Tidak bisa dipungkiri terdapat banyak konflik kepentingan pribadi/golongan di balik kejadian ini. Namun itu semua sah2 saja selama tindakan masih berada di koridor hukum/aturan main yg ada. Saya lebih prefer pada kelemahan aparat kepolisian dalam menanggulangi aksi ini. Aparat kita kurang sigap.
HAJAR !! (bersaHAbat dan seJAhteRa) thanks & best regards, - Candra Ridou Ginting - = WELFARE STATE = ________________________________ ________________________________ Dari: Alexander Firdaust <[email protected]> Kepada: [email protected]; [email protected]; [email protected] Terkirim: Kamis, 5 Februari, 2009 03:19:02 Topik: [infokaro] Ada Apa Dibalik Insiden Sumut? Sumber: http://posmetro- medan.com/ index.php? open=view&newsid=2823 SOROTAN masyarakat terhadap kasus meninggalnya Ketua DPRD Sumut Abdul Aziz Angkat lebih dibidikkan kepada persoalan lemahnya pengamanan dari aparat kepolisian. Padahal yang lebih mengerucut lagi bisa diarahkan ke kinerja intelijen. Bagaimana pandangan DR.AC Manullang? Berikut wawancara Soetomo Samsu, kru POSMETRO MEDAN, dengan pengamat intelijen ternama di Jakarta itu. POSMETRO MEDAN (PM) : Bagaimana Anda melihat kasus tragedi tewasnya Ketua DPRD Sumut? AC Manullang (AC) : Masalah pembentukan Provinsi Tapanuli itu kan sebenarnya sudah ramai sejak dua tahun lalu. Nah, masyarakat yang menghendaki provinsi itu tampaknya menggunakan kesempatan setelah adanya pergantian gubernur, dan kemudian pergantian Ketua DPRD yang sebelumnya dijabat (Abdul Wahab) Dalimunthe. Gubernur yang baru sudah memberi persetujuan, mereka tekan juga Ketua DPRD yang baru. PM : Dari aspek pengamanan? AC : Saya juga heran, mengapa aparat kepolisian atau pun jaksa yang juga punya aparat intelijen tidak memiliki data sehingga peristiwa itu terjadi. Ini sungguh disayangkan. Terjadi pemukulan terhadap pejabat negara loh. Ini luar biasa. Boleh saja disebut karena jantung, tapi kambuhnya jantung kan karena dipukuli. PM : Maksud Anda, kinerja aparat intelijen buruk? AC : Saya melihatnya begini. Di sini juga ada orang dalam DPRD yang terlibat, sehingga massa bisa tahu pintu masuk dan timingnya tepat yakni saat ada paripurna. Lantas, kalau polisi merasa kerepotan, mestinya minta back up dari tentara. Mestinya, sejak dini intelijen tahu karena dia bisa melakukan penyadapan, untuk bisa mengetahui siapa sponsor mereka dan apa yang akan menjadi sasaran aksi. Kalau sudah tahu aktor intelektualnya dan sasaran aksi, intelijen bisa mencegah secara dini dengan mendekati aktornya itu, untuk mengingatkan jangan bertindak anarkhis. Nah, saya juga melihat ada kesalahan fatal dari aparat yang mencoba mengamankan Abdul Aziz dengan membawanya ke ruang kerjanya. Seharusnya, dalam situasi seperti itu Abdul Aziz diselundupkan dan disamarkan sebagai orang yang ikut demonstrasi. Intelijen juga harus tahu orang-orang yang dikerahkan itu dari Ormas mana. Saya juga mempertanyakan peran Gubernur. Mestinya dia juga punya data intelijen karena punya staf di bagian Kesbang. PM : Siapa sih dalangnya? AC : Selain ada di Medan, bukan tidak mungkin aktor intelektualnya ada di Jakarta. Sebab Jakarta punya perhatian yang serius mengenai Provinsi Tapanuli. Juga perlu diingat, selalu ada keterkaitan politik di Sumut dengan politik di Jakarta. Sebaliknya, politik di Jakarta punya keterkaitan dengan Sumut, terlebih pro kontra Provinsi Tapanuli itu cukup tajam. PM : Konkritnya seperti apa? AC : Saya kasih contoh. Siapa tahu ada orang Jakarta yang ternyata lebih menghendaki terbentuknya Provinsi Nias, Provinsi Batak Karo, Batak Simalungun, atau yang lain. Yang perlu diingat lagi, ini mendekati Pemilu. Saya melihatnya ini bagian integral Pemilu 2009. Titik-titik rawan Pemilu 2009 menjadi bertambah, tak hanya Aceh, Maluku, atau pun Papua. PM : Lantas siapa yang harus disalahkan? AC : Saya sebagai pengamat intelijen tidak pernah menyalahkan siapa pun.*** Salam Mejuah Juah Karo Cyber Community Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan Gratis.http://downloads.yahoo.com/id/firefox
