--- Pada Sel, 2/6/09, Zon <zonatjonggo.........> menulis:
 
 
Banyak kalangan umat Islam masih binggung cara mengikuti pilpres 2009 yang baik 
agar sesuai dengan ajaran agama Islam walaupun kita ketahui pada dasarnya 
negara kita belum menganut hukum Islam.

Berikut adalah tips sederhana memilih presiden / wapres RI bagi umat Islam.

Seperti kita ketahui pilihan yang tersedia adalah 4 pilihan,

0. Tidak memilih
1. Megawati SP / Prabowo.
2. Susilo B Yudoyono / Boediono
3. M Jusuf Kalla / Wiranto

Mari kita kupas setiap pilihan yang tersedia.

0. Tidak Memilih

Pilihan ini sebaiknya tidak dilakukan karena sesungguhnya jumlah pilihan begitu 
sederhana dan track record / rekam pengalaman calon presiden / calon presiden 
dapat kita ketahui dengan mudah. 

Buat umat Islam yang berlandaskan bahwa belum diterapkannya hukum Islam dalam 
kehidupan bernegara, sebaiknya ikhlas menerima keadaan bahwa kita hidup di 
negara yang belum menerapkan hukum Islam. 
Untuk itu perlu melakukan penerapan Syariah Islam mulai dari diri sendiri, 
keluarga, saudara, usaha, perusahaan, koperasi, lembaga keuangan, jamaah dll. 

Sejalan dengan usaha perubahan yang dilakukan maka tidak mengapa kita mengikuti 
pilpres dengan menerapkan Syariah Islam dalam memilih pemimpin dan kemudian 
kita dakwahkan juga cara-cara yang sesuai Syariah Islam dalam memilih pemimpin 
ini kepada umat Islam yang belum mengetahui, agar Syariah Islam dikemudian hari 
benar-benar di implementasi di segala bidang kehidupan.
Firman Allah,
"dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah 
diusahakannya" (QS An-Najm:29)
"Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan 
yang ada pada diri mereka sendiri" (QS 13:11)

1. Megawati SP / Prabowo

Mohon maaf, pilihan ini menjadi tidak memungkinkan untuk dipilih karena 
disebuah jamaah yang terdiri dari laki-laki dan perempuan maka seorang pemimpin 
selayaknya adalah yang memungkinkan untuk pemimpin sholat (imam sholat) yakni 
kaum laki-laki. 
Terlebih lagi kita memperhatikan firman Allah,
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah 
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) (QS 
An Nisaa : 34)
Walaupun firman Allah ini adalah dimaksudkan kepada pemimpin dalam keluarga, 
tetapi perlu diingat bahwa, baru saja dalam bentuk bangunan keluarga yang 
begitu kecil sudah diwajibkan laki-laki sebagai pemimpin bagi wanita, apalagi 
dalam bentuk negara yang besar dan kompleks yang terdiri dari berjuta-juta 
keluarga.
"Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (pemerintahan) 
mereka kepada seorang wanita" (HR. Bukhari). Dimana hadist ini merupakan 
komentar Rasulullah saw, ketika sampai kepada Rasulullah saw berita tentang 
pengangkatan putri Kisra sebagai Raja Persia.
Selanjutnya berdasarkan pada apa yang telah dicontohkan Rasulullah dan 
Khulafaur Rasyidin (Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, Khalifat 
Usman bin Affan, Khalifah Ali bin Abi Thalib, 11 H-40 H, 632 M-661 M), dimana 
semua yang menjadi Khalifah adalah laki-laki.

Pilihan yang tersedia sekarang menjadi lebih sederhana adalah,
2. Susilo B Yudoyono / Boediono
3. M Jusuf Kalla / Wiranto

Sesuai di tulisan saya di,
http://mutiarazuhud .wordpress. com/2009/ 05/19/seruan- umat-islam/

Hal yang harus diperhatikan dalam memilih pemimpin sebaiknya berdasarkan 
ketaqwaannya kepada Allah.

Ketaqwaan dapat dilihat dari hasil / perbuatan sang pemimpin apakah sesuai 
dengan perintah Allah.

Sekarang secara sederhana kita memperhatikan bentuk ketaqwaan pa SBY dan pa JK,

Pada saat deklrasi, pa SBY sebagai pemimpin menyetujui menghambur-hamburka n 
uang untuk untuk sekedar acara deklarasi sedangkan pa JK menyetujui 
mengeluarkan uang sebaik mungkin. Ternyata kebijakan beliau dalam pembiayaan 
acara deklarasi paling rendah dibandingkan calon pemimpin lainnya. 
Firman Allah, 
"Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan 
itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS Al Isra' : 27)
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk dalam kubur. 
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)" (QS. 
At-Takatsur: 1-3)

Pada saat deklrasi, pa SBY sebagai pemimpin menyetujui format acara 
meniru/meneladani kaum Amerika. Sedangkan pa JK sebagai pemimpin meniru keadaan 
yang dirahmati Allah SWT yakni proklamasi kemerdekaan dahulu. Firman Allah, 
"Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan 
kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap 
(siksa) Allah." (Ar-Ra'd: 36-37). Sebagaimana yang telah ditetapkan dalam 
syariat bahwa tidak boleh bagi muslim atau muslimah untuk ber-tasyabbuh 
(meniru) orang kafir baik dalam perkara ibadah, hari raya atau tasyabbuh dalam 
penampilan.

Cara sederhana lainnya adalah dengan melihat pemimpin yang mana yang lebih 
disenangi "asing". Apakah pa SBY atau pa JK ? 
Sedangkan kita tahu bahwa pa SBY lebih disenangi "asing" bahkan beliau dapat 
penghargaan tahunan dari majalah TIME termasuk 100 orang berpengaruh di dunia.

