Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai
meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos,
Patoppoi
sempat tercengang. Data-  data rinci mengenai gejala, penderitaan,
pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu
pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku
tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan
pasien
tersebut.
"Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos," ujar
Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam
sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada
sekitar 300 orang yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di
Jl.
KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo. Pasien pertama yang berhasil adalah
penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter
mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan
sambil
menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka  datang
setelah
membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama
kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak
perlu
dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif. Berdasarkan
animo
masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui
Dr.Teo secara langsung. Atas bantuan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat
dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui
Dr.Teo
di Penang, Malaysia.

Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia, Patoppoi mendapat
penerangan
lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama
Indonesia. Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live"
edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku
tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan
kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi
mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka secara
resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial
Cancer Care Indonesia, yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer
Care, yaitu di Jl. Kayu Putih Empat No. 5, Jakarta, telp. 021-4894745,
dan
di Buduran, Sidoarjo.

Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut
secara
lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam
bentuk
pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya
dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang
diderita," kata Boni. Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus
mengisi formulir yang menanyakan keadaan dan gejala  enderita dan akan
dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat  diisi
disini,
dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan
resep
sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia, sekitar 40-60
Ringgit Malaysia," lanjut Boni. "Jadi pasien hanya membayar biaya fax
dan
obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu,
Dr.Teo bisa memberikan perpanjang an waktu pembayaran." tambahnya.
Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan
sedang dicoba oleh salah satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya
yang mengidap kanker ginjal. Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter
yang
pernah menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di
Surabaya ini.  Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat
diberi pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh
rekan-rekan dokter yang telah  memiliki reputasi.

Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami
kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada
pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya
sendiri
dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan
kemoterapi. Pada pasien kedua ini, tidak di temui berbagai efek yang
dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal.

Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan
ini
belum resmi diteliti di Indonesia. Menurutnya, jika rekan-rekannya
mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan
memberikan
predikat sebagai "ter-kun" atau dokter- dukun. "Disinilah gap yang
terbuka
antara pengobatan konvensional dan modern," kata dokter tersebut. Banyak
hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberi kan bantuan
kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu di
Surabaya, yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru.

Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut
mengkonsumsi pil dan the dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan,
karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari
peredaran darah penderita dan mengatasi keter gantungan pada narkoba
tersebut. "Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan
keladi
tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan  timbul
resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi,"
sambung
Boni sambil tertawa.

Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan
kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak
mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat
kemudian
pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.
Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah
disembuhkan
adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara,
paru-paru, usus besar- rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim,
tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan
hepatitis. Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan
milyaran
Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia
kesehatan.







--
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Netika BerInternet     : [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke