'Bayarnya Titip ke Saya Saja'
Senin, 07 Mei 2012, 10:16 WIB
Republika/Musiron

<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/05/07/m3mug5-bayarnya-titip-ke-saya-saja#>
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/05/07/m3mug5-bayarnya-titip-ke-saya-saja#>
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/05/07/m3mug5-bayarnya-titip-ke-saya-saja#>
 [image: 'Bayarnya Titip ke Saya Saja']
 Kantor Pelayanan BPN
 Berita Terkait
 Mengurus ITUP, Biayanya Dua Kali Biaya Resmi
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/05/02/m3dlxr-mengurus-itup-biayanya-dua-kali-biaya-resmi>
 Rp 3,5 Juta untuk Sebuah Surat Pengantar
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/05/03/m3a0p3-rp-35-juta-untuk-sebuah-surat-pengantar>
 Sukses Menaklukan Birokrat Korup
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/04/25/m30mgq-sukses-menaklukan-birokrat-korup>
 Pinjaman Bank untuk Sogokan
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/04/19/m2phx3-pinjaman-bank-untuk-sogokan>
 Pungli SIM di Depok
<http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/aku-muak-dengan-korupsi/12/04/12/m2clad-pungli-sim-di-depok>

Sembilan bulan yang lalu saya membeli sebidang tanah di Desa Guntung Damar
Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Karena tidak membeli keseluruhan bagian
tanah maka saya harus memecah sertifikat yang selanjutnya akan
dibaliknamakan untuk bagian tanah yang saya beli.

Saya belum pernah berurusan perihal jual beli tanah, dengan polos saya
ikuti semua prosedur termasuk prosedur untuk mengajukan formulir pemecahan
tanah di Badan Pertanahan.

Pagi jam 8 awal oktober tahun 2011 (sekitar 7 bulan yang lalu) saya sudah
berada di kantor BPN Banjarbaru. Loket kosong karena sang PNS masih
sarapan. Satu jam kemudian sang petugas datang. Berkas saya masukan, dan
petugas umur setengah baya itu pun menerimanya. Beliau minta nomer HP saya
agar beliau bisa menghubungi saya, entah untuk apa. Tanpa tanda terima,
tanpa kejelasan, dengan terbingung-bingung saya pun pulang untuk menunggu
ditelpon/SMS.

Tunggu-menunggu selama 3 minggu tidak ada kabar, padahal standar pelayanan
pecah seritifikat hanya 40 hari. Saya pun mendatangi petugas tadi.

Saya datang ke kantor BPN jam 10 pagi karena yakin kalau datang sesuai jam
masuk kerja PNS dijamin penghuni kantor itu belum pada datang. Sesampainya
di loket, saya menanyakan keberadaan bapak setengah baya yang menerima
berkas saya, lalu dijawab oleh petugas berjilbab yang masih muda bahwa yang
bersangkutan lagi keluar menjemput anaknya.

Petugas berparas cantik ini juga menanyakan ada urusan apa saya mencari
dia. Saya jawab bahwa saya masukin berkas pemecahan tanah. Dengan gampang
si petugas ini bertanya "Oh bapak  minta tolong beliau yah?" Saya kaget,
‘minta tolong’? Saya pun menjawab, “Ngga Mba, saya masukin berkas ke loket
sesuai aturan aja." Saya pun berlalu

Esoknya saya kembali ke kantor BPN, akhirnya bertemu dengan si petugas
penerima berkas yang dulu itu. Setelah berbicara dengan tidak jelas dan
topik pembicaraan yang tak teratur, di ujung perbincangan beliau mengatakan
bahwa tarifnya total Rp 5 juta. Saat saya hendak menuju loket pembayaran,
eh tidak ada yang jaga. Bahkan seingat saya memang loket itu selalu kosong.
Lalu lewat mana masyarakat yang selama ini mengurus tanah membayar? Saya
pun menanyakan pada petugas penerima berkas tadi, sebutlah namanya "Pak
Udin".

“Dimana bayarnya pak?” tanya saya. Dijawab, "Titip ke saya saja." Saat itu
saya sadar, bahwa inilah yang diminta beliau selama ini. Pak Udin oh Pak
Udin… sang abdi negara.
Tanpa tanda terima berkas, tanpa tanda terima pembayaran, sampai saat ini
tidak ada kepastian kapan pemecahan sertifikat itu selesai. Selalu saja ada
alas an, dan alasan yang paling mumpuni bagi mereka adalah ‘petugas
pengukuran lagi sibuk!’ MasyaAllah, manajemen model apa yang dijalankan
badan ini, karena ternyata kakak kandung saya di Kabupaten Rantau
Kalimantan Selatan dan Kodya Samarinda Kalimantan Timur juga bercerita
kalau mereka mengalami pelayanan seburuk ini juga di kota masing masing.


*Muhammad Nur
*Jl.Pondok bambu No 8 Banjarbaru Utara, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

-- 
*Cuma browsing dapet uang 20$/minggu?, daftar aja
disini<http://caridikit.blogspot.com/2012/03/menghasilkan-uang-sambil-online.html>gratis
kok
**..!!!
*
setelah terdaftar PM saya ya, supaya lebih cepat menghasilkan* *
FB : [email protected]
YM: [email protected]
GM: [email protected]

Kirim email ke