
lainnya langsung memberikan tembakan peringatan ke udara.
Korban yang sudah tergeletak dilarikan ke RSU Sigli, guna mendapatkan
pertolongan. Namun, tiga nyawa tak dapat diselamatkan.
Suasana haru dan duka tidak dapat terbendung di antara sesama aparat. Dengan
setia puluhan TNI Siliwangi dan dari berbagai kesatuan
lainnya dengan penuh keikhlasan dan duka yang dalam, menemani rekannya di
RSU Sigli dan Makodim Pidie.
Dandim 0102/Pidie Letkol Inf Syamsuar Syam, Kapolres Endang Emiqail Bagus,
dan sejumlah perwira lainnya merasa kehilangan dengan
perginya ketiga prajurit TNI. "Ini betul-betul keterlaluan. Perbuatan
tersebut jelas dilakukan gerakan pengacau keamanan," ungkap
Bagus.
Dari lokasi kejadian, tambah Bagus, aparat juga menemukan barang bukti
berupa kabel (wayer) yang digunakan pelaku peledakan
sepanjang 300 meter lebih. "Ini jelas kerjanya kelompok yang sudah
terorganisir. Ke depan diharapkan prajurit untuk lebih
berhati-hati," harap Bagus.
Setelah disemayamkan di Makodim Pidie bebarapa saat, kata Bagus, sekitar
pukul 16.00 WIB kemarin jenazah korban diterbangkan ke
Banda Aceh dengan menggunakan helikopter. Direncanakan mayat korban akan
diteruskan ke kesatuannya di Bandung Jawa Barat.
Pasca insiden mengejutkan itu, aparat melakukan pengejaran terhadap pelaku
peledak bom rakitan. Tiga warga masyarakat dilaporkan
ditangkap aparat dalam penyisiran yang melibatkan aparat dari berbagai
kesatuan.
Ditanya tentang adanya tiga warga yang ditangkap aparat, Bagus mengatakan
belum mengetahui secara jelas. Mungkin saja mereka sedang
diminta keterangan dalam kasus peledakam bom di Pos Kamling. "Saya sudah
perintahkan, kalau ada warga yang harus diminta keterangan,
tetap diperlakukan dengan baik dan lebih manusiawi," ungkap Bagus.
Hingga malam tadi dilaporkan, masyarakat Desa Dayah Tanoh pada khususnya,
kini tidak berani lagi tinggal di rumah. Mereka sudah
melakukan aksi pengungsian. Mereka mengaku tak berani berdiam di rumah,
karena ada kemungkinan aparat akan melakukan penyisiran ke
kawasan tersebut, pada malam hari.
Didor
Sementara pada hari sama sekitar pukul 11.00 WIB, Sertu Bambang Prasetiyo,
anggota polisi Mapolda Aceh, tewas ditembak kelompok
bersenjata di kawasan Desa Geumpung Kecamatan Mutiara, Pidie. Korban
menghembuskan nafas terakhir karena mengalami luka tembak cukup
serius di bagian rusuk kiri, diduga mengenai bagian jantung.
Ketika ditembak, kata Bagus, korban mencoba untuk melarikan diri ke arah
sawah. Karena terjatuh, sehingga dengan mudah ia didor.
Akhirnya korban menghembuskan nafas terakhir, setelah tubuhnya dihujani
timah panas. Dalam insiden itu, aparat menemukan enam
amunisi dan sejumlah selongsong di lokasi kejadian.
Pada hari itu, jelas Bagus, korban baru saja kembali dari rumah mertuanya di
Desa Tong Pria (tetangga Geumpung) bersama istrinya.
Karena mereka baru saja kembali dari Medan Sumatera Utara. "Pada hari nahas
tersebut korban bersama istri hendak ke Banda Aceh,
karena ia bertugas di Mapolda," tambah Bagus.
Ketika sampai di Geumpung, kata Bagus, korban diturunkan oleh dua pria,
bahkan mereka berdua saling kenal dengan korban. Setelah
itu, korban ditembak dan mencoba melarikan diri. Namun, ia tidak bisa lari
dari maut yang sudah menunggunya. Ia juga diterbangkan
dengan helikopter ke Banda Aceh, sekaligus dengan tiga mayat TNI korban
dalam insiden Dayah Tanoh.
Ditangkap
Kantor berita ANTARA memberitakan, aparat TNI-AD menangkap dua pemuda pelaku
penggranatan Makoramil Muatiara, Kabupaten Pidie.
"Keduanya teridentifikasi sebagai anggota GAM, dan selama ini diduga sering
melakukan penggranatan pos-pos aparat keamanan di
Pidie," kata Kasub Satgaspen Operasi Cinta Meunasah (OCM)-I, Senior
Superintendent Kusbini Imbar melalui Wakasub Seperintendent Y
Suyatmo di Banda Aceh, Senin.
Kedua pemuda itu ditangkap aparat setelah mereka melakukan pelemparan granat
di Makoramil Mutiara, Minggu (16/9), sekitar pukul
19.00 WIB. Kedua anggota GAM itu masing-masing, Bachtiar (30) dan T Ansar
(24), keduanya penduduk Mutiara, Pidie.
"Kedua tersangka itu tertangkap setelah melempar granat di Makoramil, namun
granat tersebut tidak mencederai aparat keamanan yang
memang dalam posisi siaga, lalu, sejumlah aparat keamanan lainnya melakukan
pengejaran sehingga keduanya tertangkap," katanya.
Kedua warga Pidie bersama barang bukti yakni satu unit sepeda motor kini
diamankan di Makoramil Mutiara untuk penyelidikan lebih
lanjut. "Mungkin dari keduanya bisa terkuak dari mana mereka memperoleh
bahan peledak itu," katanya.
Peringatan
Sementara itu, juru bicara AGAM wilayah Pidie, Abu Razak mengaku
bertanggungjawab atas peledakan bom rakitan di Desa Dayah Tanoh
Kecamatan Glumpangtiga, Pidie. Sedangkan penembakan terhadap seorang polisi
di Geumpung, Abu Razak, mengaku tidak bertanggungjawab
dan tak tahu menahu. "Peledakan ini hanyalah sebuah peringatan. Kami tak
sanggup bersabar lagi," ungkapnya kepada redaksi Serambi,
malam tadi.
Selama ini, kata Abu Razak, pihaknya sudah cukup bersabar dengan tindak
tanduk aparat yang setiap saat melakukan operasi ke
desa-desa. Bahkan, banyak masyarakat yang disakiti dan hartanya diambil.
Dalam masalah itu, tambah Abu Razak, sudah berkali-kali dilaporkan kepada
tim jeda. Tapi, mereka tetap melakukan operasi ke sejumlah
desa. Bahkan operasi yang dilakukan mereka sudah melanggar dari ketentuan
yang sudah pernah disepakati. "Semua ini terpaksa kami
lakukan, supaya mereka tidak terus merajalela," tambahnya.(tim)

Dubes RI di PBB: Penyelesaian Aceh Tetap Diupayakan dengan Dialog

BANDA ACEH - Dubes dan Wakil Tetap Pemerintah RI di PBB Jenewa, Swiss,
Nugroho Wisnumurti mengharapkan agar pihak Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) menghentikan tindak kekerasan dan lebih memusatkan upaya
bersama dengan pemerintah Indonesia dalam penyelesaian
masalah Aceh secara politik.
"Kekuatan militer yang dilakukan GAM tidak hanya merugikan rakyat Aceh
secara keseluruhan, tapi bagi GAM juga tidak akan mencapai
penyelesaian," katanya kepada wartawan usai melakukan pertemuan dengan
Gubernur Aceh Ramli Ridwan bersama unsur Muspida Tingkat I
Aceh dan instansi terkait, serta tokoh ulama dan masyarakat Aceh, di Banda
Aceh, Senin.
Menyikapi tindakan kekerasan yang masih terus berlangsung di Aceh, Nugroho
juga berharap agar Pemerintah Indonesia mengambil sikap
yang tegas terhadap kelompok tersebut.
"Namun demikian, pemerintah juga harus berusaha untuk tidak melakukan
kekerasan di luar batas yang justru akan memperjauh
penyelesaian masalah Aceh," ujar Nugroho yang baru beberapa hari dilantik
menjadi Dubes/Watapri di PBB di Jenewa menggantikan Hasan
Wirayuda.
Ketika diminta tanggapannya seandainya GAM tidak bersedia berdialog, ia
mengatakan, "Lebih baik kita tunggu di meja perundingan,
kita akan lihat sikap dari mereka."
Sebab, lanjutnya, kalau dari sekarang membuat asumsi-asumsi yang belum jelas
dikhawatirkan akan segera mematikan prospek
penyelesaian masalah Aceh dengan cara dialog.
