Djamaludin Malik, Berjuang Lewat Kesenian****

** **

“Tadinya anak buah saya bermaksud, jika sudah sampai di daerah Republik,
rombongan akan membubarkan diri. Lalu kami menerjunkan diri dalam
badan-badan perjuangan. Ada yang di Hizbullah (pimpinan KH. Zainul Arifin)
ada yang barisan pemberontakan rakyat (Pimpinan Bung Tomo) dan sebagainya.”*
***

** **

Itulah niat Djamaludin Malik yang dikemukakan kepada KH. Wachid Hasyim,
tokoh NU sekaligus mentri agama pertama RI yang didokumentasikan KH.
Saifuddin Zuhri dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren. Selain
Saifuddin, hadir KH Fattah Yasin, laskar Hizbullah yang bergabung ke
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). ****

** **

Percakapan itu terjadi di Yogyakarta, saat ibukota pindah dari Jakarta
sejak 4 Januari 1946 hingga 28 Desember 1949. Saat itu wilayah Indonesia
menyempit akibat perjanjian Renville pada 8 Desember 1947. Karena itulah
kabinet Amir Syarifudin jatuh.****

** **

Berjuang bukanlah milik para laskar dan tentara. Tapi juga para seniman,
termasuk Djamal, pria kelahiran Padang, 3 Februari 1917 ini. Ia bersama
kelompok sandiwara Panca Warna, yang didirkannya pada tahun 1942 ini
berkeliling hampir ke seluruh kota besar Indonesia. Tujuannya untuk
membangkitkan semangat juang dan cinta Tanah Air. Daya jelajahnya tidak
hanya di pulau Jawa, melainkan Sulawesi dan Kalimantan.****

** **

Rupanya hal itu tidak memuaskannya. Djamal bersama anak buanya berniat
menetap di Yogyakarta, turut mengangkat senjata dan terjun ke kelaskaran
dan tentunya meninggalkan pentas sandiwara.****

** **

Tapi niatnya ditolak Wachid Hasyim. Ia punya pandangan lain tentang
perjuangan. Menurutnya, berjuang tidak harus dengan senjata atau
kelaskaran. Perlu ada yang berjuang di wilayah lain. Lagi pula anggota
kelaskaran sudah sangat banyak. Dan, orang-orang yang berjuang lewat seni,
khususnya sandiwara, masih sangat kurang. Padahal itu amat penting dalam
perjuangan besar.****

** **

Wachid menambahkan, dalam pementasan sandiwara, bisa dijadikan tempat
bertemunya orang-orang Republiken (Indonesia) dan mengumpulkan senjata. Ia
menyarankan supaya Djamal segera ke Jakarta, yang sudah dikuasai Belanda,
karena kelompok sandiwara tidak akan dicurigia.****

** **

Pandangan kiai jeniaus, putra rais akbar NU, Hadratusy Syaikh KH. Hasyim
Asyari ini diterima Djamal. Dia pun memantapkan diri dengan berjuang terus
lewat kelompok sandiwaranya.****

** **

Di kemudian hari, setelah Wachid wafat (19
April<http://id.wikipedia.org/wiki/19_April>
1953 <http://id.wikipedia.org/wiki/1953>), Djamaludin melanjutkan minatnya
dalam dunia kesenian dan budaya. Ia bersama bersama Usmar Ismail dan Asrul
Sani bergabung di Lesbumi. Lembaga di bawah naungan Nahdlatul ULama (NU)
ini diresmikan KH. Saifuddin Zuhri pada 28 Maret 1962. ****

** **

Dedikasi terhadap kesenian, khususnya perfilman, ketiganya menjadi tokoh
utama perfilman nasional. Djamaludin mendirikan Persari yang membuahkan 59
judul film. Usmar Ismail mendirikan Perfini dan ditetapkan jadi bapak film
Indonesia. Sementara Asrul Sani, di samping jadi sastrawan, ia juga
sutradara masyhur. Salah satunya film Nagabonar yang dibintangi Dedy Mizwar.
****

** **

Selain di Lesbumi, Djamal pernah aktif di Gerakan Pemuda Ansor Anak cabang
Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Kemudian menggenapkan pengabdiannya di NU
dengan menjadi pengurus Besar Nahldltul Ulama (ketua III, 1956–1959) pada
masa Idham Khalid. ****

** **

Djamal meninggal di Munchen, Jerman pada pada 08 Juni 1970. Atas perjuangan
dan jasanya, presiden Republik Indonesia, pada tahun 1973, mengukuhkan
Djamaludin Malik sebagai Pahlawan Nasional dengan mendapat Bintang
Mahaputra Kelas II/Adipradhana. (Abdullah Alawi)****



-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke