|
BIDAYATUL HIDAYAH : BAB TENTANG SESEORANG ALIM
Oleh: Al-Habib Hasan bin Abdurrahman bin Zein al-Jufri
(*)
Majlis ahad pagi Nurul
Iman, Jl. Pethek-Semarang.
Assalamu'alaikum wr wb
Rasulullah Saw berakhlaq yg terpuji, tindak tanduk beliau Saw yg
terpuji,
sopan santun beliau Saw yg terpuji, ucapan-ucapan beliau Saw yg
terpuji
dan segala hal yg berhubungan dgn beliau Saw menjadi terpuji.
Kalau kita menjadi umat beliau Saw, maka kita menjadi umat yg
terpuji.
Kalau tingkah laku kita mengikuti Nabi Muhammad Saw, maka tingkah
laku
kita menjadi terpuji. Akal pikiran kita kalau berhubungan dgn beliau
Saw,
maka akal pikiran kita terpuji.
Apalagi kalau berhubungan dgn al-Qur'an, sesuatu yg mulia, apalagi
yang
memuliakan itu Allah Swt dan Rasul-Nya. Sudah sepantasnya, sudah pula
sepatutnya, sudah seharusnya kita memuliakan apa-apa yg dimuliakan
oleh
Allah Swt. Dan ini merupakan salah satu patokan tanda-tanda orang
yang
beriman pd Allah Swt. Justru itu tanda taqwa yg sebenar-benarnya yg
ada
dlm hati seseorang, karena kita tahu firman Allah Swt:
"Barang siapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Rasulullah Saw maka itu
tanda-
tanda keimanan taqwa yg sebenar-benarnya yg ada di dlm hati."
Jd taqwa ini tempatnya, tinggalnya, bersemayamnya ada di dlm hati.
Taqwa
itu semua hal yg mendekatkan diri kita pd Allah Swt. Tp kalau arti
yang
diajarkan oleh Allah Swt dan Rasul Saw:
"Menjalankan segala perintah Allah Swt."
Melakukan syi'ar-syi'ar agama-Nya Allah adalah perintah Allah Swt dan
taqwa itu juga meninggalkan segala hal yg dilarang oleh Allah Swt.
Jd hubungannya dgn hati?
"Barang siapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Rasulullah Saw maka itu tanda-
tanda keimanan taqwa yg sebenar-benarnya yg ada di dlm hati."
Kita kembali kepada sabda Nabi Saw, bahwa sesungguhnya di dlm diri
manusia, di dlm dirinya ada segumpal darah. Kalau segumpal darah ini
baik,
bersih, bersinar, terarah pd Allah maka akan baiklah seluruh
jasadnya.
Kalau segumpal darah ini rusak, apalagi na'udzubillah hancur, maka
rusaklah
seluruhlah jasadnya. Maka dikatakan jasadnya ini menjadi kuburan
baginya.
Meski orang masih hidup tp ruhnya dikubur di dlm hatinya sebab
seakan-
akan hatinya sudah rusak.
Jasad yg baik ini jasad yg kenal kpd Allah Swt, jasad yg baik jasad yg
taat
pd Allah Swt. Patokannya? Hati yg menggerakkan, sumbernya hati! Jd
semuanya diolah di dlm hati nurani manusia, taqwa sebenar-benarnya ada
di
dlm hati. Tempatnya taqwa ada di dlm hati, funginya taqwa ada pd
anggota
tubuh kita. Jd taatlah pd Allah, sholat, menuntut ilmu, baca al-Qur'an
dan
segala ibadah yg dianjurkan oleh Baginda Rasul Saw.
Kalau ada yg berkata: "Saya bertaqwa, hati saya bertaqwa pd Allah
bahkan
sudah puncaknya taqwa pd Allah." tp anggota tubuhnya tdk menunjukkan
tanda-tanda taqwa, maka ini tdk bisa! Karena berhubungan dgn perintah
Allah Swt bahwa taqwa adalah menjalankan semua perintah-perintah
Allah
Swt. Sebaliknya, kalau orang menjalankan perintah-perintah Allah
lewat
anggota tubuhnya tp tdk diikuti dgn hati maka ini masih kurang, tdk
hancur
tp kurang!
"Saya sudah menjalankan perintah Allah Swt, saya melakukan sholat."
tp
hatinya tdk hadir dlm sholat maka sholatnya masih kurang, perlu
diperbaiki!
"Saya sudah melakukan baca al-Qur'an, saya baca itu
al-Qur'an sebab itu
perintah dari Allah dan anjuran dari Rasulullah Saw, anjuran para
Ulama,
itu merupakan tanda kebahagiaan umat Islam, kemuliaan bagi umat
Islam"
tp kalau baca al-Qur'an cuma keluar lewat lesan saja maka itu masih
kurang
dari segi taqwanya pd Allah Swt. Hatinya kurang hadir dlm memahami
apa-
apa yg terkandung dlm al-Qur'an.
Jd, semua itu kembali pd apa yg diajarkan Rasulullah Saw, manusia
yg
terpuji bahkan dipuji oleh Allah Swt karena akhlaq beliau Saw yg
mulia.
Di dlm Islam ada aturan main, rumusnya sudah ada, tandanya sudah juga
diajarkan oleh Rasulullah Saw, tp semua harus itu harus diikuti oleh
akhlaq,
tingkah laku, sopan santun, budi pekerti yg baik. Bisa jd orang
dikatakan
sah, tp tdk patut. Bisa jd yg dilakukan itu dikatakan bener dan tdk
langgar
peraturan, tp itu tdk pantes!
Contohnya kita sholat, bagi laki-laki aurat yg wajib ditutup itu dari
pusar
sampai dgn lutut, jd kalau dikatakan (ma'af) boleh tdk sholat tdk pakai
baju
atau kaos (bagi laki-laki)? Boleh dan sah, tdk batal! Kalau ada
seseorang
yg mengatakan itu batal sholatnya, tdk sah, maka orang itu berarti
tdk
belajar fiqh, tp ada aturan lain yg mengikat yaitu tdk pantas menghadap
pd
Gusti Allah Swt tdk pakai kaos, tdk pakai baju. Lain kalau dlm hal
memakai
kain ikhram saat berhaji, tdk apa-apa.
Semua sdh diatur oleh Allah, dan ada tuntutan yg diajarkan oleh
Rasulullah
Saw, begitu juga dgn apa yg disampaikan oleh al-Qur'an, ini sesuatu
yang
dimuliakan oleh Allah Swt dan Baginda Rasulullah Saw, bahkan
Rasulullah
Saw pun sampai senang mendengar bacaan al-Qur'an dari para Sahabat
Ra.
Sahabat Ra bertanya:
"Ya Rasulullah, gimana saya membacakan al-Qur'an di hadapanmu ya,
Rasulullah, sedangkan al-Qur'an diturunkan kpdmu ya Rasulullah?"
"Aku senang mendengarkan bacaan al-Qur'an daripada yg lain." jawab
Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw yg sudah mendapatkan semua dari Allah Swt saja masih
senang mendengarkan bacaan al-Qur'an, suatu kemuliaan dari Allah Swt.
Dan orang yg membiasakan dirinya membaca al-Qur'an, mendengarkan
bacaan al-Qur'an, atau matanya melihat al-Qur'an maka dia akan
mendapat
curahan rahmat dari Allah Swt. Apalagi kalau kita mengamalkan apa yg
ada
di al-Qur'an, Rasulullah Saw yg harus kita ikuti, sebab beliau Saw ini
adalah
terjemahan dari al-Qur'an.
BIDAYATUL HIDAYAH - BAB TENTANG SESEORANG ALIM
Di sini dikatakan oleh al-Imam al-Ghozali, bagi orang yg
tergolong sebagai
orang yg alim, maka ini adab atau sopan santun yang harus pantas
dilakukan
oleh orang yang alim yang insya Allah bisa menambah kealimannya, akan
mengangkat derajatnya di hadapan Allah Swt, yaitu:
1. Merasa tenang.
Jd, kalau dikatakan mulut orang yg alim dan yg tdk alim harus beda,
kalau
orang alim menghadapinya dgn ketenangan, berserah diri pd Allah Swt,
berusaha tp tetap tenang. Kalau tdk, bisa mengurangi kualitas
kealimannya,
terlebih-lebih di hadapan Allah Swt. Walaupun ini sebenarnya dia dlm
keadaan bingung tp kalau dia alim dia bisa dijadikan panutan, tuntunan
oleh
masyarakat lainnya, apalagi kalau di dlm hatinya dia yakin punya Allah
Swt
yg bisa menyelesaikan segala masalah, yg bisa membantu dia dlm segala
masalah, dgn tenang, terlebih-lebih dalam hal ibadah, majlis atau dalam
hal
lainnya.
2. Membiasakan dirinya dgn Hilm
Hilm ini di atas sabar, padahal sabar ini susah dan sabar berhentinya
sampai
ajal menjemput, jd sabar tdk ada berhentinya kecuali ajal. Segala hal
kita
lakukan dlm keadaan sabar, sholat ya sabar, dlm keadaan taat ya
sabar,
dlm keadaan menjauhi maksiat ya sabar, apalagi dlm keadaan menghadapi
musibah. Semuanya ini dgn sabar! Nah, Hilm ini di atasnya sabar, dan
Hilm
ini termasuk salah sifat dari Allah Swt: Al-Halim. Allah Swt sdh punya
sifat
as-Shobru, ini masih punya lagi sifat al-Halim.
Seseorang bisa mengambil sifat-sifat Allah untuk dirinya yg pantas
sebagai
manusia, tp ada sifat-sifat Allah Swt yg tdk pantes untuk manusia
yaitu
misalnya al-Jabbar, al-Mutakabbir...tdk pantes bagi hamba-Nya untuk
bersifat sombong, tdk boleh!
3. Duduk dlm keadaan Haibah
Duduknya orang alim dlm keadaan Haibah, sampai-sampai orang alim itu
duduk sambil menundukkan kepala, al-khudur pd Allah Swt, apalagi di
dlm
sholat, apalagi dlm majlis, atau dlm segala hal mendekatkan diri pd
Allah
Swt.
Orang alim kedudukannya tinggi di sisi Allah Swt, bahkan sebagai
pewaris
Nabi, "Al Ulama warosatul ambiya'" apalagi ulama ini ulama pewaris
dari
Baginda Rasulullah Muhammad Saw, bahkan dia bisa memberi syafa'at pd
keluarganya atas ijin Allah Swt melalui pintu Baginda Rasulullah Saw.
Kalau
bisa masuk ke golongan ini, maka masuklah ke golongan ini.
Tuntutlah ilmu, hadirilah majlis-majlis ilmu, luangkan waktu untuk duduk
dgn
orang-orang yg berilmu, cari ilmu dari buku untuk menambah ilmu demi
mendekatkan diri kita pd Allah Swt.
Semoga Allah Swt membukakan pintu ilmu pd kita hingga kita bisa
menjadi
orang yg khusyuk dlm ibadah karena ilmu, yg lebih mulia di hadapan
Allah
karena ilmu, mendapatkan kemuliaan dunia akhirat karena ilmu,
mendapat
ridho Allah Swt bi kheir wa luthfin wal afiyah.
Wassalamu'alaikum wr wb
_________________________________________________________
(*) : Jikalau ada kesalahan, maka itu murni kesalahan saya dlm
mendengar
dan mencatat apa-apa yg disampaikan oleh Habib Hasan bin Abdurrahman
bin Zein al-Jufri (Semarang) dlm majlis ahad pagi 25 Desember 2005
lalu. Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan. Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu. YAHOO! GROUPS LINKS
|
- [keluarga-islam] Tentang Seseorang Alim Yusa