Pada bagian lain, Nugroho menyatakan bahwa kedatangannya ke Aceh selama dua
hari itu selain penugasannya sebagai Dubes/Watapri juga
ingin mencari masukan dari tokoh dan Muspida Aceh tentang kondisi Aceh
akhir-akhir ini.
Apalagi, katanya, di Jenewa sekarang ini ada Forum Bersama untuk mengadakan
dialog antara Pemerintah RI dengan GAM dengan
disepakatinya kesepahaman bersama "Jeda Kemanusiaan" untuk Aceh yang pada
tahap pertama sudah selesai pada 2 September 2000.
Mengenai perpanjangan Jeda Kemanusiaan, pemerintah Indonesia telah
menunjukkan keinginan untuk diperpanjang dengan catatan pihak GAM
bersedia menghentikan tindak kekerasan. Sebenarnya pemerintah Indonesia
ingin memanfaatkan Forum Bersama di Jenewa untuk melanjutkan
upaya ke arah penyelesaian yang menyeluruh, bila ini disambut oleh pihak GAM
dan masyarakat Aceh sendiri.
Menurut dia, Jeda Kemanusiaan merupakan langkah awal dan peluang bagi semua
pihak untuk mencapai kesepakatan politik yang
komprehensif dalam penyelesaian masalah Aceh. "Jeda Kemanusiaan ini juga
suatu upaya untuk menciptakan saling percaya bagi semua
pihak dalam penyelesaian kasus Aceh."
Dikatakan, berbagai masukan yang diperoleh dari berbagai kelompok masyarakat
di Aceh ini, akan dijadikan bahan masukan dan nantinya
akan dibicarakan dalam pertemuan dengan pihak GAM di Jenewa pekan depan.
"Saya harapkan, penyelesaian masalah Aceh ini akan tetap
dilakukan dengan dialog," katanya. (kan)

Kontak Senjata di Sampoiniet, 1 Tewas

LHOKSEUMAWE -
Dilaporkan, aparat keamanan berhasil menyita satu pucuk senjata api SP dari
korban yang tewas tertembak serta sejumlah barang bukti
lainnya di lokasi kejadian. Korban meninggal diidentifikasi bernama Bukhari
(36), penduduk Desa Buket Rata Kecamatan Simpang Ulim,
Aceh Timur.
Namun menurut Wakil Panglima GAM Wilayah Pase, Sofyan Daud, korban meninggal
bernama Ruslan Hasan yang termasuk anggota pasukan elit
GAM dan memegang senjata SP produksi Pindad. Jenazah korban kemudian
dievakuasi aparat ke Puskesmas Baktya.
Sofyan Daud merasa kehilangan anggotanya dan senjatayang dsisita aparat.
Namun, ia berjanji akan melakukan tueng bila (balas
dendam). Ia juga membantah mencegat aparat, tapi pasukannya kepergok dengan
aparat ketika hendak ke luar dari Desa Singgah Mata.
Sofyan bisa menerima perlakuan aparat yang tidak mengganggu masyarakat lain
yang tidak bersalah. "Namun kami sesali ada seorang
remaja yang tertembak," ungkap Sofyan yang tidak mengetahui nama korban
dimaksud.
Kapolres Aceh Utara Superintendent Drs Abadan Bangko SH mengatakan, kontak
senjata itu bermula dari penyanggongan terhadap lima unit
truk prajurit TNI yang sedang meluncur dari Lhokseumawe ke arah timur.
"Sesampainya di Desa Singgah Mata, aparat diserang sekitar
20-an anggota GBPK hingga terjadi kontak senjata," kata Kapolres yang
didampingi Perwira Penghubung Penerangan Senior Inspektur Abdi
Darmawan SH, kemarin sore.
Selain menewaskan seorang anggota kelompok sipil bersenjata, aparat juga
berhasil menyita barang bukti berupa 108 butir peluru SP,
tiga magazen SP, dua unit handy talki, 32 butir selongsong peluru SP, satu
jaket loreng, satu butir peluru AK-47, serta satu pucuk
senjata laras panjang SP. "Semua barang bukti kini diamankan di Polsek
Baktya," ungkap Kapolres.
Suasana di Keude Sampoiniet yang biasanya ramai mendadak sepi. Warga
berlarian pulang ke rumahnya masing-masing menyusul aksi duel
senjata antara kelompok GAM dengan TNI/Polri di kawasan kuburan umum Desa
Singgah Mata. Sejumlah warga menghentikan aktifitasnya.
Mereka dilapokan tiarap ke tanah untuk menghindari peluru nyasar.
Sampai pukul 16.00 WIB, situasi keamanan daerah itu masih mencekam. Aparat
keamanan masih berjaga-jaga di Simpang Rujak, Sampoiniet.
Menurut warga di lokasi, pada pukul 12.30 WIB, mereka mendengar satu letusan
senjata seperti bom, kemudian menyusul dengan tembakan
senjata laras panjang yang tidak henti-henti selama 30 menit.
Kendaraan yang melintasi Jalan negara Medan-banda Aceh sempat tertahan selam
2,5 jam lebih. Aparat keamanan terlihat melakukan
pemeriksaan para penumpang. Bus jarak jauh, tertahan di Pantonlabu dan
terminal bus Lhoksukon selama kontak itu pecah, kata penduduk
Pantonlabu.
Polsek diserang
Kontak senjata juga terjadi di Polsek Gandapura Kabupaten Bireuen, pukul
01.30 WIB dinihari kemarin, setelah markas polisi tersebut
diserang dari tiga arah. Dalam peristiwa itu, tidak ada laporan korban jiwa.
Kecuali, kaca nako dan atap seng Mapolsek rusak.
Menurut Kapolres, kontak senjata yang terjadi selama 15 menit itu berawal
dari penyerangan dari tiga arah, masing-masing arah utara,
timur, dan selatan.
Penyerangan itu dilukiskan Kapolres terjadi secara dadakan dari arah
belakang markas dengan senjata jenis GLM. Tidak lama berselang
muncul serangan dari arah samping. Sementara, para anggota Mapolsek segera
melakukan penembakan balasan dan mengejar para pelaku.
Tapi, kelompok penyerang telah meninggalkan lokasi dan melarikan diri.
Di lokasi kejadian, aparat menemukan barang bukti beberapa selongsong peluru
GLM, selongsong peluru senjata jenis AK yang diduga
dimiliki kelompok GAM.(juf/ib/ham)

Ekses Truk TNI Terjungkal, Sejumlah Warga Mengaku Dianiaya

LHOKSEUMAWE - Sekitar 30-an orang penduduk Desa Alue Drin, Lhoksukon Barat,
Aceh Utara, Senin (18/9) pagi mengadukan halnya ke Pos
Bantuan Hukum Aceh Utara. Mereka mengaku diniaya dan lima orang ditangkap
aparat keamanan saat sebuah truk TNI terjungkal di desa
mereka, Minggu (17/9).
Menurut keterangan pelapor sebagaimana disampaikan Direktur Pos Bantuan
Hukum Lhokseumawe Yusuf Ismail Pase SH, sebanyak lima warga
desa ditangkap usai truk aparat terbalik, masing-masing Sulaiman Abdullah
(30), Abdul Razak (25), Tarmizi (36), Syarifuddin (59) dan
Usman Abdullah (28).
Di antara mereka, ada yang ditangkap ketika berada di warung kopi, ketika
pulang menjenguk keluarganya di rumah maupun yang berada
dekat insiden itu terjadi. Bahkan, sejumlah barang di warung kopi
diobrak-abrik, sebut mereka.
Sementara, Nurdin, Baktiar, Ferry, Khairul Razak, Syasuardi dan Idris Hasan
mendapat penganiayaan saat insiden itu terjadi. Mereka
mengalami luka berat dan ringan, walaupun tidak serius.
Ditambahkan saksi mata, insiden tersebut murni kecelakaan, bukan
penyerangan. Truk aparat, setelah terbalik menambrak tangki air
Exxon Mobil. Saat itulah salah satu ban kendaraan meledak.
Tapi, dalam insiden yang melukai delapan aparat itu, menurut Kapolres Aceh
Utara Superintendent Abadan Bangko SH, truk diserang
dengan GLM oleh kelompok sipil bersenjata.
Yusuf Ismail Pase setelah menerima pengaduan itu menyebutkan, keluarga
mengharapkan jalan keluar dan kalau memang bersalah diproses
sesuai hukum yang berlaku. "Untuk sementara, kita akan menanyakan kepada
pihak terkait, bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya,
kenapa mereka ditangkap dan di mana ditahan, sehingga keluarga tidak
gelisah. Di samping melaporkan ke Banda Aceh, dan pihak-pihak
terkait lainnya," tambah aktivis HAM ini.
Warga juga melaporkan ikhwalnya ke ICRC dan Mapolres Aceh Utara. Kapolres
Aceh Utara Superintendent Abadan Bangko SH, menurut
Direktur Pos Bantuan Hukum, berjanji akan menyelidiki dan mencari
orang-orang yang ditangkap sebagaimana pengaduan yang disampaikan
masyarakat. Di Mapolres tidak ada, dan akan dilakukan pengecekan ke Polsek -
Polsek atau pos aparat keamanan, ujar Yusuf mengutip
penjelaasan Kapolres. (tim)

Pengungsi Meureudu Pulang, Ulim Kekurangan Pangan

SIGLI - Ribuan pengungsi dari sejumlah desa di Kecamatan Meureudu, Pidie,
kini sudah kembali ke rumah masing-masing. Sementara
sekitar 1.500 warga Ulim, hingga Senin (18/9) masih bertahan. Keberadaan
mereka perlu mendapat perhatian. Selain kekurangan
logistik, juga bakal terserang berbagai jenis penyakit.
Dari sekitar 2.800 jiwa penduduk Desa Blang Awe, Senong, Rungkom, Sarahmane
dan Lhoksandeng yang mengungsi, Ahad (10/9) pekan lalu,
sebanyak 2.500 orang diantaranya sudah meninggalkan kamp. Sedangkan sisanya
(300 orang lagi), hingga kemarin mengaku belum berani
pulang karena alasan faktor keamanan. Apalagi, sebagian di antara mereka tak
memiliki tempat untuk berteduh.
Pengecekan Serambi kemarin, penduduk yang masih bertahan di komplek Masjid
Al-Munawwarah Simpang Empat Babah Jurong adalah warga
Desa Sarahmane dan Lhoksandeng. Kedua desa tersebut berada jauh ke
pedalaman, berjarak sekitar 13 Km dari jalan raya Banda Aceh -
Medan. "Kami belum berani kembali ke desa. Insya Allah, kalau kondisinya
sudah mengizinkan, kami segera pulang," kata Sulaiman warga
Sarahmane.
Sedangkan sebanyak 1.500 pengungsi yang menempati kamp di Komplek Masjid
Al-Ikhlas Naroue Kecamatan Ulim berasal dari Desa Blang
Usi, Reuleut, Cot Seutuy, Blang Rheue, Lhok Gajah dan Desa Masjid. Mereka
mengungsi sejak Ahad pekan lalu karena alasan serupa.
Semua harta benda termasuk hewan ternak dibiarkan telantar tanpa ada yang
menghiraukan.
Mustafa dan M Yunus, keduanya penduduk Desa Lhok Gajah, kepada Serambi
mengaku, karena ikut mengungsi sejumlah ternak sapi dan
tanaman cabe terpaksa dibiarkan begitu saja. "Kami tak tahu kondisi hewan
ternak dan kebun. Ketika berangkat, yang penting kami
menyelamatkan diri lebih dulu," ujar Yunus dengan nada prihatin.
Hal senada juga dilontarkan M Nur, pengungsi Cot Seutuy. Dikatakan, meski
hingga saat ini masih berada di kamp, tapi rencana untuk
kembali ke desa tetap ada. Konon lagi semua harta benda termasuk hewan
ternak mereka tinggalkan begitu saja tanpa ada orang yang
menghiraukannya. "Sebenarnya, kami tak ingin berlama-lama di pengungsian.
Tapi karena takut hal serupa kembali terulang, kami
terpaksa menghindar sementara," katanya.
Kehidupan warga di pengungsian memang menyedihkan. Terlebih dalam beberapa
hari terakhir kawasan itu sering diguyur hujan lebat.
Sehingga kamp beratap terpal persis bagaikan kolam terapung. Kondisi
demikian akan mengundang berbagai jenis penyakit. Malah,
belakangan ini sejumlah anak-anak dan orang lanjut usia (lansia) mendapat
serangan berbagai jenis penyakit.
Selain itu, dikhabarkan persediaan logistik juga semakin menipis. Begitu
pun, mereka tak sempat menahan lapar. Apalagi, masyarakat setempat termasuk
para pemakai jalan raya ikut membantunya, walau pun hanya alakadarnya. Yang
jelas perhatian sesamanya sangat kuat.(ag)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Sep 2000 jam 11:21:05 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke