NU Layani 'Tantangan' Kelompok Islam Garis Keras
Selasa, 27 Februari 2007 20:02

Jakarta, *NU Online*
Genderang perang mulai ditabuh Nahdlatul Ulama (NU) untuk menghadapi gerakan
dari kelompok Islam garis keras yang muncul akhir-akhir ini. Organisasi
kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini siap melayani 'tantangan'
kelompok Islam radikal yang sudah sangat meresahkan warga *nahdliyin *(sebutan
untuk warga NU) itu.

Pada Sabtu (25/2) lalu, Pimpinan Pusat (PP) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama
(LDNU) mengeluarkan maklumat yang berisi tentang peneguhan kembali terhadap
ajaran dan amaliyah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang selama ini
dijalankan oleh warga nahdliyin. Sebanyak 8 ketua Pengurus Wilayah LDNU
se-Indonesia menandatangani maklumat yang merupakan respon atas tuduhan
sesat terhadap ajaran dan amaliyah NU itu.

"…kami menyadari dengan sepenuh hati, bahwa dewasa ini telah tumbuh dan
berkembang gejala pemikiran dan gerakan ke-Islam-an (*al-harakah
al-islamiyyah*) melalui praktek-praktek keagamaan yang dapat melunturkan
nilai-nilai *Ahlussunnah Wal Jamaah *ala NU, maka dengan ini kami
menyatakan: …Senantiasa menjalankan amaliah ibadah Ahlussunnah wal Jama'ah
ala NU, melestarikan praktek-praktek dan tradisi keagamaan *salafush shalih*;
sepert salat-salat sunnat, salat tarawih 20 rakaat; wirid, salawat, qunut,
talqin, ziarah qubur, tahlil, manaqib, ratib, maulid Nabi, haul, dan
istighotsah; serta toleran terhadap tradisi budaya yang sesuai dengan
nilai-nilai Islam sebagai bagian dari dakwah Ahlussunnah wal Jama'ah ala
NU," demikian salah satu poin dalam maklumat tersebut.

Ketua Umum PP LDNU KH Nuril Huda kepada *NU Online* menyatakan, gerakan
kelompok garis keras itu sudah melewati batas toleransi. Karena mereka tidak
lagi sebatas mengambilalih masjid-masjid milik warga nahdliyin, melainkan
sudah berani menghasut dan menuduh NU adalah sesat.

"Masjid-masjid NU mulai diambilalih. Muncul banyak buku-buku yang menghujat
ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah ala NU. Salat tarawih 20 rakaat; wirid,
salawat, qunut, talqin, ziarah qubur, tahlil, maulid Nabi, istighotsah dan
lain-lain dianggap ajaran sesat. Ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi,"
terang Kiai Nuril di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (27/2).

Apalagi, lanjut Kiai Nuril, gerakan mereka sudah sangat luas dan hampir
merata di seluruh daerah, tidak hanya daerah yang berbasis nahdliyin. Jika
NU tak segera mengambil sikap tegas, maka bukan mustahil tradisi keagamaan
yang dijalankan warga nahdliyin selama ini akan hilang.

Tak hanya itu. Hal yang paling dikhawatirkan NU, menurut Kiai Nuril, adalah
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945 pun ikut terancam. Pasalnya, kuat disinyalir,
kelompok Islam garis keras tersebut berkeinginan menjadi Indonesia sebagai
negara Islam.

Karenanya, selain peneguhan kembali terhadap ajaran dan amaliyah Aswaja ala
NU, dalam maklumat tersebut juga ditegaskan bahwa NU tetap pada komitmennya
untuk setia menjaga keutuhan NKRI. NU tak ingin ada pihak-pihak tertentu
yang mencoba mengusik keberadaan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Ditambahkan Kiai Nuril, sebagai tindak lanjut atas maklumat tersebut, setiap
PW LDNU se-Indonesia akan menguatkan barisan dalam rangka menghadapi gerakan
kelompok Islam garis keras tersebut. "Kita sudah tetapkan ada lima zona
konsolidasi NU. Antara lain, zona Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara
Barat dan Kalimantan. Masing-masing zona ini akan menghimpun dan
mengkonsolidasikan seluruh PW LDNU di provinsi yang berada di wilayahnya,"
jelasnya.

Keberadaan zona-zona tersebut, kata Kiai Nuril, diharapkan dapat menata
dengan rapih gerakan dakwah NU di daerah-daerah. Dengan demikian,
masjid-masjid NU serta ajaran dan amaliyah NU dapat terjaga. "Walaupun
berbeda prinsip, tapi kita ingin sama-sama saling menghormati dan menghargai
keyakinan masing-masing. Tidak ada lagi tuduhan bahwa NU adalah sesat dan
sebagainya," pungkasnya. (rif)

Kirim email ke