hihihihi baru mulai pusing pemerintahnya.... lha kalo ditekan produksi
bisa-bisa pada hengkang investasi, kalo dibatasi umur kendaraan selain sulit
dilapangan juga YLKI udah komplen tuh pembatasan umur kendaraan salah
satunya 2005 keatas ngga boleh pake premium kalo ngga salah... batasi parkir
juga ngga efek, tri in one malah jadi lahan baru buat para joki...  bikin
jalan baru atau mrt nang ado hepeng katanya investornya blom ada ... pajeg
STNK/BBN dah dinaekin tetep aja...apalagi yah jalan keluarnya??? 2015 bentar
lagi jalan 20 KM/Jam ...puyeng2 dech tuh pemerintah hueheuhue

Wah, DKI Akan Batasi Motor di Jam Sibuk
Selasa, 27 Juli 2010 | 09:15 WIB
KOMPAS.COM/DHONI SETIAWAN
Puluhan ribu motor dalam sehari melintas jalan protokol. ERP akan membebani
ekonomi kehidupan mereka
*TERKAIT:*

   - Kendaraan Pribadi Lewat Jalur
Alternatif<http://megapolitan.kompas.com/read/2010/07/26/17183999/Kendaraan.Pribadi.Lewat.Jalur.Alternatif>

*JAKARTA, KOMPAS.com* — Komitmen mengurai kemacetan terus dilakukan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hal itu tidak hanya dalam bentuk rekayasa
jalan yang rawan kemacetan, melainkan juga melakukan pengkajian penerapan
sistem *electronic road pricing* (ERP). Kajian ERP kini sudah memasuki
pembahasan final.

Salah satu bahasan final yang dilakukan adalah pembatasan sepeda motor di
kawasan tertentu pada jam-jam sibuk mengingat semakin meningkatnya
pertumbuhan sepeda motor di DKI yang mencapai 900 unit per hari. Penerapan
rekayasa jalan melalui penertiban dan pengaturan lalu lintas jalan bukan
hanya berdasarkan faktor teknis untuk menyelesaikan kemacetan, melainkan
berdasarkan pendekatan komprehensif terkait dengan masalah sosial dan
ekonomi yang semuanya tertuang dalam konsep Pola Transportasi Makro (PTM).

"Saya tekankan, untuk kota sebesar Jakarta, diperlukan pengembangan
transportasi yang menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan. Itu
tidak bisa ditawar lagi. Saat ini kami sedang bangun transportasi massal
berbasis *mass rapid transit* (MRT) dan *bus rapid transit* (BRT)," kata
Gubernur Fauzi Bowo di Balai Kota DKI, Senin (26/7/2010).

Pembangunan MRT dan BRT akan dilakukan secara bertahap karena diperlukan
persiapan rencana dan anggaran yang terencana dengan baik. Sambil MRT dan
BRT berjalan, Pemprov DKI pun melakukan rekayasa teknik jalan yang
diharapkan dapat mengurai kemacetan di kota Jakarta. Salah satunya melakukan
sterilisasi jalan di Jalan Raya Pasar Minggu dan Jalan Buncit Raya, Jakarta
Selatan. Kedua kawasan tersebut sejauh ini dikenal sebagai langganan
terjadinya kemacetan.

Hal ini diakibatkan cukup banyaknya parkir-parkir liar di pinggir jalan yang
mengganggu lancarnya kendaraan bermotor sehingga terjadi kemacetan. "Seperti
Pasar Minggu macet, maka kemacetan akan sampai ke pusat kota. Ini yang akan
kami pecahkan dengan langkah-langkah penertiban dan pengaturan lalu lintas
yang lebih konsekuen," ujarnya.

Tak hanya itu, Pemprov DKI juga akan melakukan langkah mempermudah alur lalu
lintas di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan. Selama ini, lalu lintas di
depan Plaza Semanggi selalu menjadi simpul kemacetan karena di kawasan
tersebut ada pintu masuk tol.

Untuk itu, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI akan menata ulang alur lalu lintas
di Semanggi dan akan dilakukan penyesuaian pintu masuk tol agar tidak
tertumpuk di Semanggi. Saat ini, hal tersebut sedang dilakukan pengkajian
dan diharapkan simpul kemacetan Semanggi bisa terurai dengan baik.

Rekayasa teknik jalan lainnya untuk meminimalisasi kemacetan, Fauzi
menerangkan, dirinya telah meminta Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda
Metro Jaya dan Dishub DKI untuk menertibkan sepeda motor yang masih banyak
jalan di sembarang jalur. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, kajian akan
dilakukan untuk menerapkan jam-jam bebas sepeda motor di kawasan-kawasan
tertentu.

"Kemudian membatasi kawasan tertentu untuk pada jam-jam tertentu tidak
dipadati oleh kendaraan sepeda motor. Karena pertumbuhan sepeda motor ini
sudah mendekati 900 unit per hari, ini sudah sangat mengkhawatirkan. Jadi,
perlu ada kawasan tertentu, jam-jam tertentu kami larang motor lewat. Itu
termasuk rekayasa teknik yang kami lakukan," bebernya.

Di sisi lain, Pemprov DKI merencanakan ada pembatasan jumlah kendaraan
dengan konsep ERP terhadap kawasan-kawasan yang rawan kemacetan. Opsinya
sedang dikaji dan sudah sampai tahap final sekarang.

Adapun pemberlakuan nomor polisi ganjil genap kemungkinan besar belum bisa
dilakukan karena ditemukan banyak kelemahan yang cukup mendasar dalam konsep
tersebut. Misalnya, dikhawatirkan warga akan bisa memiliki dua nomor polisi
untuk satu kendaraan.

Fauzi menegaskan, semua terobosan rekayasa teknik jalan itu segera
diterapkan sambil menunggu pembangunan MRT, pengembangan BRT, dan
pembangunan jalan susun rampung.
<#>
<#>
Editor: hertanto   |

-- 
Aldo Desatura ® & ©
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata

Kirim email ke