MEMBANGKITKAN SASTRA  KARO DI  INDONESIA 
   
   
  
  Secara tidak langsung, mau atau tidak mau, sastra Karo merupakan bagian dari 
sastra Indonesia (konteks NKRI). Sebab, khasanah kesusasteraan nasional 
Indonesia, ditopang oleh kesusasteraan daerah yang terdapat dari Sabang hingga 
Merauke. Jadi, yang menjadi substansi kegelisahan, adalah bagaimana agar Sastra 
Karo menjadi eksis dan tidak tenggelam diantara `hiruk pikuk` kesusasteraan di  
Indonesia. 
   
  Agar sastra Karo dapat dikenal secara nasional dan internasional, maka sastra 
Karo itu harus memakai `jalan pengenalan` yang diakui publik sesuai dengan 
segmen sasaran yang ingin dicapai. Misalkan, menggunakan bahasa Indonesia untuk 
tingkat nasional, dan minimal menggunakan bahasa Inggris untuk kalangan 
internasional.
   
  Sementara, penilaian akan kwalitas sebuah karya sastra, cenderung bersifat 
relatif. Karena, ini tergantung `kaca mata` penelahaan yang dipakai si penerima 
(pembaca) karya, dan tergantung bagaimana si pembuat karya menyampaikan pesan  
melalui karyanya. Penilaian tersebut berlaku umum. 
   
  Terlepas dari pergumulan di atas, upaya-upaya untuk menggali dan 
mengembangkan karya sastra Karo, baik yang berkembang di Era Karo Klasik dan 
Era Karo Modern,  perlu terus digalakkan. Dan, agar bisa eksis di tengah 
`hiruk-pikuk` kesusasteraan di Indonesia, maka karya-karya tersebut perlu 
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga dapat menjadi konsumsi 
nasional.  Karya sastra merupakan cerminan sosial sebuah peradaban yang 
mengandung amanah-amanah kehidupan. 
   
  Apakah defenisi sastra Karo ? Apa ciri khas sastra Karo dibandingkan karya 
sastra suku bangsa lainnya yang ada di Indonesia?. Berbicara tentang Karo, 
tentu ada dua poin utama. Yakni orangnya dan alam ulayatnya. Merujuk hal 
tersebut, maka sastra Karo, tentunya adalah karya sastra yang bertautan erat 
dengan 3 unsur berikut, yakni :
   
  1.    Orang Karo (sistem kekerabatan Merga Silima, Rakut Sitelu, Tutur 
Siwaluh dan Perkade-kaden  Sepulu Dua + Sada)
  2.     Alam/wilayah ulayat Karo
  3.    Bahasa penyajian adalah bahasa Karo. Idealnya, menggunakan aksara Surat 
Haru yang dilandasi tulisan Nagari yang dibawa migran dari India sembari 
memperkenalkan agama Budha sekitar abad ke-5. Minimal, menggunakan bahasa Karo 
yang dilandasi huruf latin.
   
  Untuk kwalifikasi pertama dan kedua di atas, adalah hal yang tidak terlalu 
merepotkan untuk masa yang sekarang. Namun, ketika memasuki poin yang ketiga, 
tentu banyak pergumulan  yang perlu direnungkan. Jangankan dulu untuk orang di 
luar Karo, namun, untuk kalangan masyarakat Karo sendiri, diyakini tidak ada 
lima persen pun yang masih memahami Surat Haru. 
   
  Tapi, bilamana untuk kebutuhan lokal, dan tujuan untuk melestarikan warisan 
leluhur, ketiga kwalifikasi di atas perlu dijadikan rujukan utama. Namun 
sebelumnya, upaya untuk membangun pembelajaran tentang Surat Haru perlu terus 
digenjot. Lain hal, kalau Surat Haru tersebut sudah menasional atau 
menginternasional.  Tanggung jawab siapa ini? Apakah ini tanggungjawab si A, si 
B, si C ? Pemerintah ? 
   
  Ah, tiada guna bersedu sedah dan sidalih-dalihen.  Lebih baik memelihara apa 
yang masih ada, sembari mencari apa yang masih terasa hilang. Ih, Naga Bonar 
(terutama yang kedua) ,  dia  bukanlah icon perjuangan Republik Indonesia 
(minimal bagi penulis pribadi). Namun, berkat kepiawaian manajemen-pemasaran 
Dedy Mizwar cs, akhirnya meransang Jusuf  Kalla, Yusril Ihza Mahendra dan 
Saefullah Yusuf (?) menonton bareng film tersebut. Sampai-sampai Media Massa 
Nasional dan Lokal saat itu, terseret untuk memuji si Naga Bonar II. 
   
  Film "Turang", yang kabarnya melukiskan sendi kehidupan orang Karo (secara 
pribadi saya belum pernah menonton), konon kabarnya, pemutaran perdana film ini 
diadakan di Istana Negara, disaksikan presiden Soekarno. Sayang sekali, apakah 
Soekarno mengerti atau tidak tentang Karo/ bahasanya. Semoga Alm. Ir Soekarno 
tidak kesulitan menjiwai amanah yang tersirat di dalam film ini waktu itu. 
   
  Teringat pula aku bung Pram (Pramoedya Ananta Toer). `Singa` Sastra Indonesia 
ini telah menelurkan begitu banyak karya  yang telah diterjemahkan ke dalam 
berbagai bahasa asing (di luar bahasa yang ada Indonesia). Sehingga orang luar 
semakin tahu apa itu Indonesia. Dan orang luar tahu, meski cuma makan tahu dan 
tempe, sekali-sekali ubi ntah jagung, ternyata di negeri nan indah permai ini, 
ada orang secerdas bung Pram.
   
  Teringat pula aku Kupu - kupu Cinta dari kak ita sembiring (sebagaimana 
harapan beliau, agar namanya selalu ditulis huruf kecil). Dan masih banyak 
lainnya.
   
  Konsep ini bukanlah konsep mati. Sebagaimana kaidah sastra, maka dia akan 
berkembang dan tumbuh seiring zamannya. 
   
  (Sebagai intisari tambahan, penulis menganjurkan untuk membaca tulisan, 
Penyair Karo di Mimbar Sastra Indonesia, Simson Ginting, Sora Mido edisi Juni – 
Juli 2007)
   

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke