*Nih infonya.. Gultik dengan Harga Goceng* Siang hari penjual gulai ini memang dibanjiri pengunjung. Deretan motor dan mobil banyak yang parkir di depan penjualnya. Terkadang jika tempat duduknya penuh, mereka makan di atas motor atau dalam mobil mereka sambil mendengarkan musik *Nama Gultik Istilah Anak-anak Muda* Seporsi gulai lengkap dengan nasi dan kerupuk harganya hanya Rp 5.000 perak saja. Kuahnya agak bersantai tapi tidak terlalu kental. Seporsi berisi potongan daging sapi. Kuah gulai biasanya disiram langsung ke nasi saat dipesan. Tapi terkadang kuah dan nasi dipisah. Kerupuk putih dengan pinggiran berwarna merah menemani seporsi gulai. Ingin pedas atau kuah gulai rasanya bisa lebih kuat, bisa tambahkan sambal atau peresan jeruk nipis. Gultik telah ada sekitar tahun 70an. Dulunya hanya ada beberapa orang saja yang berjualan. Sebelum mangkal di tikungan Bulungan seperti sekarang ini, mereka ngider atau kelililing sekitar terminal Blok M. Dagangannya dibawa dengan cara dipikul. Makanya dulu juga dikenal dengan gulai pikul. Baru selepas siang mereka mangkal. *Sandal Jepit dan Bermobil* Dulu kebanyakan yang beli dari kalangan ‘sendal jepit’ seperti tukang becak, ojek, supir, asongan, dan pedagang kakilima. Selain itu para mahasiswa banyak yang makan di sana. Sekarang banyak karyawan yang berdasi tanpa malu-malu makan di sana. Bahkan seringkali dijumpai pembelinya makan di dalam mobil keluaran terbaru yang diparkir persis di depan penjual gulai yang terkenal dengan istilah gultik alias gulai tikungan Konon nama istilah gultik diberikan oleh para anak-anak muda atau mahasiswa yang sering nongkrong di daerah tersebut. Mengingat di daerah tersebut sering digelar pentas seni dengan menampilkan kreasi anak-anak muda. Di tempat tersebut bercokol pula dua SMA favorit, SMA 70 dan SMA 6. Roy, seorang pelanggan gultik menuturkan, asyiknya makan gultik di sini adalah tempatnya nyaman meskipun berada di emperan pinggir jalan. Para penjual gulai yang kebanyakan berasal dari Klaten ini mangkal dibawah pohon rindang. Saat makan angin sepoi-sepoi bertiup dengan sejuknya. “Di Jakarta yang sudah sumpek, nemuin tempat kayak begini seperti sesuatu yang mahal aja Mas. Selain makan kita bisa istirahat,” ujar Roy. “Enaknya lagi, kita bisa ngobrol-ngobrol tanpa perlu risi diusir karena kelamaan nongkrong,” lanjut Roy lagi. *Pagi Hingga Dinihari* Siang hari penjual gulai ini memang dibanjiri pengunjung. Deretan motor dan mobil banyak yang parkir di depan penjualnya. Terkadang jika tempat duduknya penuh, mereka makan di atas motor atau dalam mobil mereka sambil mendengarkan musik. “Saya biasanya makan di dalam mobil. Bisa lebih santai,” kata Rani (32), malu-malu. Tidak ada jam operasional khusus kapan para pedagang gulai berjualan. Pagi-pagi para penjual gulai sudah mulai nangkring di emperan hingga dinihari. Biasanya mereka berjualan dengan sistem estafet secara bergantian. Satu tenda diisi dua-tiga penjual gulai. Saat malam tiba dimana banyak restoran sudah pada tutup, gultik seakan menggantikan peran dari resto-resto yang memang banyak bertebaran di sekitar jalan Mahakam. So, jika malam tiba dan perut agak keroncongan, bisa mampir sebentar ke gultik. Dengan rasa yang lumayan dan harga yang ramah dengan kantong, gultik bisa jadi pilihan unuk menikmati malam panjang Anda.
2009/4/20 ozqy ian <[email protected]> > > > Dearest, > > Dah lama tidak bercekrama dengan kalian, kangen tawa canda, dan joke > joke yang kalian buat. Akhir akhir ini gue liat kok panas aja nih > milist, gimana kalo besok nongkrong di gultik jam Selasa, 20 April 2009, > jam 19.00 WIB. > > Ayoo... Andry, Henry, Alex, One, Tria, Dhanes, Pak Ketum, Pak Waketum, > Om Dudi, Om Baskoro, Om Afri, Om Yudi, Om Tok, Om Darmo, Om Beffy, semua > Om Om, dan Mas Bro yang gue cintai, kita ngobrol sambil makan gultik, buat > penyegaran, dan cari suasana baru. > > > Silahkan Reply email ini bagi yang bersedia, egk bermaksud apa apa cuma > mau mempererat tali silahturahmi saja. > > > > > > -- > Salam, > Ozqy > yangmerindukankalian > > > >

