dear om momod, numpang benwith dikit yah. smoga berkenan, trims..
sumber (http://edorusyanto.wordpress.com)twitter : @edorusia
artikel lain

Batas Toleransi Nalar
Jalan Raya







KERUMUNAN orang kian membesar malam itu. Tak sedikit yang berteriak memaki.
Bahkan, salah satu di antaranya mencengkeram kerah jaket saya. Mulutnya bau
makian.

"Kamu orangnya?!"

"Ya. Saya bertanggungjawab."

"Ayo ikut antar ke rumah sakit." Kalimat ajakan penuh aroma
kebencian, seraya menyeret masuk ke dalam taksi.

"Bagaimana dengan motor saya?"



***



Kejadian lima
tahun lalu di sudut jalan Kalibata, Jakarta Selatan, masih membekas di pikiran
saya.

Malam itu, seorang wanita muda penjaga wartel melintas tiba-tiba untuk membeli
nasi goreng. Sosok berkelebat gadis bertubuh gempal itu baru tertangkap ekor
mata ketika jarak tersisa 50 meteran. Tak pelak di tengah temaram malam, pedal
gas ditekan sebisa mungkin. Derit ban mencengkeram aspal menyeruak di antara
deru mesin kendaraan yang melintas. 

Brakkkk! Seraya
menyebut asma Allah, benturan terjadi di sisa kecepatan motor yang mulai
melambat. Sang gadis tersugkur tertimpa motor sayap tunggal. Darah mengucur
dari kening sang gadis. Di bagian lain, darah mengucur di telapak tangan dan
kaki kanan saya.

Setelah tarik urat leher, berangkat ke rumah sakit Budi Asih, Jl Dewi Sartika.
Penanganan gawat darurat beres. Urusan rawat inap justeru tak bisa.. ”Kamar
penuh oleh pasien demam berdarah,” kata sang suster.

Jelang tengah
malam, kami menghubungi rumah sakit terdekat. Beruntung, RS Polri Kramat Jati
masih ada ruangan. Sang gadis pun dirawat di sana. Saya sendiri bisa pulang
walau luka di kaki dan tangan memaksa untuk tidak bisa mengendarai sepeda
motor. Terpaksa naik taksi, motor dititip ke rumah teman di Condet Batu Ampar
sekitar 15 kilometer dari rumah saya.

Selain
menghabiskan biaya sekitar Rp 3 juta dan tidak bisa masuk kerja beberapa hari,
kecelakaan itu memberi catatan tersendiri tentang jalan raya Jakarta. Emosi
mudah tersulut. (lihat grafik)

Tanpa melihat
siapa salah, siapa benar. Sepeda motor terlibat kecelakaan dengan pejalan kaki,
jadilah si pengendara motor yang bakal disikat. Jangan panik. Upayakan sebisa
mungkin menyatakan bertanggung jawab. Kecuali kondisi tidak terkendali sama
sekali dan masih mampu bergerak, carilah kantor polisi terdekat, minta
perlindungan untuk selanjutnya menyelesaikan kasus kecelakaan tersebut.

Jakarta dengan
penduduk sekitar 8 juta jiwa, tak pernah ramah untuk kasus kecelakaan. Tak 
kurang
dari 3 orang tewas per hari akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Maklum, ada
sedikitnya 8 juta sepeda motor dan tak kurang dari 2 juta roda empat atau
lebih.

Emosi di jalan
raya bak dinamit bersumbu pendek. Salah satu upaya menetralisir adalah sebisa
mungkin tak terjebak dalam kecelakaan lalu lintas jalan. Jika terpaksa
terlibat, sebisa mungkin menggunakan nalar. Ada baiknya menangani para korban
terlebih dahulu ketimbang tarik otot siapa benar, siapa salah. Ada tempat untuk
soal siapa salah, siapa benar. Pengadilan atau meminta kepolisian sebagai
penengah. Tak perlu emosi hingga justeru menambah luka di atas luka.

Tak heran jika
para penggiat keselamatan jalan meneriakkan jargon pentingnya saling peduli di
antara sesama pengguna jalan. Berbagi ruas jalan dan mentaati aturan lalu 
lintas jalan menjadi poros
penting. Sudah cukup 218 ribu jiwa menjadi korban kecelakaan lalu lintas jalan
selama ini. (edo rusyanto)


artikel lain




Kirim email ke