dear om momod, numpang bandwith dikit yah...smoga bermanfaat. salam
sumber (http://edorusyanto.wordpress.com) twt: @edorusia artikel lain Indahnya Kebersamaan Bikers SIAPA yang tak butuh perlindungan? Atau, siapa yang tak butuh rasa nyaman? Lantas, adakah manusia yang bisa hidup tanpa teman? Wow! Tiga aspek yang beti alias beda tipis sebagai kebutuhan hakiki manusia. Terbawa sejak lahir. Ketika berproses dalam kehidupan bermasyarakat, wujud perlindungan terhadap kehidupan setiap individu maupun masyarakat membutuhkan beragam instrumen. Di masyarakat, kita mengenal aparat keamanan yang bernama polisi dan tentara. Kedua elemen masyarakat ini berperan memberi perlindungan agar kehidupan berjalan normal, tertib, teratur, dan tentu saja nyaman. Lantas, sebagai mahluk sosial, setiap individu manusia membutuhkan interaksi sosial. Butuh teman. Setidaknya untuk berbagi rasa suka, sedih, gembira, atau rasa kecewa. Pertemanan atau persahabatan berfluktuasi dan terus hidup sepanjang peradaban manusia ada di jagat ini. Tanpa teman atau sahabat, dunia terasa sepi. Sesunyi malam tanpa bintang di tengah samudera luas. Hemm... Persaudaran Bikers Para pengendara sepeda motor, terlebih yang berhimpun dalam kelompok sepeda motor kerap disebut bikers. Entah dari mana asal kata itu. Mungkin dari sebutan para penunggang si roda dua. Kok gak disebut riders aja yah? Istilah bikers malah lebih kondang. Keberadaan kelompok sepeda motor di Indonesia bukan barang baru. Sejak berdirinya Javasche Motor Club yang didirikan pada 27 Maret 1906 di Jl Bojong 153-156, Semarang, Jawa Tengah. Komunitas tersebut kemudian sempat berganti jubah beberapakali yakni menjadi Het Koningklije Nederlands Indische Motor Club (KNIMC) dan Indonesische Motor Club (IMC) sampai saat penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia, dimana IMC turut diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia yang dalam hal ini oleh Departemen Perhubungan. Pada 1950, IMC berganti nama lagi menjadi Ikatan Motor Indonesia (IMI). Saat ini, meski tidak ada data pasti, perkiraan kelompok sepeda motor di Indonesia tak kurang dari enam ribu kelompok. Kita pun mengenal dua istilah utama untuk kelompok sepeda motor yakni komunitas (community) dan klub (club). Secara harfiah, kedua kata itu memiliki makna yang sama. Komunitas dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) memiliki arti masyarakat atau kelompok orang yang hidup dan saling berinteraksi dalam tempat tertentu. Penggunaan kata komunitas sebagai serapan dari bahasa Inggris, community. Dalam komunitas tersebut, para pengguna sepeda motor saling berinteraksi terkait permasalahan sepeda motor maupun kegiatan lainnya seperti berwisata bersama dengan sepeda motor (touring). Menyinggung soal touring, pada masa penjajahan Belanda, sempat mencuat kelompok Motor Touring Club di Bandung pada 1914. Selain menggunakan kata komunitas, kelompok para pengguna sepeda motor juga kerap menggunakan kata klub sebagai serapan dari club. KUBI menyebutkan, klub berarti kelompok orang-orang yang mengadakan aktivitas. Dalam kasus ini, adalah aktivitas yang terkait sepeda motor, walau pun dalam perjalanannya, komunitas atau klub sepeda motor juga memiliki aktivitas yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan sepeda motor. Maraknya klub atau komunitas sepeda motor sempat diwarnai oleh aksi sekelompok sepeda motor yang berperilaku gengster serapan dari gankster. Gank (geng) atau gengster, sebagaimana makna harfiahnya adalah suatu kelompok atau gerombolan yang mengarah berbuat kejahatan secara berkelompok. Mari kita tinggalkan sejenak definisi komunitas dan klub. Dari segi proses pembentukan kelompok sepeda motor, ada dua kelompok besar yakni yang berbasis bertemu atau berkumpul di darat dan berbasis dunia maya yang mengguna fasilitas layanan internet. Belakangan, yang berbasis dunia maya pun mengkombinasikan dengan secara berkala bertemu di darat yang disebut dengan istilah kopi darat (kopdar). Ada lagi sudut lain melihat kelompok sepeda motor berdasarkan tipe sepeda motornya yakni yang berdasarkan jenis sepeda motor, misal sepeda motor bebek, skutik, sport, atau petualangan seperti trail. Lalu ada juga yang berbasis merek sepeda motor dan heterogen. Dari ruang lingkup, kita juga mengenal kelompok sepeda motor berbasis lingkungan tempat tinggal dan lingkungan tempat bekerja alias kantor. Dari beragam kelompok tersebut sebenarnya apa sih landasan utama untuk berkelompok? Motivasi Berkelompok Setidaknya ada empat motivasi berkelompok yakni mencari teman, bertukar informasi seputar sepeda motor, menyalurkan hobi bersama, dan aktualisasi diri. Mari kita tengok satu persatu. Pertama, mencari teman. Para bikers merasa butuh teman untuk saling berinteraksi mengenai kehidupan sehari-hari. Sebagai mahluk sosial, bikers tak bisa hidup sendiri. Teman bisa menjadi tempat untuk bercerita, berbagi, dan mencapai tujuan bersama. Kian banyak teman, ada perasaan nyaman karena bisa mendapat banyak input. Walau, jika tanpa pengelolaan yang tepat, kadang terjadi dinamika atau pergesekan. Hal itu tak menutup kemungkinan memicu benih perpecahan. Kedua, bertukar informasi seputar sepeda motor. Bagi bikers yang mengendarai sepeda motor varian baru, butuh saling bertukar pikiran untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi pada sepeda motor mereka. Misalnya saja untuk permesinan dan komponen sepeda motor. Ketiga, menyalurkan hobi bersama. Bikers yang hobi balapan (racing) akan berhimpun dengan sesama penyuka olahraga tersebut. Bagi yang hobi berpetualang (adventure) juga demikian, termasuk mereka yang hobi berkeliling mengunjungi tempat-tempat wisata atau daerah-daerah eksotis yang belum pernah dikunjungi alias para penghobi touring. Keempat, aktualisasi diri. Kelompok yang seperti ini relatif spesifik. Misal, aktualisasi diri untuk berbagi mengenai bagaimana bersepeda motor yang aman, nyaman, dan selamat. Saat ini, kondang disebut safety riding. Aktualisasi yang seperti ini fokus kepada penyebarluasan semangat untuk berbagi untuk mewujudkan perilaku berkendara yang aman dan selamat. Belakangan, aktualisasi diri juga merebak ke aspek-aspek lain, seperti hobi fotografi, olahraga, atau kesenian. Dari semua jenis motivasi tersebut, akarnya ada pada semangat untuk menghimpun diri dan saling berbagi. Selanjutnya, baik itu yang menyebut dirinya komunitas atau klub, merancang segenap aturan untuk membuat kelompoknya nyaman. Aturan yang lebih longgar diterapkan oleh kelompok yang menyebut dirinya komunitas. Misal, melonggarkan diri dari aturan iuran wajib untuk memperkuat kas kelompok. Sementara itu, di klub, ada aturan iuran wajib. Dana yang dihimpun untuk kepentingan bersama, misal, untuk touring atau respek kedukaan jika salah satu anggota ada yang tertimpa musibah. Setiap kelompok memiliki figur pemimpin. Ada yang memakai istilah, ketua, ketua umum, presiden, demank, atau sebutan spesifik seperti panglima. Dari bentuk organisasi, untuk kelompok yang anggotanya kurang dari 100 orang atau ruang lingkupnya terbatas pada area tertentu, cukup memiliki perangkat ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, kepala divisi touring, divisi safety riding, dan divisi umum. Ada juga kelompok yang memiliki anggota hingga ratusan atau ribuan dengan ruang lingkup wilayah yang luas hingga puluhan kota di belasan atau puluhan provinsi. Kelompok seperti ini membuat struktur organisasi mulai dari pengurus pusat, cabang, chapter, simpul, atau wilayah. Semuanya bertujuan untuk memudahkan mobilisasi anggota. Termasuk dalam proses musyawarah untuk memilih pengurus pusat. Sebagian kelompok juga memiliki struktur penasihat di dalam kelompok mereka. Umumnya adalah orang yang dianggap mampu merekatkan kebersamaan dan memiliki pengetahuan yang lebih luas. Indahnya Persaudaraan Tak pelak, kelompok sepeda motor memiliki ego di tiap kelompok. Ego untuk merasa kelompok yang paling besar, kelompok yang paling solid, atau kelompok yang paling baik. Ego kelompok tersebut ada positif dan ada juga negatifnya. Secara kasat mata, efek positifnya adalah rasa persaudaraan yang luar biasa di antara mereka. Dan, akan lebih positif jika digeser ke ruang lingkup di luar kelompok mereka. Negatifnya, jika ditafsirkan terlalu sempit. Merasa paling besar. Potensi seperti ini memang relatif kecil. Namun, tetap saja ada benih-benihnya. Indahnya kebersamaan di antara para anggota kelompok sepeda motor bisa berwujud saling sapa saat bersua di jalan. Saling berkunjung saat satu sama lain dalam kondisi suka, terlebih duka. Saling membantu jika di jalan salah satu di antara mereka sedang mengalami musibah. Indahnya kebersamaan juga terlihat manakala saudara-saudara kita di luar kelompok sepeda motor tertimpa musibah bencana alam. Semua bahu-membahu membantu sesuai kemampuan kelompoknya. Bisa saja memberi bantuan materi, atau membantu tenaga meringankan sang korban bencana alam. Jika ego sektoral bisa dibongkar dan mengedepankan persaudaran sebagai sesama bangsa Indonesia atau sesama manusia, kian indah kebersamaan yang sudah terbangun di tiap kelompok. Tak perlu dipisahkan oleh atribut atau sepeda motor yang ditunggangi. Sepeda motor hanya alat yang kebetulan mempertemukan dalam ikatan suatu kelompok. Pada dasarnya, alat hanyalah pelengkap dalam interaksi sebagai mahluk sosial. Hidup menjadi lebih indah, jika kebersamaan menghapus semua sekat. Apalagi cuma karena jenis sepeda motor. Majulah bikers Indonesia. (edo rusyanto) artikel lain

