Mereka Membawa "Aspirasi Zionis"

Oleh : Redaksi <http://swaramuslim.net/>  10 Dec 2007 - 10:32 pm  
<http://swaramuslim.net/siyasah/comments.php?id=5792_0_6_0_C> 

 image <http://swaramuslim.net/images/uploads/tokoh_islam/Chalid_Mawardi-s.jpg> 
 image <http://swaramuslim.net/images/uploads/tokoh_liberal/NU_Israel-0b.jpg> 
Kejahatan Israel terhadap bangsa Palestina, sudah tak bisa diungkapkan lagi. 
Tetapi, masih ada saja yang berusaha menjadi "aspirator" Zionis di Indonesia

Wajah Chalid Mawardi masih tak nyaman ketika banyak wartawan menemuinya kala 
itu. Chalid Mawardi, ketua Bidang Politik PBNU kala itu, baru saja kaget. 
Maklum, ketika itu, jutaan masyarakat Muslim Indonesia dikejutkan dengan 
hadirnya tokoh Indonesia, yakni; Abdurahman Wahid (Gus Dur), Habib Chirzin, dan 
Djohan Effendi sesaat kunjungan mereka ke Israel. Tiga orang ini, baru saja 
menemui wakil Menlu Israel dan mengadakan pembicaraan bahkan manganjurkan 
pentingnya bagi Indonesia segera membuka hubungan diplomatik dengan Israel. 

Chalid menilai saran Gus Dur itu terlalu dini dan gegabah. "Israel itu negara 
imperialis, penjajah. Ia masih menduduki wilayah Arab," kata Chalid dikutip 
Republika, Kamis, 10 November 1994. Menurut Chalid, membuka hubungan dengan 
Israel adalah bertentangan dengan pembukaan UDD 1945. Ia juga punya alasan 
lain. Menurutnya, Israel melanggar hak asasi manusia dan melakukan diskriminasi 
terhadap penduduk Arab dan pemukim Yahudi di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

"Jadi tak ada urgensinya membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Malah akan 
merugikan," tegasnya. 

Sementara itru, Menurut wakil ketua PBNU Syaiful Mujab, tak ada satu dalih pun 
yang dapat membenarkan kepergian Gus Dur ke Israel. Syaiful menuntut agar 
Syuriah PBNU tidak cuma menegur Gus Dur. "Entah apa namanya, pokoknya harus ada 
tindakan terhadap Gus Dur," kata Syaiful. 

April 2007, 13 tahun setelah kejadian itu, gelombang protes dari 
kantong-kantong ummat Islam muncul di mana-mana. Mereka, antara lain dari 
Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Komite Indonesia untuk 
Solidaritas Palestina (KISPA), dan Forum Umat Islam (FUI) yang merupakan 
gabungan berbagai 40 ormas Islam men olak beramai-ramai rencana kehadiran 
Delegasi Parlemen Israel (Knesset) ke Sidang Inter Paliamentary Union (IPU) di 
Nusa Dua Bali, Indonesia.

Wakil 40 ormas Islam ini beramai-ramai mendatangi DPR-RI dan diterima Wakil 
Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno guna melakukan penolakan gelegasi Israel itu 
yang akan datang ke Bali pada 29 April-4 Mei 2007. 

Tak sekedar mendatangi DPR, FUI dan elemen Islam menggelar Tabligh Akbar di 
Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta. Sejumlah pembicara ditampilkan 
untuk menentang kedatangan delegasi parlemen Israel ini. HAdir Wakil Ketua DPR 
Soetardjo Soerjogoeritno, Ketua MPR-RI Dr Hidayat Nur Wahid, Ketua MUI dan 
Ketua Dewan Dakwah sekaligus Ketua KISDI, KH Khalil Ridwan Lc, Ridwan Saidi, 
Ketua BKSPP KH Amin Noer, Al Muzamil Yusuf (DPR), Munarman SH (mantan ketua 
YLBHI), Fadli Zon (IPS), Ferry Noor (Kispa), M Al Khaththath (FUI), Muh Fadzlan 
(Mubaligh asal Papua) dan beberapa tokoh Islam. Di berbagai daerah, acara yang 
sama serentak terjadi.

Melihat reaksi masyarakat ini, pada akhirnya, delegasi Israel batal menghadiri 
Inter Parliamentary Union (IPU). Alasannya, Indonesia, menolak setting keamanan 
yang diajukan dan telah disusun oleh Shin Bet, dinas keamanan Israel yang 
bertugas mengamankan para pejabat negara. 

'Dekat Yahudi'
Kasus-kasus serupa, sering menjadi masalah di dalam Negeri. Meski demikian, tak 
banyak orang mengambil hikmah dan pelajaran. Sebagian orang, baik atas insiatif 
sendiri atau undangan pihak Israel sering "menggunting dalam lipatan" untuk 
menjalin hubungan dan kerjasama dengan Israel. 

Namun, ibarat pepatah, "sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga", 
hubungan atau kunjungan diam-diam itu, tiba-tiba mencuat ke publik. Baru-baru 
ini, tepatnya Jumat, (8/12) lalu, serombongan wakil cendiawan Muslim Indonesia 
ketahuan mengunjungi Israel. 

Dr. Syafiq Mughni, Ketua Pimpinan Wilayah (PWM) Muhammadiyah Jawa Timur, salah 
satu pengurus PB NU, Abdul A'la, CEO, juga LibForAll Foundation, C.C. Holland 
Taylor adalah nama-nama yang banyak disebut Koran Yahudi, Jerusalem Post dalam 
kunjungan itu.

Rombongan asal Indonesia ini, ditengarai hadir atas sponsor Simon Wiesenthal 
Center dan LibForAll Foundation. LibForAll Foundation pernah disebut-sebut 
beberapa media sebagai lembaga Zionis yang berkedok memperjuangkan "Liberalisme 
dan Pluralisme" di Indonesia. 

Selama seminggu mereka berada di Israel dengan didampingi Kepala Wiesenthal 
Center Associate, Rabbi Abraham CooPeres dan CEO, LibForAll Foundation, C.C. 
Holland Taylor. Selain diajak berkeliling ke perbatasan Jalur Gaza, mengunjungi 
Masji Al-Aqsa, juga dikenalkan dengan kebudayaan dan beberapa acara keagamaan 
Yahudi. Mereka juga mengunjungi sekolah anak-anak di Sderot yang berhadapan 
langsung dengan Jalur Gaza. Dan kemudian diakhiri dengan pertemuaan dengan 
Presiden Israel, Shimon Peres. 

Selain itu, Abdurahman Wahid juga seorang anggota International Board Governors 
dari Peres Peace Center, di mana, dengan kapasitas itu, yang ia sudah beberapa 
kali mengunjungi Israel di masa lampau. Sementara itu, Peres sendiri disebut 
media Yahudi pernah mengunjungi di Indonesia, meski dengan alasan keamanan, 
kunjungan tidak lebih dari sehari. Tak jelas, kapan di mana dia datang. 

Selain itu, hubungan antara Israel dan Indonesia juga dilakukan dalam bentuk 
bisnis. Jerussalem Post mengutip, ada beberapa orang-orang pebisnis asal 
Indonesia yang pernah terlibat dalam spekulasi dagang dengan Israel. 

Yang menarik, pernah Peres menanyakan kepada mereka tentang kunjungan dan 
hubungan ini, para anggota rombongan itu bahkan menyadari aktivitas ini. 

Di tahun 2005, Israel juga ikut mengirim bantuan berkedok kemanusiaan untuk 
Indonesia, Sri Lanka dan Thailand guna membantu bencana stunami. 

C. Holland Taylor adalah Ketua & CEO LibForAll Foundation kepada Jerussalem 
Post mengatakan, Abdurahman Wahid telah mengeluarkan suatu keputusan melawan 
Hamas, salah satu sayap pejuang kemerdekaan Palestina. Wahid juga pernah 
mengatakan, bahwa Indonesia adalah satu-satunya tempat di dalam dunia di mana 
Hamas telah ditolak oleh sebgian besar organisasi Muslim. 

Juni 2007 lalu, beberapa organisasi Yahudi disebut-sebut sebagai sponsor 
penyelenggaraan Konferensi di Bali bertema "Toleransi antara Agama-agama," di 
mana Hindu, Islam dan para saksi Holocaust diikut sertakan. Konferensi itu juga 
diorganisir Abduraahman Wahid. 

Jerussalem Post juga mengutip, Oktober lalu, sebanyak tujuh delegasi wartawan 
Indonesia juga telah diundang berjumpa dengan Peres. Usaha seperti ini, tidak 
lain, sebagai bentuk usaha 'mendekatkan diri' pada Israel.

Bagi banyak umat Islam di dunia, khususnya Palestina, pertemuan seperti ini 
bukanlah dipandang sebagai hal kecil. Pembantaian Qana tahun 1996, menewaskan 
sekitar 100 warga sipil Libanon. Sebagian besar mereka adalah anak-anak dan 
wanita. Peres, ketika itu adalah Wakil Perdana Menteri Israel. 

Bom Israel juga menewaskan empat pengamat PBB; dari Austria, Kanada, China dan 
Finlandia. Peristiwa ini mengundang tuduhan, bahwa Israel melakukannya dengan 
sengaja.

Entahlah, seolah-olah menutup mata terhadap peristiwa kekejian Israel itu, 
masih banyak beberapa orang yang secara 'diam-diam' terus berhubungan Israel. 
Meski kejadian-kejadian seperti ini bukanlah hal baru.

"Aspirasi Zionis"
Kasus seperti ini, seolah mengulang kembali peristiwa lama yang banyak 
dijadikan pelajaran berharga. 

Februari tahun 1994, selama hampir seminggu, Indonesia diguncang demo 
besar-besaran setelah hadirnya empat wartawan Indonesia usai mengunjungi Tel 
Aviv dan melakukan wawancara eksklusif dengan Perdana Menteri kelima Israel 
Yitzhak Rabin. Diantara rombongan wartawan itu salah satunya adalah pengurus 
ICMI pusat, Dr. Nasir Tamara. 

Selain Nasir Tamara, wartawan yang ikut dalam rombongan itu adalah: Derek 
Manangka (Media Indonesia), Wahyu Indrasto (Eksekutif), dan Taufik Darusman 
(Business Wekly). Derek Manangka bahkan membuat tulisan berseri yang 
jelas-jelas mengajak habis-habisan pentingnya Indonesia segera membuka hubungan 
diplomatik dengan Israel. 

Kunjungan dan laporan warta-wan-wartawan tentang Israel menimbul-kan gelombang 
protes. 

Selain empat wartawan, kunjungan serupa juga pernah dilakukan bekas Abdurrahman 
Wahid. Sebagai anggota Shimon Perez Foundation, Abdurahman mengunjungi Israel 
didampingi sejumlah tokoh antara lain: Habib Hirzin, Bondan Gunawan. Hasilnya 
sama, di dalam Negeri, gelombang protes terjadi. 

Selain melahirkan demo besar-besaran, kehadiran mereka juga mengikarkan 
kemarahan pemerintah. Menlu Ali Alatas dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) kala itu, 
menyesalkan kunjungan ke Israel itu. 

Pihak Departemen Luar Negeri, menurut Alatas, serasa "kecolongan" atas 
kepergian mereka dan tak pernah minta izin.

"Ini apa-apaan, Deplu RI tak tahu menahu soal itu. Gus Dur pergi ke Israel sama 
sekali tanpa sepengetahuan Deplu," kata Menlu Alatas," Kalaupun dia meminta 
izin Deplu untuk ke Israel, pasti akan saya tolak. Masa nggak ngerti," begitu 
pernyataan Alatas kepada wartawan seusai menghadiri acara penganugerahan 
Bintang Mahaputra Adipradana untuk almarhumah Ibu Fatmawati di Istana. Bagi 
Alatas kala itu, keberatan pemerintah, karena kebijakan Indonesia dengan Israel 
masih belum berubah, demikian ungkap Almarhum Ali dikutip Republika, Kamis, 10 
November 1994. 

Namun sinyal-sinyal seperti ini nampaknya tak menghasilkan kepekaan hati nurani 
bekas para palancong di tanah Yahudi itu. Bahkan saat duduk sebagai presiden 
RI, Abduraahman Wahid sudah mengumumkan hendak merintis pembukaan hubungan 
diplomatik dengan Israel. 

Tahun 1999, PDI Perjuangan (PDI-P) pernah mengusulkan rencana kontroversialnya, 
Membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Anggota Balitbang PDI-P, Subagio 
Anam,kala itu, mengatakan kepada koran Israel Ha'aretz bahwa pihaknya akan 
mengembangkan hubungan dengan Israel untuk membawa kesejahteraan keseluruh 
wilayah.

Kepada Republika tokoh PDI-P, Aberson Marle Sihaloho, juga menegaskan bahwa 
PDI-P berpandangan tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak menjalin 
hubungan diplomatik dengan Israel. Menurut Aberson, membuka hubungan dan 
mengakui Israel merupakan sikap yang sesuai dengan UUD 1945. 

Adalah Prof. Dr. Noam Chomsky, profesor bidang linguistik di Massachusetts 
Institute of Technology (MIT) menilai, apa yang telah dilakukan Israel di 
Libanon dan Palestina selama ini dengan dukungan AS, merupakan bukti 
pelanggaran kedua negara itu atas hukum internasional dan kejahatan melawan 
hukum. 

"Kita sangat tahu bahwa Israel, AS dan negara-negara Barat lainnya, serta 
kelompok yang kerap menyuarakan pemikiran Barat, tidak percaya perkataan 
seperti itu. Sudah ada bukti yang cukup bahwa mereka mentoleransi kejahatan 
Israel di Libanon yang didukung oleh AS, termasuk empat invasi yang dilakukan 
Israel sebelumnya, penjajahan yang telah melanggar perintah-perintah Dewan 
Keamanan selama 22 tahun, rangkaian pembunuhan serta penculikan," ujarnya saat 
wawancara dengan Kaveh Afrasiabi, pendiri dan direktur Global Interfaith Peace 
tahun 2006.

Harian Filintin, Rabu (09/05) menurunkan sebuah artikel yang ditulis Dr. Yusuf 
Kamil Ibrahim berjudul "al athfal al filistiniyun dhahaya al irhab al shahyuni" 
(bocah-bocah Palestina korban teroris Zionis). Artikel ini mengupas kondisi 
bocah-bocah Palestina yang menjadi korban kekerasan Israel baik secara fisik 
maupun psikologis.

Seorang cendekiawan Muslim Palestina, Dr. Yusuf Kamil, menulis di Harian 
Filintin. Dalam artikelnya yang berjudul "al athfal al filistiniyun dhahaya al 
irhab al shahyuni" (bocah-bocah Palestina korban teroris Zionis), mengungkap 
kondisi bocah-bocah Palestina yang menjadi korban kekerasan Israel baik secara 
fisik maupun psikologis.

Menurutnya, sejak awal intifadhah Al-Aqsa, Israel telah membunuh lebih 676 
bocah di bawah usia 18 tahun. Di samping pembunuhan 22 bocah sejak awal tahun 
2007. Selama inifadhah lebih 9000 bocah Palestina terluka, ratusan di antaranya 
mengalami cacat tubuh permanen. Sementara ribuan bocah Palestina lainnya 
mengalami goncangan jiwa akibat berinterasi dan menyaksikan peristiwa yang 
menakutkan. Selain itu lebih 3000 bocah Palestina diculik dan ditahan Israel 
selama intifadhah. Sampai saat ini lebih 300 bocah Palestina masih mendekam di 
dalam penjara Zionis Israel. 

Ini, belum menyangkut pelanggaran hak hidup, hak memperoleh pendidikan dan hak 
hidup bebas. Hingga hari ini, di tengah-tengah terus dibangunnya tembok pemisah 
rasial Israel, Zionis-Yahudi secara seenaknya memutuskan Jalur Gaza, di mana 
tempat utama keluar masuknya arus barang, makanan, listrik dan pasokan air.

Karenanya, mantan Ketua MPR RI yang juga pengamat masalah Timur Tengah, Dr. 
Amien Rais pernah mengatakan, ketidakpekaan sebagian orang -baik yang 
mengusulkan hubungan diplomatic dengan Israel atau yang secara diam-diam 
'melakukan hubungan' dengan Israel-secara tidak langsung, ia adalah kepanjangan 
dari aspirasi Zionis.

"Orang-orang Indonesia yang terpengaruh Zionis itu tentu kelakuannya mirip 
dengan kaum Zionis. Dan, sesungguhnya, mereka mudah dideteksi. Mereka 
mendambakan sebuah hubungan diplomatic yang penuh antara Jakarta dan Tel Aviv. 
Seandainya secara resmi mereka bukan agen Zionis, tapi aspirasinya adalah 
aspirasi Zionis, " demikian ujar Amien Rais dalam wawancaranya dengan Majalah 
Forum, 22 Oktober 2000. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com] 

  
<http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=15337060/grpspId=1705038064/msgId=21945/stime=1197344383/nc1=3848582/nc2=5045822/nc3=4840951>
 
 

Kirim email ke