Mungkin bisa jadi bahan perenungan..
dari milis tetangga


> Gara-gara Miskin, Bayi Sakit Ditolak Enam RS
>
>
> Ciracas, Warta Kota
>
>
> Bayi berusia sepekan dipingpong oleh enam rumah sakit selama 11 jam.
> Padahal, bayi itu sakit kuning. Si orok bernama Muhammad Zulfikri yang
> lahir prematur itu merupakan pasangan Husein (22) dan Lailasari (20).
>
>
> Husein-Lailasari harus berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit
> lainnya selama 11  jam, dari pagi hingga malam, untuk mencari rumah sakit
> yang mau merawat Zulfikri yang sakit kuning. Setelah ditolak di enam rumah
> sakit, Zulfikri akhirnya bisa dirawat di  RS Harapan Bunda, Pasar Rebo,
> Jakarta Timur. Hingga Senin (25/8) malam, Zulfikri masih dirawat di
> inkubator.
>
>
> Husein-Laelasari tinggal di rumah kontrakan yang sederhana di RT 09/7
> Kelurahan Makasar, Jakarta Timur. Zulfikri sebagai anak pertama lahir dari
> tangan dukun bernama Ny Dadan pada Rabu 13 Juli 2005 pukul 07.00 WIB
dengan
> berat hanya 1,4 kg. Bayi tersebut lahir prematur karena usia kandungan
> Lailasari baru tujuh bulan.
>
>
> Semula Husein dan Lalilasari tidak melihat kejanggalan pada diri Zulfikri.
> Mereka hidup bahagia dengan kehadiran jabang bayi tersebut. Kegundahan
> mulai mendekat setelah rumah kontrakan mereka kebanjiran pada Senin 18
> Juli. Si kecil yang baru berusia lima hari itu pun dibawa mengungsi ke
> rumah kakak Husein. Setelah air surut, Zulfikri baru dibawa pulang. Tapi
> Husein dan Lailasari mendapati mata serta kulit anak mereka berwarna
> kuning. Tubuh Zulfikri juga terlihat lemas.
>
>
> "Semula kami membiarkan dia seperti itu. Tapi karena kondisinya semakin
> lemah akhirnya kami membawa Zul ke Puskesmas Pinang Ranti. Kami tiba di
> puskesmas pukul 09.00 WIB. Petugas puskesmas mengatakan anak saya sakit
> kuning dan harus dirawat di rumah sakit," ujar Husein yang mengaku bekerja
> sebagai kuli bangunan.
>
>
> Petugas puskesmas lantas memberikan surat rujukan agar Husein membawa
> Zulfikri ke RSUD Budhi Asih yang terletak di kawasan Cawang. Uang di saku
> Husein masih cukup tebal, Rp 250.000. Tanpa pikir panjang, Husein dan
> istrinya langsung membawa Zul ke Budhi Asih. Mereka naik taksi biar
> cepat.Tiba di Budhi Asih, Zul langsung ditangani petugas IGD. Namun
> lantaran berat badannya hanya 1,4 kg, petugas medis angkat tangan.
>
>
> "Alasannya hanya berat badan si Zul kurang. Jadi, Zul tidak bisa dirawat
di
> Budhi Asih. Saat itu kondisi Zul semakin pucat dan lemas. Kami sangat
> bingung. Lalu petugas menyarankan saya ke RSCM saja," timpal Lalilasari
> yang menyebutkan bahwa penghasilan suaminya sebagai kuli bangunan hanya Rp
> 35.000 per hari.
>
>
> Perjalanan melelahkan
>
>
> Jarum jam menunjukkan angka 11.00 WIB. Cuaca terik menerpa Husein dan
> Laliasari yang masih menggendong anak mereka. Setelah menyusuri jalan
> sepanjang kurang lebih 100 meter, mereka menyetop taksi dan bergegas
menuju
> ke RSCM. Di RSCM, Zulfikri tak langsung ditangani.
>
>
> Yang mencengangkan buat Huesin dan Lailasari adalah pernyataan petugas IGD
> bahwa RSCM tidak memiliki peralatan untuk menangani Zulfikri. Petugas
rumah
> sakit itu juga mengatakan seluruh kamar di RSCM sudah terisi penuh.
> "Lagi-lagi kami disuruh untuk pergi ke rumah sakit lain. Kali ini mereka
> menyuruh kami ke RSPAD Gatot Subroto. Karena kepingin anak saya sembuh
> akhirnya kami kembali menyetop taksi untuk ke rumah sakit tersebut," ujar
> Husein.
>
>
> Di rumah sakit yang megah tersebut, Husein dan Lailasari langsung menuju
> Ruang IGD. Belum juga anak mereka diperiksa oleh petugas jaga IGD. Salah
> seorang petugas IGD malah menghampiri Husein serta Lailasari untuk
> menyelesaikan administrasi serta biaya perawatan. "Mereka bilang apakah
> saya sanggup membayar biaya perawatan Rp700.000 per harinya. Karena
> kepingin anak saya sembuh saya menyanggupinya, urusan uang bisa belakangan
> asalkan nyawa anak saya selamat. Tapi beberapa saat kemudian petugas rumah
> sakit itu kembali dari kantornya dia bilang bahwa seluruh ruang penuh,"
> ujar Husein.
>
>
> Dalam kegalauan yang teramat sangat, akhirnya Husein serta Lailasari
> kembali menggendong anaknya meninggalkan ruang IGD RSPAD. Di tepi jalan,
> Husein harus berpikir keras kemana lagi harus pergi untuk menyelamatkan
> nyawa anaknya.
>
>
> Tiba-tiba dia didatangi oleh seorang tentara angkatan laut yang tengah
> menunggu angkutan. Tentara itu cukup iba melihat kondisi Muhammad Zulfikri
> yang tubuhnya sangat kecil dan berkulit kuning. Setalah Husein
menceritakan
> perihal kondisi anaknya, akhirnya tentara tersebut menganjurkan Husein
> membawa anaknya ke Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo, Bendungan Hilir,
> Tanah Abang.
>
>
> Lagi-lagi karena ingin anaknya tetap hidup, Husein dan Lailasari membawa
si
> kecil ke Benhil. Meski duit mulai menipis, Husein tetap pilih taksi biar
> cepat. Pukul 15.00 WIB, mereka tiba di RS Mintoharjo. "Di sana kami
sedikit
> lega karena anak saya ditangani dengan cekatan. Namun kelegaan itu kembali
> hilang ketika mendengar petugas yang bilang rumah sakit tidak memiliki
> peralatan lengkap untuk menangani Zul," kata Husein.
>
>
> Husein dan Lailasari belum putus asa. Mereka berkeliling dari koridor ke
> koridor RS Mintoharjo. Mereka berjumpa dr Cici. Setelah melihat kondisi
Zul
> yang semakin pucat, dr Cici memberikan duit Rp 100.000. "Dokter itu juga
> menawarkan jasa untuk mengantarkan kami ke Rumah Sakit Harapan Kita," ujar
> Lailasari.
>
>
> Jangankan diobati, ditengok pun tidak. Petugas Rumah Sakit Anak dan
> Bersalin (RSAB) Harapan Kita langsung menolak Husein tanpa alasan yang
> jelas. Lagi-lagi Husein harus menggendong anaknya untuk pergi. Sama
seperti
> di RS Mintoharjo, dalam kegalauan Husein, datanglah seorang pria yang
> bekerja sebagai sales obat. Pria itu tengah duduk-duduk di ruang tunggu
> RSAB.
>
>
> "Bapak itulah yang mencoba menelepon ke beberapa rumah sakit dan pada
> akhirnya dia yang menganjurkan saya ke RS UKI. Kami lalu diantar oleh
mobil
> dr Cici ke RS UKI. Di sana bayi kami langsung diperiksa. Tapi lagi-lagi,
> lantaran peralatan kurang memadai, akhirnya mereka menganjurkan kami
> membawa Zul kami ke rumah sakit lain," ujar Lailasari. Matanya mengambang
> ketika bercerita.
>
>
> Petugas RS UKI memberikan empat alternatif rumah sakit yang kemungkinan
> bisa menangani Zulfikri, yaitu RS Harapan Bunda di Ciracas, RS Hermina, RS
> Thamrin, dan RS Pasar Rebo. "Lantaran RS Harapan Bunda paling dekat dengan
> rumah kami,  akhirnya kami ke sana. Karena mobil bantuan dr Cici sudah
> pulang, akhirnya saya kembali menyetop taksi," ujar Husein.
>
>
> Husein dan Lailasari tiba di RS Harapan Bunda sekitar pukul 20.00 WIB. Zul
> kembali ditangani oleh perawat. Kali ini Husein tidak mau terjebak oleh
> kelegaan semu seperti sebelumnya. Ia ingin langsung booking kamar, berapa
> pun tarifnya. Tapi kegundahan kembali menyergap ketika dia tahu bahwa uang
> di saku tersisa Rp 15.000. Padahal, RS Harapan Bunda meminta Rp 1 juta
> untuk perawatan Zul secara khusus. Karena tidak punya uang, petugas
meminta
> mengusahakan uang Rp 500.000. Husein menyangggupinya.
>
>
> Dia lantas mengandalkan Sri Mulya, kakak kandungnya, agar mencarikan
> pinjaman. "Sementara saya mengurus bayi saya, kakak saya mencari pinjaman.
> Pukul 23.00 WIB dia datang bawa uang Rp 250.000. Uang tersebut langsung
> kami serahkan kepada perawat untuk keperluan obat," ujar Lailasari yang
> mengaku sehari-hari bekerja sebagai penjual gorengan.
>
>
> Kali ini Husein dan Lailasari benar-benar bernapas lega karena akhirnya
ada
> juga rumah sakit yang mau merawat anaknya dengan uang jaminan Rp 250.000.
> Mereka sudah begitu lelah akrena berkeliling Jakarta sejak pukul 09.00 WIB
> hingga pukul 20.00. Hingga Senin (25/7) petang Husein mengaku belum
> mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya pengobatan anaknya.
>
>
> "Petugas rumah sakit hanya menganjurkan saya agar mengurus kartu miskin.
> Selama empat hari ini saya sudah mengurusnya. Tadi siang surat itu sudah
> jadi dan sudah saya serahkan ke rumah sakit," ujarnya dengan mata
berbinar.
> (Mur)
>
>
>  Sumber:  warkot
>  Penulis:        Nik



Milis ini merupakan ajang pertukaran informasi seputar masalah Sepeda Honda 
Karisma antar sesama pengendara dan Pencinta sepeda motor Honda Karisma.

Kalau ingin me-reply, mohon pesan yang tidak di perlukan dan sudah panjang di 
hapus agar message tidak terlalu panjang

Jangan mem-posting message yang tidak ada Hubungannnya dengan Milis ini, SPAM 
Mail, Junk Mail, SARA.

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/karisma_honda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

<<attachment: pic00041.jpg>>

Kirim email ke