Panen "Sepeda Motor" di Lahan Pasir

*Oleh: Idha Saraswati*

Panen raya cabai merah keriting di pesisir selatan Kulon Progo, DI
Yogyakarta, tidak hanya diramaikan petani. Di lahan pasir besi yang
ditumbuhi rimbunnya tanaman cabai siap panen itu aneka spanduk dan poster
barang dagangan dipasang, ikut meramaikan suasana.

Selasa (27/7) siang itu, arena tasyakuran panen raya cabai di Desa Bugel,
Kecamatan Panjatan, Kulon Progo, seperti berubah jadi semacam arena festival
atau pameran aneka produk barang dagangan. Spanduk dan poster dipasang
mencolok di sekeliling ladang cabai, tempat acara tasyakuran.

Tidak hanya menawarkan benih cabai, pestisida, fungisida, dan insektisida,
spanduk-spanduk itu juga—yang lebih menohok mata—menawarkan sepeda motor.
Panen raya cabai kali ini juga mengundang pedagang makanan dan minuman untuk
ikut meraup rezeki.

Spanduk dan poster promosi itu datang karena kemakmuran petani lahan pasir
besi. Sejak 1990-an, pertanian cabai merah keriting di atas lahan pasir
membawa berkah bagi petani. Tanpa bantuan pemerintah, perekonomian
menggeliat dan kesejahteraan keluarga meningkat.

Kini, saat harga cabai merah keriting melonjak hingga Rp 33.000 per kilogram
di tingkat petani, mereka pun jadi ”pasar”. Produsen dan pedagang gencar
menawarkan beragam produk kepada petani cabai yang tengah kebanjiran rezeki
tersebut.

Menurut Sukarman, Ketua Kelompok Tani Grisik Pranaji di Desa Bugel, sejak
beberapa tahun terakhir pedagang menawarkan barang dagangan mereka di
ladang. ”Ada yang beli sepeda motor di ladang. Motor yang dibeli bahkan
langsung diantar ke ladang,” katanya.

Selain tempat memasang spanduk dan poster promosi, acara panen raya itu juga
jadi ajang mengambil hati petani. Penjual sepeda motor menyumbang hiburan
organ tunggal berikut penyanyi. Produsen benih menyediakan makan siang.
”Persaingan dengan produk lain kan ketat, makanya mereka jadi lebih gencar
promosi. Kami sih senang,” tambah Sukarman.

*
*

*Dibayar tunai*

Petani cabai di pesisir selatan Kulon Progo rata-rata petani sejahtera. Di
atas lahan pasir, sepanjang tahun mereka menanam cabai merah keriting,
melon, semangka, dan aneka jenis sayur secara bergantian. Selain untuk
makan, hasil usaha itu mereka sisihkan untuk membangun rumah, membeli hewan
ternak dan sepeda motor.

Suradal, petani di Desa Bugel, misalnya. Dari panen cabai di atas lahan
6.000 meter tahun 2009, ia membeli dua sepeda motor dan motor roda tiga
untuk mengangkut pupuk dan hasil panen. Ia juga kini memiliki lima ekor
sapi. Ia mengaku beruntung karena tahun lalu harga cabai tinggi.

Menurut dia, para petani seperti dirinya tidak perlu bingung saat hendak
membeli sepeda motor. Pegawai dari dealer sepeda motorlah yang datang ke
tempat-tempat lelang cabai sehingga transaksi bisa langsung diadakan di
tempat lelang. ”Petani kalau beli sepeda motor langsung tunai. Kalau kredit,
nanti malah repot,” ujarnya.

Tahun ini Suradal kembali menikmati harga tinggi. Hasil panen cabai
digunakan untuk membiayai kedua anaknya masuk SMP dan SMA.

Berdasarkan perhitungan Kelompok Tani Gisik Pranaji, harga impas menutup
biaya produksi tanam cabai merah keriting Rp 4.600 per kilogram. Dengan
harga di atas Rp 20.000 per kilogram, petani pantas berpesta. Apalagi, dalam
satu kali masa panen, tanaman bisa dipetik lebih dari 20 kali.

Sukarman yang menjadi perintis pertanian di atas lahan pasir mengakui cabai
merah keriting telah mengubah wajah pesisir selatan Kulon Progo. Saat
merintis pertanian di lahan pasir tahun 1985, petani Desa Bugel miskin.
Terdesak kemiskinan itu, banyak warga pergi merantau ke daerah lain, jadi
buruh bangunan. Tak sedikit pula yang jadi tenaga kerja di Malaysia.

Namun, Sukarman mampu membuktikan, lahan pasir bisa produktif untuk berbagai
jenis sayuran. Ia juga menemukan sistem sumur renteng, yakni bak-bak
penampungan berbentuk lingkaran yang menampung air resapan Sungai Progo di
bawah lahan pasir.

Kisah keberhasilan itulah yang memanggil warga Bugel perantauan kembali ke
desanya. Selain di Bugel, sekitar 6.000 keluarga di 10 desa pesisir Kulon
Progo—mulai dari Pantai Trisik hingga Congot—kini bertani di lahan pasir.

Sebagian besar warga yang semula hidup di rumah reyot telah berhasil
membangun rumah tembok yang dicat warna-warni dan berlantai keramik. Mereka
juga membangun masjid megah.

*Pasar lelang*

Berkah dari lahan pasir mulai dirasakan sejak 1990-an. Namun, belakangan,
berkah itu kian melimpah karena petani berhasil membuat mekanisme penjualan
hasil panen sendiri dalam bentuk lelang. Pasar lelang dirintis tahun 2002.
Menurut Sukarman, pasar lelang itu diadakan untuk meningkatkan daya tawar
petani dan menekan ulah pedagang cabai yang membeli hasil panen petani
dengan harga jauh di bawah harga pasar.

”Bahkan ada pedagang yang membawa hasil panen tanpa bayar dan tanpa
kesepakatan harga dengan petani. Setelah berhasil dijual ke pedagang lain,
mereka baru membayar petani. Jadi, petani tidak tahu harga riil hasil
panennya,” ungkapnya.

Kini petani membawa hasil panennya ke pasar lelang. Harga cabai ditawarkan
secara terbuka. Pedagang dengan penawaran tertinggi berhak mendapatkan cabai
yang dilelang.

Di seluruh wilayah pesisir selatan Kulon Progo, kini ada 21 titik pasar
lelang yang aktif bertransaksi setiap malam. Pasar lelang itu dikunjungi
pedagang cabai lokal serta luar daerah, seperti dari Muntilan dan Purworejo,
Jawa Tengah. Mereka itulah yang membawa cabai merah keriting dari Kulon
Progo ke Jakarta dan ke luar Jawa.

Kadari, koordinator pasar lelang Bugel 2, menuturkan, sebulan terakhir harga
lelang cabai selalu di atas Rp 20.000 per kilogram. Dari setiap kilogram
cabai, petani menyumbang Rp 200 untuk kas, tenaga pasar lelang, serta
membiayai kegiatan Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo. Paguyuban
didanai untuk menghentikan rencana penambangan pasir besi yang mengancam
keberlanjutan pertanian lahan pasir.

Dari lahan pasir, petani pesisir selatan Kulon Progo memberdayakan dirinya.
Dari petani yang miskin dan tidak punya apa-apa, kini para produsen benih,
pestisida, serta sepeda motor asal Jepang menempatkan mereka sebagai
konsumen istimewa, seperti raja.

Prakarsa, pemberdayaan seperti ini seharusnya dihargai, tidak direcoki aneka
pungutan. Lindungi mereka dari adanya pihak yang mencoba menyudutkan dengan
menjatuhkan harga.


-Sumber: Kompas, 2 Agustus 2010, Halaman 1-

-- 
Aldo Desatura ® & ©
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata

Kirim email ke