*Yang muda mabok, yang tua korup .. "lirik lagu dewa19"
rasanya ada benarnya dech jaman sekarang nih..
mungkin gara gara masuknya mahal kali..
jadi kudu meng"hasil"kan*..


http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/04/30/m3a0p3-rp-35-juta-hanya-untuk-sebuah-surat-pengantarRp
3,5 Juta Hanya untuk Sebuah Surat Pengantar
Senin, 30 April 2012, 12:03 WIB
Antara

<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/04/30/m3a0p3-rp-35-juta-hanya-untuk-sebuah-surat-pengantar#>
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/04/30/m3a0p3-rp-35-juta-hanya-untuk-sebuah-surat-pengantar#>
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/04/30/m3a0p3-rp-35-juta-hanya-untuk-sebuah-surat-pengantar#>
 [image: Rp 3,5 Juta Hanya untuk Sebuah Surat Pengantar]
 Ilustrasi
  Berita Terkait
 Sukses Menaklukan Birokrat Korup
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/04/25/m30mgq-sukses-menaklukan-birokrat-korup>
 Pinjaman Bank untuk Sogokan
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/04/19/m2phx3-pinjaman-bank-untuk-sogokan>
 Pungli SIM di Depok
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/04/12/m2clad-pungli-sim-di-depok>
 Semua Lini Pembuatan SIM Ajang Pungli
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/04/10/m28ukv-semua-lini-pembuatan-sim-ajang-pungli>
 Proses Pembuatan SIM di Polres Sumedang
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/04/09/m277uo-proses-pembuatan-sim-di-polres-sumedang>

Memang benar apa yang diucapkan orang bahwa menjadi pengusaha di negeri ini
butuh mental baja. Kalau kita punya mental tempe, bakal habislah kita
dilibas oleh orang atau kantor dinas atau oknum atau apalah yang justru
sering berteriak “Kami support pengusaha kecil, kami support UKM.” Tapi
nyatanya mereka hanya menjadi duri.

Itulah yang terjadi saat saya dan Muadzin (http://muadzin.com) berjuang
untuk mengurus semua perizinan ekspor kopi Semerbakcoffee (
http://semerbakcoffeepremium.com) yang pertama kali.

Pertama-tama kami pergi ke salah satu kantor sebuah ditjen di Jl. Ridwan
Rais Jakarta. Setelah mendapatkan sedikit keterangan, ternyata kami
diwajibkan untuk memiliki EKS (Eksportir Kopi Sementara) dulu, dan untuk
mengurus ini kami diwajibkan untuk meminta surat pengantar/rekomendasi dari
sebuah kantor dinas DKI. Itu pun setelah kami diping-pong ke sana kemari.

Meski kami tinggal di Depok yang masuk wilayah Jawa Barat, tapi kantor
dinas yang mengeluarkan rekomendasi ini hanya ada tujuh kantor dinas di
seluruh indonesia, dan Jawa Barat ikut ke DKI.

Hari itu juga saya dan Muadzin langsung ke kantor dinas itu di wilayah
Kelapa Gading Jakarta. Setelah sampai di TKP, saya agak suprise juga,
sebagian besar karyawannya nampak begitu santai. Ada yang nonton TV, baca
koran, main HP, ngobrol, dll. Tidak ada petunjuk jelas yang menggambarkan
bagaimana mengurus surat pengantar ini, juga tidak ada pengumuman berapa
biaya yang dikeluarkan.

Setelah agak lama celingukan, akhirnya kami disambut juga oleh seseorang
petugas kantor dinas itu, dan memang kami dilayani dengan baik. Tapi justru
itu yang membuat saya curiga dalam hati. Kenapa begini ya??

Dan benar saja, di ujung pembicaraannya, orang ini, bilang "Biaya semuanya
3,5 ya pak." Saya jawab "350 ribu pak?" Pikir saya gak masalah lah, itu kan
sudah biasa. Tapi kemudian dijawab "Ya gak lah pak, 3,5 jeti." Langsung aja
saya kaget, untung saya gak punya penyakit jantung.

Gimana gak kaget coba… hanya untuk sebuah surat pengantar/surat rekomendasi
seperti layaknya surat pengantar RW ke Kelurahan, kami diharuskan membayar
3,5 juta..??? Teeeerlaaaaluuuuu..

Kemudian saya ditemukan oleh salah seorang pejabat dinas yang sepertinya
seorang atasan di kantor dinas itu. Dan ternyata setali tiga uang,
pernyataannya sama. "Yah buat uang jalan anak-anak lah".  Aaaaah, ternyata
sama saja.. sistem ini sudah bobrok, hati nurani sudah mati, rasa malu
sudah pergi.

Tiga hari kemudian, dua petugas dinas ini mengadakan survey ke kantor
Semerbakcoffee, dan harus kami jemput pula. Setelah menanyakan ini itu,
foto sana sini, tinjau sana sini, akhirnya survey selesai. Dan harus kami
antar lagi ke kantornya di daerah Kelapa Gading. Terbayang kan hebatnya
mereka mereka ini..?

Nah ini menariknya... setelah sampai di kantor dinas, saat turun mereka
langsung menagih uang yang 3,5 juta itu tanpa rasa malu dan risih. Karena
saat itu saya dan muadzin memang belum sempat ke ATM, maka kami bilang
"Besok aja ya bu, karena kan kita masih ke sini." Sontak berontak langsung
si ibu dinas ini, ngambek dan bilang "Gak bisa pak, harus hari ini karena
saya sudah janji dan dititipkan oleh atasan saya." Kemudian saya bilang,
"Kalau saya transfer bisa bu..?" Langsung aja dijawab "Gak mau saya".

Dengan terpaksa saya dan Muadzin akhirnya mengelilingi Kelapa Gading untuk
mencari ATM. Setelah dari ATM, kami kembali ke kantor dinas itu, ternyata
petugas-petugas tadi tidak di tempat. Sambil menunggu "beliau-beliau", kami
sempatkan shalat dzhuhur di mesjid yang ada di kantor dinas ini. Setelah
Shalat, ternyata kami harus menunggu pula. Dalam hati "Lhaaa kita yang mau
kasih uang kok malah kita yang di suruh nunggu, gimana sih..?"

Lima, 10, 15, sampai 20 menit kami tunggu, ternyata belum muncul-muncul
juga, sedangkan kami juga harus menuju tempat lain untuk mengurus perizinan
yang lain. Dengan wajah sedikit agak kesal langsung saja saya tegaskan
bahwa kami tidak bisa menunggu terus, masih banyak yang harus kami
kerjakan, bukan cuman menunggu di sini aja.

Akhirnya uang itu pun kami titipkan ke salah satu petugas di dinas itu. Dan
tanpa mengucapkan terima kasih, kami pun langsung pergi dengan segala
umpatan dan kekecewaan dalam hati kami.

Kami belum tahu apalagi dan berapa lagi nanti yang harus kami keluarkan
jika mengurus surat di kantor dinas yang lebih tinggi lagi. Apa uangnya
lebih besar dari ini..? Beginikah wajah pegawai-pegawai negeri ini yang
katanya adalah "abdi negara, abdi masyarakat” ??

Wahai bapak-ibu pegawai dinas yang terhormat, kami bukan sapi perahan Anda
semua. Kami hanya ingin memberikan kebanggaan dan devisa untuk negara ini,
kenapa ini perlakuan dan pelayanan yang kami terima?


*Iwan Agustian H
*Depok

  *Redaktur:* Johar Arif


-- 
*Cuma browsing dapet uang 20$/minggu?, daftar aja
disini<http://caridikit.blogspot.com/2012/03/menghasilkan-uang-sambil-online.html>gratis
kok
**..!!!
*
setelah terdaftar PM saya ya, supaya lebih cepat menghasilkan* *
FB : [email protected]
YM: [email protected]
GM: [email protected]

Kirim email ke