---------- Forwarded message ----------
From: <[email protected]>
Date: 2012/4/26
Subject: OPINI: Makin Tidak Efektif

****

  ****

SBY Jangan Hanya Urus Koalisi****

** **

Bambang Soesatyo****

Anggota Komisi III DPR RI/****

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia****

** **

EFEKTIVITAS pemerintahan sekarang ini terus menurun, sebagai akibat dari
semakin banyaknya kepala daerah yang bermasalah dengan hukum. Kalau selama
ini hanya fokus pada penguatan koalisi partai politik pendukung pemerintah,
sudah waktunya pula Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengonsolidasi
pemerintahannya hingga ke level pemerintah daerah.****

** **

Secara keseluruhan, bisa ditegaskan bahwa birokrasi pemerintah belum
efektif, belum efisien dan belum sepenuhnya bebas dari konflik kepentingan.
Anggaran Pendapatan  dan Belanja Negara (APBN) sudah di atas Rp 1.200
trilyun, tetapi pemerintah belum mampu memaksimalkan pembangunan
infrastruktur. Ini bukti birokrasi yang belum efektif. Jumlah kasus korupsi
terus bertambah, melibatkan begitu banyak kepala daerah. Ini bukti tentang
birokrasi yang belum efisien dan belum bebas dari konflik kepentingan.  ****

** **

Gangguan terhadap ketenteraman dan ketertiban umum, yang ditandai oleh
tingginya intensitas konflik antarkelompok masyarakat, konflik agraria, dan
pelanggaran peraturan perundang-undangan yang masif, pun mencerminkan
rendahnya efektivitas pemerintahan. Contoh paling sederhana, melanggar
peraturan lalu lintas di Jakarta kini sudah menjadi hal yang dianggap
lumrah. Tidak ada lagi rasa malu saat seseorang melakukan pelanggaran, dan
tidak ada yang peduli.****

** **

Sulit bagi siapa saja untuk percaya kalau ada yang mengklaim efektivitas
pemerintahan sekarang ini masih terjaga. Telah mengemuka sejumlah indikator
yang menunjukan efektivitas pemerintahan terus menurun.  Jumlah pejabat
pemerintah yang terjerat masalah hukum tampak terus bertambah. Kualitas
pelayanan publik masih jauh dari memuaskan. Pengelolaan anggaran
pembangunan pun masih jauh dari memuaskan, sehingga pembangunan
infrastruktur tidak mencatat progres yang signifikan.****

** **

Kementerian Dalam Negeri mencatat, sejak 2004 hingga 2012, tidak kurang
dari 173 kepala daerah tersangkut kasus hukum. Jumlah ini meningkat jika
dibandingkan data Januari 2011, yang menyebutkan 155 kepala daerah
tersangkut masalah hukum. Data tahun 2011 itu juga menyebutkan  17 di
antaranya adalah gubernur. Sebagian besar terkait dengan kasus korupsi.
Sekitar 70 persen di antaranya divonis bersalah dan diberhentikan dari
jabatannya.****

** **

Persoalan yang sedang dihadapi Gubernur Riau HM Rusli Zainal terkait kasus
gratifikasi proyek Pekan Olahraga Nasional (PON) menambah panjang daftar
gubernur bermasalah. Atas permintaan KPK, Rusli Zainal sudah dicekal.
Mengacu pada fakta bahwa ada 33 provinsi, berarti lebih separuh dari jumlah
gubernur di negara ini bermasalah dengan hukum.****

** **

Jumlah kepala daerah yang bermasalah dengan hukum bisa bertambah jika
penegak hukum mendalami temuan Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi
Keuangan (PPATK). Sebab, PPATK  menemukan 2.300 rekening bermasalah milik
kepala daerah. Sebagian rekening bermasalah itu dibuat atas nama istri,
anak-anak dan kerabat keluarga.****

 ****

Kesimpulan seperti apa yang segera bisa dibuat jika belasan gubernur dan
lebih dari seratus bupati/walikota  tidak bisa mencurahkan seluruh
perhatian dan konsentrasinya terhadap fungsi dan tugas utamanya sebagai
kepala daerah, karena harus berusaha maksimal lolos dari jerat hukum?
Secara personal, penyelesaian masalah  hukum sudah pasti lebih penting,
sebab menyangkut martabat, nama baik seluruh keluarga serta kerabat, dan
masa depan karier politik. Karena itu, bisa dipastikan sebagian besar
energi dan konsentrasi akan dialihkan untuk mengatasi persoalan hukum yang
sedang dihadapi.****

** **

Bupati atau walikota bersangkutan pasti mengaku roda administrasi
pemerintahannya masih berjalan dengan baik. Benar kalau yang dimaksud
adalah pelaksanaan tugas-tugas rutin bawahannya. Tetapi, bisa dipastikan
bahwa untuk masalah-masalah yang bersifat strategis dan prinsipil.
prosesnya pasti tidak mulus karena tetap saja memerlukan pertimbangan dan
pemikiran dari seorang gubernur, walikota atau bupati. Proses pengambilan
keputusan pun menjadi sangat lamban, bisa saja maju-mundur.****

** **

Minim Kepedulian****

** **

Presiden SBY pernah mengecam seluruh aparatur pemerintahannya ketika
terjadi gangguan serius pada distribusi bahan bakar minyak (BBM)
bersubsidi, khususnya bensin premium. Itulah bukti pemerintahan tidak
efektif, karena tidak bisa segera merespons masalah faktual yang sedang
dihadapi masyarakat. Bukan hanya tidakk efektif, melainkan pemerintah juga
terkesan tidak sensitif. Pada beberapa kasus, muncul kesan kalau pemerintah
menempatkan persoalan publik sebagai tanggungjawab masyarakat, sekali pun
persoalan-persoalan itu muncul akibat kebijakan atau perubahan regulasi
buatan pemerintah.****

** **

Bahkan, karena ego sektoral masih begitu kuat, koordinasi antarinstansi
menjadi tidak mudah, yang tidak jarang mengakibatkan persoalan terus
tereskalasi. Contoh kasus paling mencolok adalah rangkaian ledakan kompor
gas, distribusi minyak tanah,  juga pupuk dan benih padi. Dalam kasus
ledakan kompor gas, pemerintah seperti kebingungan. Selain responsnya
sangat lamban, bahkan terjadi saling lempar tanggungjawab antarinstansi.****

** **

Selain lamban, gambaran lain dari rendahnya efektivitas pemerintahan adalah
kepedulian kepala daerah terhadap persoalan infrastruktur di daerahnya yang
relatif minim. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat sering mengeluhkan
kerusakan parah sejumlah ruas jalan di banyak daerah, bahkan termasuk di
beberapa wilayah perkotaan. Walaupun keluh kesah publik sudah dikemukakan
secara terbuka dan berulang-ulang, perbaikan jalan tak kunjung dikerjakan.**
**

** **

Sejumlah program untuk mengatasi masalah kemiskinan juga belum mencapai
hasil maksimal karena koordinasi antarinstansi di tingkat pusat maupun
koordinasi pusat dengan daerah, belum efektif. Seorang ilmuwan LIPI pernah
mensinyalir bahwa  program Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan
Operasional Sekolah (BOS), distribusi beras rakyat miskin (Raskin) dan
PNPM tidak secara nyata terserap oleh masyarakat kurang mampu.****

** **

Program-program ini relatif ideal, namun masalahnya pada pelaksanaan.
Terjadi  tumpang tindih karena baik masing-masing kementerian maupun
Pemerintah daerah punya agenda sendiri-sendiri dalam mengurangi penduduk
miskin. Program PNPM, misalnya, tidak berdampak langsung bagi masyarakat
miskin karena alokasi dana sebagian besar untuk pembangunan fisik. Sebab,
masyarakat yang tergolong lebih mampu punya kesempatan lebih besar dalam
menjalankan pembangunan fisik seperti jalan atau jembatan. ****

** **

Rendahnya efektivitas pemerintahan saat ini merupakan akumulasi dari
berbagai persoalan; dari persoalan disharmoni kebijakan pusat-daerah,
buruknya koordinasi serta melemahnya fungsi dan peran kepala daerah karena
sangat banyak yang terjerat masalah hukum. Kalau lebih dari 150 kepala
daerah dipusingkan oleh persoalan hukum yang menjerat mereka, omong kosong
kalau pemerintahan mereka dikatakan tetap efektif.****

** **

Karena itu, Presiden SBY perlu mengonsolidasi pemerintahannya. Tentu saja
tidak hanya di tingkat pusat. Konsolidasi pemerintahan daerah tampaknya
perlu diprioritaskan. Diyakini bahwa upaya presiden untuk menguatkan dan
memaksimalkan peran pemerintah daerah selalu dilakukan presiden dalam
sejumlah rapat kerja pemerintah berskala nasional. Namun, tidak perlu untuk
menutup mata bahwa apa yang disepakati dalam rapat kerja pemerintah itu
belum dilaksanakan secara maksimal dan konsisten.****

** **

Akhir-akhir ini, publik menyimak bahwa presiden cukup sibuk mengonsolidasi
koalisi partai politik (Parpol) pendukung pemerintah. Mudah-mudahan,
penguatan koalisi Parpol itu bisa memberi nilai tambah  bagi peningkatan
efektivitas pemerintahan saat ini. Tentu saja publik juga berharap presiden
tidak lupa mengonsolidasi pemerintahannya.****

** **

Konsolidasi itu hendaknya dimulai dari kantor presiden. Para pembantu
presiden harus sigap menyikapi setiap masalah yang berkembang di ruang
publik. Selain menyikapi masalah, kantor presiden pun harus mau
berkomunikasi dengan daerah untuk membahas sekaligus mendapatkan informasi
terkini atas masalah atau peristiwa terkini. []****

 ****

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
Teruuusss...!****



-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke