dear om momod, berbagi bendwith dikit yah. smoga berkenan. trims
sumber (http://edorusyanto.wordpress.com) twt: @edorusia Artikel lain Transportasi Jakarta: Menjemput Maut WAJAH transportasi Jakarta masih buram. Kecelakaan lalu lintas jalan masih menyeramkan akibat kecelakaan yang tak kunjung padam. Maklum Jakarta memikul sekitar 9,5 juta jiwa dan sekitar 9 juta kendaraan. Walah...tidak aneh jika pada 2009, setiap hari tiga orang tewas dijagal lalu lintas jalan. Belum lagi mereka yang luka berat dan luka ringan, masing-masing sekitar 7 dan 11 orang. Itu baru yang tercatat oleh Kepolisian RI. Seorang teman bilang, angkanya bisa saja dua hingga tiga kali lipat lebih besar yang tidak tercatat. Ironisnya, sepeda motor merupakan kendaraan yang paling tinggi keterlibatannya dalam kecelakaan tersebut. Pada 2008, dari 1.169 jiwa korban tewas akibat kecelakaan, sebanyak 575 adalah pengendara sepeda motor, atau setara dengan 49,18%. Sedangkan soal keterlibatan sepeda motor, angkanya lebih besar. Pada 2009, jumlah sepeda motor yang terlibat kecelakaan mencapai 6.608 unit atau sekitar 61,72% dan 38,28% adalah mobil. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan 2008 yang baru berkontribusi 58,22% terhadap total kendaraan yang terlibat kecelakaan. Saat itu, keterlibatan mobil sebanyak 41,78%. ”Kalau pemerintah mau serius menekan angka kualitas dan kuantitas kecelakaan lalu lintas, seharusnya memberikan disinsentif bagi moda yang paling berisiko terhadap laka lantas yaitu sepeda motor,” tulis Darmaningtyas, direktur Institut Transportasi (Instran), dalam bukunya Transportasi di Jakarta, Menjemput Maut. Dalam buku yang diluncurkan, di Jakarta, Rabu (23/6/2010) itu, disebutkan juga bahwa perlunya insentif bagi moda transportasi yang aman dari kecelakaan lalu lintas. Namun, ujar Darmaningtyas, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tidak konsisten sehingga masih belum bisa mewujudkan transportasi yang nyaman dan aman. ”Pemprov tidak konsisten dan transparan atas rancangan transportasi makro yang disusunnya sendiri, seperti pembangunan 15 koridor busway,” tutur dia, saat memberi sambutan diskusi di sela peluncuran buku. Menurut Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono yang hadir dalam diskusi itu, pemerintah punya niat untuk berbuat sesuatu yang lebih baik. ”Namun, tak pernah ada sebuah keputusan pemerintah (kota) yang bakal ideal. Tidak 100% memeuaskan, ada saja yang tidak terpuaskan,” kata Bambang yang juga sebelumnya Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Bagi, Rahma, mantan anggota Dewan Transportasi Jakarta (DTJ), Jakarta seperti ladang pembantaian akibat kecelakaan lalu lintas jalan. ”Ironisnya, korban kecelakaan mayoritas adalah para pria usia produktif 25-40 tahun,” kata dia. tampaknya, di balik transportasi Jakarta, mengintip para malaikat maut. (edo rusyanto) Artikel lain

