Dear All,

Met tahun baru 2007, semoga semua keinginan dan harapan rekan-rekan bisa 
terpenuhi di tahun ini.
Maaf kalau kurang berkenan, saya hanya ingin membagi sedikit cerita yang 
mungkin bisa diambil hikmahnya. Tapi yang jelas ada beberapa pertanyaan yang 
masih belum bisa saya jawab di akhir cerita ini, tolong kasih tahu ya... 
Makasih...

Cerita ini bermula di satu pagi dimana matahari belum benar2 menampakan 
wujudnya di minggu terakhir Desember 2006. Seperti biasa aku bersama si 
Angelina Jolie, lebih akrab saya panggil "Angie" melesat membelah aspal yang 
masih dingin di sepanjang jalan raya Bogor. Hentakan lagu "Welcome to my 
paradise" yang keluar dari MP3 player butut turut memberikan keceriaan di pagi 
itu. Sedikit manggut-manggut mengikuti irama lagu boleh jadi sedikit 
membingungkan pengendara motor di kiri kanan yang sama-sama tertahan traffic 
light. Aku sempat hitung dalam hati jumlah sepeda motor yang berada di depan, 
kiri dan kanan ku. 27 motor sepagi ini sudah ngeriyung di satu lampu merah. 
"Luar biasa semangat orang-orang ini" pikirku dalam hati. Maklum sepagi ini 
mereka sudah antusias ingin segera menuntaskan kewajibannya sebagai manusia di 
bumi. Lampu masih kuning dan belum hijau, tetapi wusss...wusss...wusssss hampir 
secara bersamaan semua menghentakkan gas-nya. Karena yang di belakang Angie 
sudah nggak sabar juga dan terus membuyikan sirene, jadilah si Angie ku paksa 
mengekor rombongan di depan. "Kampret nih orang, nggak sabar amat!" omelku 
membathin.

Hitungan kilometer belum mencapai 1, tiba-tiba semua pengendara di depanku 
meliuk ke arah kanan seperti menghindari sesuatu dengan kecepatan yang agak 
diperlambat. Aku tarik rem depan dan kuinjak rem belakang secara bersamaan 
menghindari semua motor di depan kiriku yang langung memotong dan meliuk ke 
arah kanan secara tiba-tiba. Angie melaju semakin perlahan hingga sesuatu sudah 
ada di hadapannya. Yah ini dia penyebab semua pengendara menghindarinya. ,.. 
satu sepeda motor merek "Shogun" tergeletak. Pengendaranya tergeletak 3 meter 
dari mesin tunggangannya yang berkapasitas 125 cc itu, namun terlihat sekali 
kalau ia berusaha bangkit.

Tanpa berpikir lama segera kusilangkan Angie menutupi jalan searah ini, tidak 
lupa kubisikan ke telinga Angie, "Maaf darurat dan nggak usah protes. Kalau ada 
yang nubruk anggap aja kamu lagi sial hari ini, tapi tenang aja nanti gue bawa 
ke bengkel yang cihuy". Angie nggak bisa berkata apa-apa, hanya diam dan 
melirik sinis juragannya yang meninggalkannya, Sementara dari matanya nampak 
jelas kekhawatiran kalau-kalau ada yang iseng senggal senggol bodynya yang 
lumayan aduhai.

Segera kuberlari kecil menghampiri si pengemudi yang masih berusaha bangkit. 
"Gimana pak, bisa bergerak?" tanyaku kepadanya sambil memegang bahu kirinya. 
"Bisa, tapi mungkin kaki kiri terkilir susah sekali di gerakkan" jawabnya 
sambil menahan rasa sakitnya. "Ok, kita berusaha minggir dulu, ayo saya bantu, 
gunakan kaki kanan untuk berpijak" Tangan kirinya disilangkan ke bahuku, dengan 
sekuat tenaga dia berusaha berdiri dengan dibantu olehku. Perlahan kami 
berjalan ke tepi. Setelah aku merasa aman kalau si pengendara tidak lagi berada 
di tengah jalan, aku segera menghampiri sepeda motornya yang masih tergeletak. 
"Hmmm, masih menyala rupanya" gumanku dalam hati. Segera kumatikan, 
kubangkitkan dan kudorong ke tepi. Beberapa barang kecil yang terbawa masih 
berceceran di tengah jalan, raincoat dan rantang plastik. Aku segera ambil 
semua yang tercecer, hingga ketika mengambil rantang plastik hatiku demikian 
tergetar. Semua makanan (yang kuduga sebagai sarapannya) habis sudah 
berantakan. Terbayang olehku betapa mulianya orang yang telah menyiapkan ini 
semua, namun dengan sangat terpaksa semuanya harus tercecer. 

Setelah yakin tak ada yang tercecer dan kugiring Angie ke pinggir, segera 
kuhampiri si pengendara yang masih terduduk lemas. Kukembalikan kunci kontak 
motornya. Kubongkar daypack yang sudah setia menemaniku pergi sekian lama untuk 
mencari sekotak "First Aid" didalamnya. "Ini dia, sudah lama kamu tidak keluar 
dari dalam daypack, sekarang saatnya kamu bekerja" celotehku dalam hati.

"Sebaiknya yang lecet-lecet di berikan ini pak, lumayan mengurangi dan 
menghindari infeksi kalau mungkin terjadi" kataku sambil menyodorkan betad*** 
ke hadapannya.
"Terima kasih" jawabnya sambil menerima obat tersebut.
"Sudahlah mas, nggak apa-apa, silahkan kalau ingin melanjutkan, saya berterima 
kasih sekali" katanya lagi.
"Nggak apa-apa pak" jawabku singkat. "Bapak tersenggol motor2 yang bersama 
bapak tadi?" tanyaku kepadanya sambil menyodorkan sebotol minuman mineral yang 
memang selalu aku bawa dalam daypack. 
"Nggak, saya sudah terjatuh lebih dahulu sebelum mereka dan Mas lewat, tapi 
tadi saya sulit sekali untuk berdiri"
"Hmmm,.. jadi sekian banyak motor yang didepanku tadi tidak ada satupun yang 
berusa menolongnya, cuma menghindarinya. Tega amat tuh orang-orang" pikirku 
dalam hati.

"Luka yang ini saya balut sementara ya pak, kayaknya agak dalam dan lebar." 
pintaku kepadanya sambil menunjuk luka di betis dibalik robekan celananya. "Ya 
silahkan mas, kalau memang perlu, terima kasih loh sudah mau bantu" jawabnya. 
Aku hanya tersenyum saja. Selanjutnya aku memastikan kalau dia sudah berada 
dalam kondisi lebih baik.

"Rumah bapak dimana, lebih baik bapak kembali ke rumah dulu atau apa bapak 
merasa harus ke dokter. Nanti saya antar?" tanyaku. 
"Nggak, nggak usah! Saya sudah bisa berdiri kan? paling keseleo aja" jawabnya 
sambil tersenyum.
Namun aku tahu benar dia hanya berusaha untuk menahan rasa sakitnya.

"Saya tinggal di perumahan A, nggak jauh dari sini kok" katanya lagi.
"Oh iya nggak terlalu jauh pak. Oke deh gini aja pak. Di depan sana ada 
pertigaan, nanti saya panggil tukang ojek untuk antar bapak, kebetulan saya 
kenal dengan satu orang di antara mereka, teman saya sekolah dulu pak"
"Nggak usah mas, kok malah merepotkan" katanya lagi 

"Ngomong2 kok P3Knya lengkap sekali dan keliatannya anak gunung ya, lihat dari 
gayanya?" tanyanya sambil senyum. "Bisa aja pak, kebetulan saja kok. Kalau 
urusan naik gunung emang sudah bawaan lahir" jawabku setengah tertawa.

Selanjutnya kami isi dengan ngobrol sebentar tentang kejadian yang barusan 
menimpanya, sementara mataku demikian seksama memperhatikan setiap luka di 
tubuhnya untuk memastikan dia dalam keadaan baik. Sedikit yang aku sesalkan, 
mengapa pengendara yang lain nyaris tidak peduli dengan kejadian yang 
menimpanya. Bahkan hingga aku menolongnya semua hanya meliuk dan menghindari si 
Angie yang sengaja aku bentang menghadang arus lalu lintas.

"Maaf pak saya nggak bisa berlama-lama, kebetulan sudah janji sama boss di 
kantor untuk datang lebih pagi, jadi tidak bisa menemani bapak. Nanti saya 
panggil teman saya. Bapak tunggu saja disini. Kalau ada apa2 ini kartu nama 
saya pak" kataku kepadanya setelah memastikan dia dalam keadaan yang lebih baik.

"Iya mas terima kasih. Nanti saya telpon ya. Terima kasih sekali. sudah di 
tolongin"
"Sudahlah pak, sama-sama. ini ada roti, kebetulan istri saya yang buat dan 
sedikit berlebih, dimakan ya pak, lumayan sambil mengisi waktu menunggu teman 
saya datang" pintaku dengan senyum.
"Terima kasih banyak" jawabnya dengan senyum yang lebih indah.

Selanjutnya aku bersalaman dan pamit. Segera kuajak Angie melanjutkan 
perjalanan rutinitasnya. Tak lupa kuhubungi temanku yang sedang mangkal untuk 
mengajak satu temannya juga menolong si bapak tadi. Kutunjukan letaknya dan 
kuberikan sedikit uang rokok kepadanya sebagai ongkos mengantar si bapak tadi. 
Selanjutnya aku melesat bersama Angie dengan banyak pikiran di kepala. "Mengapa 
semua orang tadi seakan tidak peduli apa yang ada didepan bola matanya?" 
Berbagai argumentasi saling bersahutan di dalam kepalaku. Tapi satu hal yang 
aku ingat, kotak kecil P3K yang ada didalam ranselku bertahun-tahun sudah 
seringkali termanfaatkan. Aku kembali berfikir "Mungkin jika setiap pengendara 
menyiapkan juga hal yang kecil ini maka setiap pengendara akan bisa membantu 
dan meringankan rekan lain yang mengalami kecelakaan, walaupun hanya bersifat 
pertolongan pertama tetapi paling tidak bisa sedikit meringankan rasa sakit"

"Ah sudahlah..... nanti saja kutulis di milist karisma_honda sesampai di 
kantor, walau belum jadi member tetap,  mungkin saja tulisan ini bermanfaat dan 
bisa jadi bahan diskusi. Paling tidak aku jadi tambah mengerti dan belajar jadi 
pengendara motor yang baik" pikirku..

"Boss, kalau cerita ke teman-teman, tanyain dong! Emang boleh melintangkan 
motor seperti yang boss lakukan tadi. Angie rada-rada takut juga tuh" pinta 
Angie dengan terbata-bata.
"Iya sayang... nanti gue tanyain, dah nggak usah cemberut gitu" jawabku sambil 
mengusapnya

Wusssssss.. Aku dan Angie kembali melesat mengisi rutinitas harian... 

Salam....
Bongkeng.
* Milist ini bikin saya tambah mengerti, thanks to all 

Note : Angie is karisma 125D yang uhuy... :)


Kirim email ke