Sabtu, 10-05-2008 Mengungkap 111 Praktik Kotor WartawanBuku Pengkhianatan 
Jurnalis, Sisi Gelap Jurnalisme Kita
 Sisi kotor wartawan biasanya dikenal hanya satu, permisif terhadap urusan 
amplop atau pemberian dari narasumber. 
Tapi, tahukah Anda, ada 111 praktik kotor yang kerap dilakukan jurnalis dalam 
menjalankan profesinya. 
Uniknya, jurnalis di Indonesia, termasuk di Makassar dan Sulsel, sebagian besar 
tak pusing, bahkan untuk urusan yang jelas-jelas kotor tadi, menerima amplop.
 Seorang jurnalis Makassar, Upi Asmaradhana, menuangkan kebobrokan jurnalis itu 
dalam bukunya yang berjudul Pengkhianatan Jurnalis: Sisi Gelap Jurnalisme Kita. 
Buku yang cukup menohok kalangan jurnalis ini diluncurkan Sabtu (10/5) hari 
ini. 
Upi, sapaan akrab kontributor Metro TV Biro Makassar ini, berusaha jujur pada 
profesinya sendiri.  
Manusia modern sepakat bahwa pers adalah pilar keempat demokrasi. Para pekerja 
pers atau jurnalis atau wartawan dengan demikian adalah pejuang demokrasi. 
Tak sedikit memang orang yang mengagumi profesi wartawan sebagai profesi yang 
mulia. 
Tapi, dengan gamblang, Upi menunjukkan bahwa tidak seluruh wartawan adalah 
"malaikat" pengusung idealisme. 
"Terlalu banyak kegetiran yang telah dilakukan para wartawan Indonesia. Kita 
pun harus meminta maaf kepada semua pihak atas fakta kotor yang selama ini 
berusaha kita pungkiri," demikian penggalan tulisan Upi dalam buku tersebut. 
Upi menulis ada 111 dosa wartawan. Mulai dari wartawan amplop, menjadi calo 
liputan, tukang todong narasumber, wartawan juru kampanye, sampai wartawan 
tukang kloning berita. 
Bahkan menurut Upi, ada satu jenis "gratifikasi" kepada wartawan berupa ongkos 
naik haji. 
Di mata Upi, semua itu merupakan pengkhianatan jurnalis. Profesionalisme dan 
idealisme wartawan selalu tampak dalam karya-karyanya. 
"Jika konsep dasar berjurnalis ini dipegang teguh, wartawan akan mengerti untuk 
apa ia bekerja," kata Upi. 
Apa yang melatarbelakangi wartawan bersikap mengkhianati profesinya sendiri?  
Jika diklasifikasi, pengkhianatan itu lebih dominan didorong faktor ekonomi.  
Upi sampai pada kesimpulan, kendati bukan satu-satunya, bahwa kebanyakan 
wartawan di Indonesia tidak sejahtera. 
Fenomena media massa berorientasi pasar menjadi juga ia gugat. Bahkan ada 
beberapa media massa yang sengaja atau tidak sengaja menjerumuskan wartawannya 
pada sikap tak profesional. 
Wartawan dimobilisasi sebagai alat promosi. Tulisannya semata-mata adalah 
iklan. Sehingga unsur objektifitas terabaikan. 
Direktur Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Stanley, juga sepakat dengan 
pemikiran Upi.  
Namun sebagai pejuang demokrasi, kebanyakan wartawan mengalami hal yang sangat 
pahit.  
Apa itu? Kata Stanley, wartawan tak bisa memperjuangkan nasibnya sendiri ketika 
berhadapan dengan perusahaannya. 
Buku setebal 100 halaman ini diterbitkan oleh ISAI. Tulisannya sangat gamblang. 
 
Sayangnya, Upi tidak memaparkan secara terbuka kasus demi kasus. Ia hanya 
melengkapi tulisannya dengan hasil wawancara beberapa wartawan yang namanya 
disamarkan. 
Pada beberapa bagian, tulisan Upi ini bahkan terkesan text book atau seperti 
pelajaran sekolah.  
Gagasannya sebenarnya juga terhitung tidak lagi baru. Namun demikian, buku ini 
cukup bisa membuka jendela, terutama bagi warga umum untuk mengetahui hitam 
putih dunia jurnalis. 
 
Tribun Timur, Selalu yang Pertama  
 
Ada peristiwa menarik?  
SMS www.tribun-timur.com   di 081.625.2233  
email: [EMAIL PROTECTED]  
 
Hotline SMS untuk berlangganan  koran Tribun  
Timur, Makassar  (edisi cetak) : 081.625.2266.  
Telepon: 0411 (8115555)  (furqon madjid)

sumber:   http://www.tribun-timur.com/view.php?id=76714
  

Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke