Membumikan Makrifat****

** **

[image: 017.jpg]****

** **

Judul Buku        : Makrifat Jawa untuk Semua****

Penulis             : Abdurrahman el-'Ashiy****

Penerbit            : Serambi****

Cetakan            : I, Agustus 2011****

Tebal                : 310 halaman****

Peresensi          : Eko Sulistiyo ZA*)****


Melihat Jawa dari berbagai sisi memang unik dan menggelitik. Namun dibalik
keunikannya yang menggelitik tersebut terbentang berbagai hasanah yang
akrab dengan sendi-sendi kemanusiaan. Dimana garis-garis humanis masih
bersanding erat dengan masyarakatnya. Jika dirunut, humanisme Jawa ternyata
tidak lepas dari daya kreatif serta kegeniusan para leluhurnya. Semisal
Sunan Kalijaga, yang mempunyai kemasan tersendiri dalam rangka menyampaikan
ajarannya.****


Tidak jauh geniusnya dengan Ki Ageng Suryomentaram, putra ke-55 dari 79
keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Kegeniusan beliau tercermin dari
pengejewantahannya tentang jiwa. Jiwa yang dalam literatur tasawuf dan
psikologi umum terlihat begitu rumit serta jlimet, oleh Ki Ageng
disederhanakan hanya sebatas rasa. Karena rasalah daya yang mendorong semua
makhluk untuk beraktivitas.****


Kecerdasan beliau akan lebih nampak jika disandingkan dengan Mulla Shadra,
yang mendefinisikan jiwa sebagai subbtansi yang zatnya non materi tetapi
sangat terikat dengan materi dalam aktivitasnya. Begitu juga dengan
pengklarifikasian jiwa. Jika Mulla Shadra dan Ibnu Sina menyebut gradasi
jiwa dengan jiwa tumbuhan, jiwa hewan baru jiwa manusia, Ki Ageng
menyederhanakannya dengan rasa dangkal, rasa dalam serta rasa sangat dalam.*
***


Ketiga level rasa diatas menurut Ki Ageng dapat dipelajari lewat tiga
perangkat inheren dalam diri setiap manusia. Pertama adalah panca indera.
Kedua melalui rasa hati, yakni rasa yang dapat merasa aku, merasa senang,
merasa ada dan sebagainya. Sedang yang ketiga dapat dipelajari lewat
pengertian atau pemahaman. Perangkat terakhir ini berfungsi untuk
menentukan suatu hal yang berasal dari panca indera dan perasaan.****


Oleh Ki Ageng, mempelajari rasa dalam diri sendiri atau pangawikan pribadi
sama halnya dengan mempelajari manusia dengan kemanusiaan. Karena
bagaimanapun yang mempelajari adalah bagian dari makhluk yang bernama
manusia. Maka jika berhasil mempelajari diri sendiri dengan tepat, secara
otomatis juga berhasil mempelajari manusia pada umumnya. Dengan demikian,
alangkah eloknya jika pembelajaran pangawikan pribadi dipelajari dari
sekarang, disini serta penuh keberanian menghadapai segalanya apa adanya.***
*


Gradasi rasa****


Keberadaan kondisi yang bercorak hitam-putih terkadang memang masih
membelenggu jiwa manusia. Hal itu disebabkan manusia kurang menyadari
keberadaan alam, yang oleh Ki Ageng dibedakan menjadi empat gradasi.
Pertama dimensi tunggal. Dimensi yang berupa garis ini sebagai analogi
untuk bayi, yang kemampuannya baru sebatas merekam berbagai rangsangan dari
luar dengan panca inderanya. Oleh Mulla Shadra, tingkatan pertama ini
disebut dengan jiwa tumbuhan.****


Seseorang dapat dikatakan memasuki gradasi kedua jika telah mampu
mengorganisasikan atau membentuk tipologi dari berbagai jenis rekaman di
dalam ruang rasa. Dengan kata lain, manusia pada tingkatan kedua ini mulai
sedikit sadar untuk mengekspresikan rangsangan-rangsangan dari luar maupun
dari dalam dirinya sendiri. Namun dalam bertindak tersebut tidak
berdasarkan akal dan hati, sehingga akibat reaksinya dalam menghadapi
rangsangan sering melenceng. Tingkatan kedua ini disebut sebagai benda dua
dimensi atau jiwa bianatang.****


Ketiga, manusia tiga dimensi. Dalam fase ini, manusia sudah mampu
memberdayakan akalnya untuk berfikir, sehingga dapat memahami hukum-hukum
alam. Namun tidak dengan hatinya. Dengan demikian, manusia yang bertempat
pada level ketiga ini hidupnya didominasi oleh ego, atau yang oleh Ki Ageng
diistilahkan dengan kramadangsa.****


Kramadangsa merupakan abdi dari berbagai tipologi rekaman yang minta
diistimewakan. Karena masing-masing rekaman yang tersimpan sejak lahir
mulai saling menyikut agar dapat posisi tertinggi diantra rekaman yang
lain. Artinya, hidup pada ukuran ketiga adalah ketika hidup hanya diabdikan
pada semua rekaman dan berbagai kebijakan pikiran yang mengorganisasikanya
dalam ruang rasa.****


Keempat, manusia empat dimensi. Yakni manusia yang tidak hanya memiliki
ukuran panjang, lebar serta tinggi dalam dimensi ruang dan waktu. Namun
manusia pada tingkatan terakhir ini juga memiliki rasa yang dapat melintasi
ruang dan waktu. Karena selain kemampuan analisisnya telah sampai pada
hukum alam, manusia ini juga memiliki kebijaksanaan yang bersumber dari
rasa. Rasa inilah yang oleh Ki Ageng disebut sebagai rasa yang dapat
berkembang, yakni rasa yang tidak mungkin dapat dirasakan hewan, apalagi
tumbuhan.****


Pertarungan dan pembebasan****


Dalam buku ini juga terdapat bagan yang mengatakan bahwa, krenteg (gerak
hati) yang lahir dari dalam diri serta berasal dari rekaman ruang rasa
memiliki dua potensi. Pertama, manusia akan kembali pada level ketiga,
yakni hidup dalam kendali kramadangsa. Semisal marah. Jika dalam keadaan
marah justru memikirkan bagaimana cara melampiaskan marah, maka kembalilah
manusi pada posisi ketiga.****


Namun sebaliknya, jika dalam keadaan marah yang terpikir adalah apa itu
Marah, bagaimana karakter dan apa tujuannya, maka manusia menuju ke
tigkatan tertinggi. Gradasi tertinggi ini adalah manusia yang telah
terbebas dari dominasi egonya sendiri dalam bertindak. Ukuran terakhir ini
oleh Ki Ageng disebut sebagai instrument dalam diri, yang berfungsi khusus
untuk memotret diri orang lain.****


Keberhasilan seseorang dalam meraih puncak rasa merupakan suatu
keistimewaan tersendiri. Karena jika bersinggungan dengan realitas
(masyarakat), manusia tanpa cirri akan selalu merasa damai sebab tidak
harus berselisih. Manusia tanpa ciri adalah manusia bumi yang mampu membumi.
****


* peresensi adalah presiden pada Association of Saber Unfold Fak.
Ushuluddin UIN Suka.****



-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

<<image001.jpg>>

Kirim email ke