(5) Tempe dapat Hambat Kanker Prostat
http://kompas.com/kompas%2Dcetak/0004/02/iptek/temp21.htm


KACANG-kacangan polong, seperti kacang hijau, kacang merah, kecipir,
kedelai, sudah lama diakui sebagai sumber protein, serat larut, dan berbagai
zat gizi mikro yang memiliki kontribusi unggul dalam pola makan. Namun,
penelitian mengenai atribut gizi kacang polong pada umumnya masih relatif
sedikit, kecuali menyangkut kedelai.
Aspek gizi kedelai telah diteliti secara intensif selama 5-10 tahun lalu.
Itu karena kedelai merupakan makanan unik sumber isoflavon, suatu grup
fitokimia. Pelbagai riset menunjukkan bahwa isoflavon mempunyai peran
potensial dalam mencegah sejumlah penyakit kronis, termasuk kanker prostat,
salah satu momok besar laki-laki berusia di atas 50 tahun.

Insiden kanker prostat klinis di antara orang kulit putih Amerika Serikat
10-15 kali lebih tinggi daripada insiden di antara orang Jepang, sedangkan
insiden kanker prostat laten/tersembunyi secara keseluruhan hanya sekitar 50
persen lebih tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada beberapa populasi,
seperti orang Jepang, pertumbuhan tumor prostat lebih lambat, proses awal
kemunculan tumor prostat atau keduanya terjadi lebih lambat dalam kehidupan.
Penundaan munculnya tumor prostat klinis beberapa tahun pun dapat memiliki
dampak nyata terhadap kematian akibat kanker prostat. Konsumsi kedelai dan
hasil olahannya diduga dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap
kemungkinan kejadian kematian karena kanker prostat yang rendah pada orang
Jepang.

Genistein

Isoflavon adalah subkelas dari flavonoid, yakni kelompok besar antioksidan
polifenol yang banyak dijumpai secara alami dalam buah-buahan, sayuran,
kacang-kacangan dan minuman, seperti teh dan minuman anggur, produk
fermentasi buah anggur. Antioksidan
ialah zat pencegah oksigen bergabung dengan zat lain untuk menimbulkan
kerusakan pada sel-sel; ia mampu melindungi tubuh terhadap timbulnya kanker
sebab menetralkan radikal bebas - molekul tak stabil, biasanya mengandung
oksigen, hasil proses kimia normal tubuh dan pengaruh lingkungan, seperti
radiasi, asap knalpot, asap rokok.

Jenis isoflavon utama yang ditemukan dalam kedelai adalah genistein dan
daidzein.

Penelitian laboratorium menunjukkan, genistein menghambat pertumbuhan
sel-sel kanker prostat yang bergantung dan tidak bergantung pada androgen
(senyawa yang mempunyai khasiat seperti hormon laki-laki) di dalam tabung
reaksi. Genistein juga dapat menghambat potensi penjalaran/penyebaran
sel-sel kanker prostat yang lepas dari hambatan pertumbuhan sel.

Selain itu, genistein menghambat aktivitas 5-alfa-reduktase, yakni enzim
pengubah hormon laki-laki testosteron menjadi dihidrotestosteron (bentuk
androgen lebih aktif) yang merangsang pertumbuhan jaringan prostat, pada
sel-sel muda jaringan kulit alat kelamin dan jaringan prostat yang membesar.
Aktivitas 5-alfa-reduktase dijumpai lebih tinggi pada laki-laki kulit putih
dan kulit hitam AS dibandingkan dengan laki-laki Jepang. Sementara riset
lain menunjukkan, sesudah mengkonsumsi susu kedelai 1 kg per hari selama 1
bulan, konsentrasi metabolit dihidrotestosteron dalam darah turun secara
signifikan. Jadi, konsumsi kedelai dan hasil olahannya, seperti susu
kedelai, dapat mencegah peluang timbulnya kanker prostat pada laki-laki.

Sumber isoflavon

Jumlah isoflavon dalam kedelai bervariasi tergantung pada jenis kedelai,
daerah geografis budidaya, dan pengolahan kedelai. Produk kedelai, seperti
kedelai matur/masak, kedelai panggang, dan tepung kedelai merupakan sumber
isoflavon yang unggul dan menyediakan isoflavon total sekitar 5,1-5,5 mg/g
protein kedelai. Kedelai hijau (3,3 mg/g) dan tempe (3,1 mg/g) adalah sumber
isoflavon menengah, sedangkan tahu dan susu kedelai menyediakan isoflavon
sekitar 2 mg/g protein kedelai (lihat Tabel).

Orang Jepang, yang berkemungkinan mengidap kanker prostat jauh lebih rendah
daripada orang Amerika, makan kedelai minimal sekitar 31 g setiap hari.
Rata-rata orang Asia mengkonsumsi genistein kira-kira 50-75 mg tiap hari -
lebih kurang setara dengan jumlah yang terdapat dalam tempe sekitar 100 g.

Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Texas, AS, mengungkapkan bahwa
genistein dan daidzein tetap tinggal dalam tubuh selama 24-36 jam. Dengan
demikian, untuk menjamin agar sel-sel tubuh terus menerus memperoleh pasokan
isoflavon dan terhindar dari kanker prostat, kedelai dan hasil olahannya
perlu dikonsumsi tiap hari.***

( Nurfi Afriansyah,peneliti Puslitbang Gizi, Bogor )

(6)  Mengubah Khasiat Tempe Jadi Obat
http://kompas.com/9707/13/iptek/meng.htm

Tempe Makanan masa depan

Dengan berbagai khasiatnya itu, tak pelak lagi tempe sangat tepat
dikembangkan sebagai makanan masa depan. Soalnya tempe tidak hanya memenuhi
syarat sebagai makanan sehat, tetapi juga tidak mengandung kolesterol dan
bersifat antioksidan. Yang terakhir ini, tentu saja amat menarik
dikembangkan karena sudah diketahui berkasiat mencegah penuaan dini dan
kanker.







--
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Netika BerInternet     : [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke