Segala Amal Perbuatan itu Tergantung Niat

Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niat, dan bahwa 
tiap-tiap orang itu mendapat balasan sesuai apa yang ia niatkan. (HR 
Bukhari-Muslim). 

Kebencian Abudullah bin Ubay kepada Rasulullah saw sudah sampai ke ubun-ubun. 
Abdullah merasa bahwa sejak Rasul yang mulia ini hijrah ke Madinah dianggap 
pesaing beratnya. Namun, untuk melawan secara langsung tidak mungkin, karena 
Rasulullah amat dicintai golongan Anshor, Muhajirin, dan kelompok minoritas 
lainnya. Maka, yang dapat ia lakukan adalah politik lempar batu sembunyi 
tangan. Salah satu program lempar batu sembunyi tangan untuk memecah belah 
kelompok di wilayah Madinah adalah dengan mendirikan masjid. 

Singkat cerita, Abdullah dan kroni-kroninya selesai membangun Masjid Dhiror. 
Abdullah lalu mendatangi Nabi dan memintanya mengimami shalat jenazah di masjid 
itu. Pulang dari medan perang Tabuk, Nabi berhenti sebentar di Dzi Awan, suatu 
tempat jarak perjalanan kaki satu jam dari kota Madinah. Di samping Nabi, 
mereka juga menunggu kedatangan Abu Amir, seorang pendeta Nasrani dari Suriah. 
Tapi sial, Abu Amir tidak datang karena keburu meninggal di Suriah. 

Semula Nabi akan datang memenuhi undangan tersebut. Namun Umar bin Khattab 
memprotes Nabi karena telah lama mengenal Abdullah dan kroninya sebagai pihak 
yang sering merugikan Islam dan umatnya. Namun, Nabi belum memiliki alasan kuat 
untuk membatalkan kedatangannya ke masjid itu hingga turun ayat 107-108 surat 
At-Taubah. Atas wahyu itu, Nabi memanggil sahabat Malik bin Dakhassy, Ma'un bin 
Ady, dan Ashim bin Ali ''Berangkatlah kalian ke Masjid Dhiror yang dibangun 
oleh orang zalim dan munafik itu. Bakar dan hancurkan,'' kata Nabi. 

Kisah tadi merupakan salah satu contoh bagaimana orang atau kelompok orang yang 
di dalam hatinya memiliki niat yang jelek alias jahat. Suatu niat tersembunyi 
di dalam hati, yang sangat sulit untuk dideteksi. Hanya pelakunya dan Allah 
saja yang mengetahui, sehingga Nabi pun sebagai manusia bisa terkecoh juga. 

Namun, sekalipun niat itu tersembunyi di dalam hati, tetapi buahnya akan dituai 
sesuai dengan lurus tidaknya niat itu. Barang siapa menabur angin, dia pasti 
akan menuai badai, barang siapa yang memiliki niat busuk, maka dia akan 
menerima akibat di belakang hari sesuai dengan yang diniatkan itu. 

Ketika Rasulullah memerintahkan kepada sahabatnya untuk berhijrah, ada seorang 
laki-laki yang ikut berhijrah karena calon istrinya yang beriman juga 
berhijrah. Mengetahui hal ini, Nabi pun menyatakan barangsiapa berhijrah karena 
'manusia', maka yang diraih pun hanya sebatas itu, dan tak akan pernah meraih 
pahala dari Allah. Dengan latar belakang peristiwa itu, Nabi bersabda, ''Setiap 
amal itu tergantung kepada niatnya.'' Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan 
suasana hati kita, yang kadang-kadang tidak bisa kita kendalikan. Memang benar 
bahwa kita itu memiliki hati, namun kita tidak mungkin menguasai hati kita 
sepenuhnya, dan kepada kita diajarkan untuk berdoa: Ya, Zat yang 
Membolak-balikkan hati, berilah kami ketetapan hati! 


Wallahu a'lam.

Kirim email ke