Minggu, 17 Februari 2008 | 21:29 WIB
TOKYO, MINGGU -- Kebebasan pers di Indonesia berada dalam urutan ke-100 dari
167 negara di bawah Kamboja yang menempati tempat teratas untuk kawasan Asia
Tenggara. Demikian indeks kebebasan pers tahun 2007 yang dikeluarkan lembaga
pemantau media internasional Reporters Without Borders (RWB), Minggu (17/2).
Berdasarkan indeks tersebut, kebebasan pers di negara-negara Asia Timur umumnya
lebih baik ketimbang di kawasan Asia Tenggara. Kebebasan pers di Asia Timur
berada di urutan 30- 40, kecuali Republik Rakyat China (RRC). Bahkan, kebebasan
pers di negara Timor Leste lebih baik ketimbang Indonesia, yaki di posisi ke-92.
Dalam indeks yang hanya memasukkan unsur minimnya kekerasan ataupun ancaman
bagi wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya itu, posisi kebebasan pers
di 10 negara ASEAN secara berurutan adalah; Kamboja (85), Indonesia (100),
Brunei (118), Malaysia (124, dan Filipina di urutan 128. Kemudian urutan ke-6
adalah Thailand (138), diikuti Singapura (141), Laos (161), Vietnam (162) dan
terakhir Myanmar yang menempati peringkat ke-164.
Penilaian indeks itu juga terpisah dari faktor kualitas wartawan di
masing-masing negara. Kematian wartawan dan kekerasan baik langsung maupun
tidak langsung lebih menempati pertimbangan utama.
Di Asia Timur peringkat pertama untuk kebebasan pers ditempati Taiwan yang
berada di urutan ke-32, kemudian diikuti Jepang (37), Korea Selatan (39), Hong
Kong (61). Sedangkan China menempati urutan ke-163, atau nomor tujuh dari
bawah. Sementara, Australia menempati posisi ke-28, jauh di atas Amerika
Serikat, negara yang kerap disebut sebagai sumber kebebasan pers itu menempati
urutan ke-48.
Menurut Kepala Perwakilan Reporters Without Borders (RWB) Tokyo, Michel Temman,
wartawan di Asia perlu bekerja sama secara lebih kuat untuk bisa menghasilkan
kualitas jurnalistik yang tangguh. "Kerja sama akan mendorong tumbuhnya
kegiatan jurnalistik yang berkualitas, dan itu akan mendorong terciptanya iklim
kebebasan pers yang semakin baik," katanya.
Namun demikian, kata Temman yang bekerja untuk harian terkemuka Perancis,
Libertion FR, pers Asia harus segera membenahi dirinya sehingga akan cepat
mencari bentuknya yang kuat ditengah tekanan globalisasi media. "Hal mendasar
yang perlu terus dipertahankan untuk menjadi wartawan yang baik adalah dengan
berada di lapangan. Mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi," kata Temman
yang pernah mengalami pahitnya meliput di Timor Leste saat berpisah dari
Indonesia.
Temman menyampaikan, kecenderungan globalisasi media telah menjadikan media
sebagai industri yang cenderung mengabaikan kualitas jurnalistik. Padahal pers
merupakan perpanjangan tangan dari hak-hak sipil publik. "Dalam kondisi seperti
itulah dibutuhkan pers yang secara bebas dapat mewakili publik untuk mengakses
informasi," ujarnya lagi. (ANT)
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.