Kita tahu bahwa kaum kafir sesunguhnya tidak menyukai kaum muslimin. 

Seperti firman Allah,
"Mereka (orang-orang kafir itu) menghendaki untuk memadamkan cahaya (agama) 
Allah dengan mulut-mulut mereka, dan Allah terus menyempurnakan cahaya 
(agamaNya) walaupun orang-orang kafir tidak suka". (Ash-Shaf: 8)
"Orang-orang yahudi dan nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu 
mengikuti agama mereka. Katakanlah: sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk 
(yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah 
pengetahuan datang kepadamu maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan 
penolong bagimu". (Al-Baqarah: 120) 

Dan pemimpin yang mana menjadikan kaum kafir sebagai "teman kepercayaan" ?.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu 
orang-orang yang diluar kalanganmu (seagama) (karena) mereka tidak 
henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang 
meyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang 
disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah kami terangkan 
kepadamu ayat-ayat (Kami) (Al-Imran: 118)

Wahai umat Islam, telah jelas apa yang diperlihatkan Allah secara sederhana 
kepada kita. Apakah kita masih ragu menentukan pilihan ?

Semoga presiden dan wakil presiden nanti dalam memimpin dapat meneladani 
Rasulullah SAW, salah satunya bahwa Beliau sangat menghargai kaum minoritas 
bahkan menghargai orang yang menghina Beliau seperti kisah Rasulullah dan 
pengemis Yahudi buta, yang mana pada akhirnya pengemis Yahudi buta tersebut 
masuk Islam setelah menyadari mendapatkan perlakuan yang mulia dari Rasulullah.

Semoga pula presiden dan wakil presiden terpilih dapat pula meneladani 
kepemimpinan Khalifah Umar ibn Khattab ra yang tegas dan bertanggung jawab 
kepada rakyat yang dipimpinnya, Seperti kisah Beliau dengan ibu dan anak yang 
kelaparan. Khalifah Umar merasa bahwa kelaparan yang dialami oleh keluarga 
miskin tersebut adalah disebabkan karena kelalaiannya dan ketidak mampuannya 
memberikan keadilan terhadap semua lapisan masyarakat.

Sayidina Umar tidak berbangga dan sangat menjaga hatinya ketika menjadi 
khalifah. Pada satu ketika dia mengangkut air di belakang badannya. Maka beliau 
ditegur oleh sahabat-sahabatnya, "Hai Amirul Mukminin, mengapa tuan sendiri 
yang memikul air ini?" Jawabnya, "Aku merasa bahwa diriku telah merasa takabur, 
lalu kupikul air ini untuk menundukkannya. " 

Beliau sangat menganjurkan rakyatnya hidup berdikari. Sayidina Umar pernah 
berkata, "Pelajarilah hidup susah, karena mungkin engkau kelak akan menderita 
dengan kesusahan." Beliau juga pernah berpesan, "Pekerjaan yang kelihatannya 
rendah lebih mulia dari sikap meminta-minta. " Semoga pemimpin negara kita 
dapat mewujudkan bangsa mandiri dan berkedaulatan, bukannya meminta-minta 
walaupun dalam bentuk bantuan atau kata lain berhutang.

Disisi lain apa yang dicontohkan khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang menegakkan 
keadilan di dalam pemerintahannya. Penguasa-penguasa yang zalim dipecat dan 
digantikan dengan orang yang lebih layak untuk memperbaiki keadaan masyarakat. 
Yahya Al-Ghassani menceritakan : 

Seorang gubernur menulis surat kepada beliau : 
Wahai amirul mukminin, negeri kami ini telah rusak, alangkah baiknya jika tuan 
memberi jalan untuk memulihkan negeri kami. 

Khalifah Umar menjawab surat itu dengan berkata, 
Apabila engkau membaca suratku ini hendaklah engkau memagari negerimu dengan 
keadilan dan bersihkanlah jalan-jalannya dari kezaliman. Sesungguhnya itulah 
pemulihannya, 

Wassalam

Hamba yang ikhlas berserah diri pada Allah dengan tuntunan Rasulullah SAW.
http://mutiarazuhud .wordpress. com

Catatan:

Mohon dapat disebarluaskan seluas-luasnya bagi umat muslim lainnya. 
Semoga kegiatan kita ini merupakan bagian dari dakwah dan mendapatkan ridho 
Allah SWT.

Marilah kita berdakwah, dimana dakwah adalah usaha menumbuhkan kesadaran 
spiritual agar orang lain bisa benar-benar berserah diri sepenuhnya kepada 
Allah SWT, merasakan kehadiran Allah, dan segala aspek dalam hidupnya diatur 
oleh Allah SWT, sebagai hambaNya.

Namun dalam berdakwah harus memperhatikan firman Allah,
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas 
jalan yang benar daripada jalan yang sesat" (QS Al Baqarah, 256).

Semoga apa yang diperlihatkan sebagian pemimpin kita saat ini tidak seperti 
yang disampaikan, 
Hasan Basri ra. berkata, "Siksaan bagi seorang alim itu adalah kematian 
hatinya." Ketika ditanya: Bagaimana hati itu mati?"
Dia menjawab: "Mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Dan lebih jahat lagi 
jika ia menjilat pada raja atau penguasa untuk mecari keuntungan dari uang 
haram atau syubhat, maka yang demikian terang-terangan menantang murka Allah".

 
 

 














      Lebih bersih, Lebih baik, Lebih cepat - Yahoo! Mail: Kini tanpa iklan. 
Rasakan bedanya! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke