Satu (In Search of Fatimah) Di sebuah musim gugur yang dingin, aku berdiri dengan ibuku, Siham, dan Ziyad di bandara Udara London yang belum bernama Heathrow. "Oscar Wilde", itu lah yang aku tau, karena dua kata Inggris itu tertera pada salah satu buku yang terdapat di perpustakaan ayahku,dan saat aku berusia tujuh tahun, dia mengajariku membaca alphabet Inggris. September 1949, dan aku baru berusia sembilan tahun. Aku tidak tau dengan pasti mengapa kami harus pergi ke London, atu berapa lama kami akan berada di sana. Sebenarnya, aku hanya tau sedikit sekali yaitu kami menunggu ayah untuk menjemput, dan aku piker inilah sebabnya mengapa kami menuju tempat itu untuk bertemu dengannya. Sebelumnya, kami telah terbang semalaman dengan pesawat bermesin BOAC yang membawa kami dari Damaskus menuju London, dan berhenti sejenak di Malta. Itu adalah tempat-tempat yang baru, pengalaman yang baru untukku, seseorang yang jarang berpergian. Bandara adalah tempat menakutkan. Memiliki ruangan besar luar biasa dengan lantai mengkilap, vinyl atau kayu, pemandangan yang paling aneh. Di palestina lantai terbuat dari ubin atau terbuat dari batu. Hingga saat itu, belum pernah dalam hidupku berada di tempat yang tak seorang pun kukenal. Bahkan ketika kami pergi ke pasar besar di Damaskus, yang nyaris sama dengan bandara udara London itu. Kami pergi bersama seluruh keluargadan beberapa orang tetangga. Orang-orang terlihat berbeda dibanding orang yang biasa aku jumpai.mereka lebih tinggi dan besar dan memiliki kulit yang pucat. Laki-lakinya tidak jenggot, dan aku merenung, mengapa tidak ada seorang perempuan pun yang hamil, aku tidah melihat ada perut yang membesar di manapun. Tidak seperti Palestina. Kami tidak bertemu ayah sekitar satu tahun, sejak dia meninggalkan kami di Damaskus-rumah kakekku. Pertama aku sangat merindukan tempat itu, kemudian aku mulai melupakannya. Semuanya terlihat sangat asing di Damaskus. Ini bukan tempat yang biasa kami tinggali, dan kami tidak begitu mengenal kakek dan nenek kami. Meskipun ibuku dilahirkan dan besar di Damaskus. Tapi aku pikir dia tidak bahagia berada di sana, dan ibu senang berada di Palestina seperti saat dia meningkah dahulu. "Saya tidak menyangka datangnya sebuah hari di mana saya merasa lega kembali ke sini," katanya saat kami tiba di Damaskus, "saya tak dapat membayangkan apa yang dapat kita lakukan tanpa orang tua saya untuk keluar dari masa yang mengerikan ini." Memang benar ini adalah saat yang mengerikan, sungguh mengerikan, hingga banyak peristiwa menyedihkan yang membekas di alam bawah sadarku. Masalah di Palestina dimulai sebelum aku lahir. Masa kecilku di Palestina, tentunya begitu juga Ziyad dan Siham, selalu di bayangi oleh pristiwa politik besar yang sedang terjadi. Untuk waktu yang lama, kami tidak memahami kaitannya, juga mengapa kami-warga Timur Tengah kebingugan, dan Negara kami yang tak maju lagi terpencil-dipilih untuk memainkan peran penting dalam masalah dunia ini. Hidupku dimulai dua bulan setelah mulainya Perang Dunia kedua. Kemudian, ibuku menceritakan, bahwa peristiwa ini ada dalam daftar alas an mengapa pertamanya dia tidak menginginkan kelahiranku, atau anak-anak yang lainnya. Tentu saja ini merupakan situasi yang tidak bisa untuk wanita Palestina saat itu. Tanpa alat kontrasepsi dan akses melakukan aborsi, banyak wanita yang putus asa untuk tidak menambah lagi mulut untuk di berimakan dalam keluarga besar mereka. Tapi dalam kasus ibuku, dimana kemiskinan bukanlah menjadi faktornya, terdapat alasan lainnya. Kehidupan di Palestina penuh resiko, dan kata ibu, bukanlah tempat untuk membesarkan anak. Jarang ada hari tanpa tembakan di jalan atau berita mengerikan, entah di daerah mana di negeri ini? Tak seorangpun merasa aman. "Jika bukan orang Yahudi yang mengejar kita, pasti orang Inggris yang melakukannya, dan ahirnya juga orang palestina lainnya." Mengenyampingkan penolakan ibuku itu, aku akhirnya dilahirkan di rumah sakit bersalin pemerintah di Yerusalem, dengan bantuan Dr Hajjar- dokter kandungan ibuku. "Ayolah Umi Ziyad," katanya pada ibuku, "bergembiralah." Masalah tidak akan terjadi selamanya, dan semua akan kembali normal.
DIWANPUBLISH.COM Halaman : 534 hal Penulis : Ghada Karmi Penerbit : Diwanteen Publishing, Jakarta. Cetakan Pertama
