Minggu, 11/5/2008 | 23:34 WIB                BANDUNG, KOMPAS - 
Pakar Filsafat sekaligus guru besar pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara 
Jakarta, Prof Dr Franz Magnis Suseno mengingatkan bahwa pluralisme merupakan 
syarat mutlak agar bangsa Indonesia yang begitu plural dapat bersatu. Namun dia 
menilai bahwa hingga satu abad pascakebangkitan nasional, Indonesia masih belum 
menghargai keberagaman dan kebhinekaan latar belakang setiap individunya.
"Bangsa yang tidak menghargai pluralisme adalah bangsa yang membunuh dirinya 
sendiri," kata Franz Magnis Suseno di sela-sela acara Seminar Nasional Satu 
Abad Kebangkitan Nasional yang berlangsung  di Kampus Universitas Parahyangan, 
Bandung, Jawa Barat, Sabtu (10
Franz Magnis yang juga rohaniwan itu mengingatkan bahwa pluralisme bukanlah 
pandangan yang mengartikan bahwa semua agama sama, juga tidak berkaitan dengan 
pengertian ihwal manakah agama yang benar dan baik. Pluralisme, tegasnya, lebih 
merupakan pandangan yang berkaitan dengan kesediaan untuk menerima kenyataan 
bahwa dalam masyarakat ada cara hidup, berbudaya, berkeyakinan agama yang 
berbeda.
Dalam penerimaan itu, katanya, orang bersedia untuk hidup, bergaul, dan 
bekerjasama membangun negara. "Pluralisme merupakan syarat mutlak agar bangsa 
Indonesia yang begitu plural dapat bersatu," ujarnya.
Bagi Franz, pluralisme tidak sekedar membiarkan pluralitas, melainkan 
memandangnya sebagai sesuatu yang positif, sebab orang yang pluralis memandang 
dan menghargai sesama dalam identitasnya, termasuk perbedaannya. "Seorang 
humanis dengan sendirinya adalah seorang pluralis," tambanya.
Namun pada saat Indonesia merayakan 100 tahun kebangkitannya, Franz menilai, 
hingga satu abad pascakebangkitan nasional, Indonesia masih belum menghargai 
keberagaman dan kebhinekaan latar belakang setiap individunya. "Bangsa yang 
tidak menghargai pluralisme adalah bangsa yang membunuh dirinya sendiri," kata 
Franz.
Dia juga menyayangkan terjadinya intimidasi yang didasarkan pada perbedaan 
kepercayaan dan agama. "Sudah 80 tahun Ahmadiyah hidup dengan tenteram di 
antara kita, tetapi mereka sekarang dikejar-kejar bahkan tempat ibadah mereka 
dibakar. Apakah mereka bukan warga negara yang memiliki hak berkeyakinan 
religius sama dengan yang lain?" kata Franz. "
Padahal, ujarnyam, berdasarkan sejarah, rasa nasionalisme dan kebangsaan di 
Indonesia dari Sabang hingga Merauke tumbuh berdasarkan pengalaman penjajahan 
yang dirasakan bersama. "Jadi nasionalisme Indonesia sebenarnya bersifat etis. 
Dasarnya bukan kesatuan bahasa atau budaya, tetapi tekad untuk hidup merdeka, 
wajar sebagai manusia," jelas Franz.
Sementrara itu guru besar Filsafat pada Universitas Parahyangan, Bambang 
Sugiharto, mencoba melihat munculnya tendensi pengerasan identitas pada 
berbagai kelompok masyarakat di Indonesia. Tendensi ini tercermin dari 
pemelukan erat-erat identitas, seperti kelompok, agama, politik, ekonomi, atau 
budaya yang tertutup dengan cara menyingkirkan atau membunuh segala hal yang 
berbeda.
Keberadaan agama, tradisi sebagai otoritas sistem eksternal baku tidak lagi 
dihormati manusia, tetapi justru dijadikan bahan untuk diperdebatkan satu sama 
lain. "Oleh karena itu, kuncinya berada pada kesadaran diri masing-masing 
kembali menghormati dan toleransi terhadap sesama," ujar Bambang.
Namun, Bambang juga melihat munculnya peluang-peluang baru yang menjanjikan 
bagi masa depan Indonesia. Harapan itu terlihat pada adanya peningkatan 
kesadaran kritis mandiri, seperti fenomena munculnya wajah muda dalam pilkada, 
pro-kontra RUU APP, atau kasus Munir.
Bambang juga melihat adanya peningkatan keterbukaan terhadap kritik, bangkitnya 
gerakan mikro, serta berkembangnya tendensi-tendensi rekonsiliasi. Masa depan, 
katanya, memang bukan milik masyarakat kini, dan demi pewarisan yang baik, 
perlu dikembangkan tendensi-tendensi yang dan intelegensia yang konstruktif. 
"Musuh terbesar adalah diri kita sendiri, karena kita memiliki dua kutub yang 
bertentangan di dalam diri kita," papar Bambang.
Bagi Bambang, bentuk-bentuk eksklusivisme sempit, keserakahan, kebodohan, dan 
ketertutupan hanyalah cara-cara terbaik untuk bunuh diri. Bahkan, cara terbaik 
untuk membunuh generasi masa depan.
Sementara itu, gubernur Jawa Barat terpilih Dede Yusuf mengemukakan, pluralisme 
di dalam bangsa Indonesia sering kali dijadikan sumber konflik. Padahal 
pluralisme yang berakar pada keberagaman etnis, budaya dan agama ini seharusnya 
dijadikan modal dasar pembangunan bangsa.
Oleh karena itu, tegas mantan aktor itu, bangsa Indonesia harus mengembalikan 
ideologi Pancasila sebagai dasar berbangsa dan bernegara . "Ideologi Pancasila 
ini dapat menjadi landasan bagi terciptanya konsep kota multikultur di mana 
pemerintah benar-benar menjamin kebebasan beragama setiap warganya dengan 
menyediakan tempat beribadah secara adil," kata Dede Yusuf.  (A01/A15)  



Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke