NEGERI IMPIAN
Beberapa Bulan Setelah Kemenagan Melawan Ayah

"you can kiss your family and friends good-bey and put miles 
betweenyou, but at the same time you carry them with you in your 
heart, your mind, your stomach, because you do not just live in a 
world but a world live in you"
-       Frederick Buechner



TERDENGAR tangisan seorang gadis di sebuah apartemen 2 kamar di 
daerah Paris 15. "Huhuuuuu…. Aku nyesal nggak masuk UI! Aku nyesal 
kenapa nipu-nipu ayah pas UMPTN! Aku nyesal kenapa aku berangkat 
kesini! Aku harus cuci baju plus setrika sendiri! Aku harus masak 
sendiri! Mana aku punya waktu ngerjain itu semua? Aku kan harus  
belajar  untuk persiapan ujian?! Aku nggak ada temennya? Aku 
kesepiaaaaaaaaaaaaaannnnn!!!". Tangannya mengelap air mata yang 
bercucuran dengan tissue yang sudah lecek.
        Ia masih bicara sendiri dengan suara sengaunya, "Semua teman 
kelasku pada ngobrol pakai bahasa sendiri-sendiri, sementara nggak 
ada satu pun anak Indonesia di kelasku!! Temen-temen kelasku lebih 
banyak yang  nggak bias baha Iggris, padahal kalo pakai Bahasa 
Prancis sama-sama nggak nyambung karena masih sama-sama bolot!! Aku 
nggak ngerti orang-orang pasa ngomong apa. Bahasa Prancisku nggak 
bagus, kalau belanja Orang Prancis malah marah-marah karena nggak 
ngerti aku ngomong apa. Aku jalan lambat aja udah dijudesin! Aku 
salah jalur aja langsung ditubruk. Aku kesepian, nggak punya temen. 
Huuu… Ayahh.. Ibuuu..".
        Sara menagis terisak di minggu ke-2 kedatangannya, 2 hari 
setelah ayah ibu pulang ke Indonesia. Kajadian itu masih berlangsung 
1 minggu lamanya.
        Tapi setiap yah atau ibu telepon, dia selalu memperdengarkan 
suara ceria. Seolah-olah senag dengan pilihannya. Ketika telepon 
ditutup, dia kembali menangis.
        Untungnya di minggu ketiga kondisi sudah mulai membaik. Dia 
sudah mulai terbiasa dengan keadaan sendirian. Memasak mulai jadi 
hobi. Belanja, buka account bank, naik metro dan kemana-mana sudah 
biasa sendiri. Dia  mulai tidak megharapkan ditemani siapa pun, 
karena memang di sana semua orang harus melakukan segala sesuatunya 
sendiri. Tidak ada yang menemani, tidak ada yang membantu. Harus 
mandiri!
        Satu hari ketika dia sedang belajar, telepon rumahnya 
berbunyi. Dia piker ayah atau ibunya, karena Cuma mera yang 
meneleponnya setiap hari secara bergantian. Kalo tidak ayah Ya ibu! 

Ini adalah penggalan dari bagian kedua dari buku berjudul "Being 20 
Something Is Hard", dimana seorang gadis yang bernama "sara" yang 
menghadapi quarter life crisis di masa umur 20an.

Bagaimana kamu enghadapi quarter life crisis? 

Judul           : Being 20 Something Is Hard
Penulis         : Dewi Pravitasari
Penerbit        : DiwanTeen

http://diwanteen.blogspot.com , http://diwanpublish.com 


Kirim email ke