Mantan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy pernah berujar kepada
para pemudanya yang akan terjun ke neraka hijau Vietnam, "Jangan tanya
apa yang kamu dapatkan dari negara ini, tapi tanya apa yang bisa kamu
berikan kepada bangsa ini!"




Slogan ini seakan cocok diterapkan pada seorang pelaku bisnis tenun
tradisional bernama Sahat Tambun, sosok yang tidak pernah memikirkan
berapa keuntungan yang dia dapatkan dari menenun dan berdagang kain,
tetapi menganggap apa yang dilakukan ini penting untuk bangsanya.




Baginya, tenun adalah sebuah warisan nenek moyang. Oleh sebab itu,
Sahat Tambun sengaja mempertahankan usaha kerajinan tenun Uis di
Kabanjahe Sumatra Utara.




Lulusan Institut Teknologi Tekstil Bandung ini sadar, jika tidak
dipertahankan, Uis perlahan-lahan akan dikenal orang hanya sebatas nama.





Sebagai kain tradisional masyarakat suku Batak Karo, Uis menjadi bagian dari 
perangkat adat yang tidak terpisahkan.





Uis Karo adalah nama lain dari Ulos yang dikenal di tanah Samosir. Fungsinya 
juga sama, sebagai pakaian adat.




Namun, motif yang berbeda dan warna yang lebih mencolok, membuat orang
suku Batak Karo menamakan kain tenun ini dengan sebutan Uis.




Dalam upacara adat, dikenal beberapa nama Uis. Ada Uis Beka Buluh yang
biasa dikenakan sebagai ikat kepala kaum pria Karo, Uis Jongkit Dilaki
untuk sarung pria, Uis Gatip untuk penghias kepala perempuan, Uis Nipes
sebagai selendang pesta kaum perempuan, Uis Ragi Barat untuk selendang
pesta kaum perempuan, Uis Julu untuk sarung, dan Uis Teba sebagai
penutup kepala.




Masing-masing memiliki motif, warna, dan fungsi pemakaiannya
sendiri-sendiri. Warna yang digunakan didominasi gara-gara atau merah
kehitaman dan merah keemasan.




Konon, kondisi geografis tanah Karo yang subur membuat sebagian besar
masyarakatnya mengalihkan usaha mata pencarian dari penenun menjadi
petani.




Sejak saat itulah tenun Uis banyak ditinggalkan masyarakat Karo yang
lebih disibukkan dengan usaha menanam kopi, cengkih, dan palawija
lainnya.




Namun, di tengah hiruk pikuknya pasar tradisional yang menjual aneka
hasil bumi khas tanah Karo, Sahat tetap bertahan dengan upaya mendulang
rupiah lewat usaha kerajinan tenun Uis.




Apalagi sebagai insinyur teknik tekstil, pria kelahiran Kabanjahe 56
tahun lalu ini mengenal seluk- beluk metode menenun mulai dari alat
tenun tradisional gedogan yang lebih mengandalkan tenaga manusia hingga
alat tenun bukan mesin (ATMB).





Membangun udik




Berbekal pengetahuan tenun dari bangku kuliah dan pengalaman melalang
buana hingga ke tanah Jawa, bapak tiga anak ini akhirnya mudik dan
memberanikan diri mendirikan usaha kerajinan Uis Karo di rumah
orangtuanya di Kabanjahe pada 1992.




"Dulu saya magang hingga ke Gresik, Majalaya, sampai saya berpikir
kenapa tidak membuat usaha tenun di kampung halaman sendiri dan
beradaptasi dengan perajin bukan sarung dan Uis yang ternyata lebih
menguntungkan," pemilik Pertenunan Trias Tambun ini bercerita.




Berbekal pengalaman dan pendidikan akademis yang dimiliki, Sahat
akhirnya mampu membuat inovasi baru untuk tenun Uis berupa metode
gedogan yang dia ubah dengan menggunakan ATBM.




Jika orang kuno biasa menenun gedogan karena pembuatan kain adat
kerapatan benang Uisnya sangat tinggi, di tangan Sahat kesulitan yang
dihadapi para penenun ATBM bisa diatasi.




Dengan teknik yang dia ciptakan itu pula, Sahat bisa memperkenalkan
lurik Uis Karo lewat ATBM yang dahulu tidak dikerjakan para penenun
gedogan.




Sahat juga bisa membuat aneka variasi benang dan warna dalam satu kain
Uis Karo yang ternyata lebih disukai para peminat kain tradisional luar
Kabanjahe.




"Saya juga berhasil mengetahui kerapatan benang di tenun ATBM yang saya
temukan dengan rumus secara akademis. Pakai teori saja," ujarnya.




Kelebihan inovasinya ini terletak pada efisiensi waktu pembuatan dan
mutu kain yang lebih baik jika dibandingkan dengan metode gedogan.





Dengan ATBM, kapasitas produksi Uis Karo motif Beka Buluh, Ragi Barat, dan 
Lurik, bisa meningkat hingga 120 lembar per bulan.




Selain itu motifnya juga berkembang tidak hanya merah dan keemasan
saja, tetapi bisa diberi variasi warna lain meski tidak keluar dari
patron motif dan corak adat.




"Orang bosan dengan motif monoton, dan Uis kini bisa dibuat dasi yang
bisa dijual ke luar negeri," ujar Sahat yang berharap ada kesempatan
pameran ke luar negeri untuk membuat Uis Karo makin dikenal publik
mancanegara.




Untuk masa mendatang Sahat bahkan berniat mengaplikasikan motif khas
suku Karo yang biasa dijadikan ornamen rumah adat untuk dibuat dalam
bentuk motif Uis Karo.




Selain bernilai jual tinggi, Sahat berniat mempertahankan budaya asli
Karo yang nenek moyangnya semula adalah para penenun, untuk kemudian
diwariskan ke anak cucu kelak. Ibarat sebuah slogan, kalau bukan kita,
siapa lagi? ([email protected])





Oleh Th.D.Wulandari


Wartawan Bisnis Indonesia



Sumber: http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/oasis/1id155842.html

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke