*Maulid Nabi: Dari Ritual Menuju Aktual*

Oleh: A. Naufa Koirul F*



Setiap tahun kita orang Indonesia selalu meluangkan waktu untuk
memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dari majelis ta'lim,
masjid-masjid, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, sampai
pemerintah semua menggelar ritual tahunan yang lebih akrab disebut maulid
Nabi atau muludan ini.


Bahkan, untuk mengenang peritiwa dahsyat awal dari revolusi besar yang
mengubah peradaban dunia ini pemerintah menetapkan tanggal 12 Rabiul Awwal
sebagai hari libur nasional. Tak heran jika hampir sebulan penuh silih
berganti tak henti-hentinya peringatan Maulid Nabi digelar setiap tahunnya.


Kata maulid merupakan bentuk madar dari kata walada yang berarti lahir,
muncul dan anak. Dalam bahasa arab, bentuk masdar bisa menjadi verbal noun
atau kata benda, sehingga maulid bisa berarti kelahiran atau kemunculan
suatu. Kata maulid atau maulud, dengan mengambil bentuk kata benda,
digunakan sehari-hari merujuk pada kelahiran seorang untuk diperingati
sebagai manifestasi rasa syukur kepada Allah SWT. Sehingga maulid ini
dirayakan oleh siapa saja yang berkehendak. Namun dalam dunia Islam bila
disebut kata maulid, arti yang terkandung di dalamnya adalah hari kelahiran
Nabi Muhammad SAW.


Tradisi Peringatan Maulid Nabi begitu unik dan hampir menjadi kebutuhan
rohani masyarakat nusantara. Ini menunjukkan kehebatan para wali dalam
mengawinkan doktrin Islam dengan budaya lokal secara kuat dan mengakar.
Dalam catatan sejarah, maulid Nabi diadakan untuk pertama kalinya di
Nusantara pada masa Kesultanan Islam Demak dengan Raden Fatah sebagai
inisiatornya. Maulid Nabi ini digelar sekaligus peresmian Masjid Agung
Demak dengan mengadakan pagelaran Wayang Kulit di Halaman Masjid. Adapun
yang bertindak sebagai dalang sekaligus muballighnya adalah Raden Sahid
atau lebih dikrnal dengan Sunan Kalijaga.


Seiring perkembangan zaman, maulid Nabi tak pernah lekang oleh waktu.
Keberadaannya seakan sudah menjadi kebutuhan masyarakat Islam di Indonesia.
Di beberapa tempat, maulid Nabi bahkan digelar dengan bebagai ritual adat
yang pada subtansinya adalah manifestasi dari rasa cinta kepada Nabi.


Di Jogjakarta misalnya, Grebeg Mulud merupakan tradisi berebut gunungan
makanan hasil bumi yang dikeluarkan pihak keraton untuk diperebutkan
rakyat. Ada juga tradisi unik di salah satu desa di Bruno, Purworejo yang
menyelenggarakan maulid Nabi dengan ritual Pesta Ingkung. Ribuan Ayam
Ingkung yang merupakan sumbangan dari masyakat setempat disajikan dalam
ritual itu. Ini merupakan fenomena unik hasil akulturasi islam dengan
budaya lokal.


Secara umum, bentuk perayaan maulid Nabi di Indonesia dengan membaca kitab
maulid dengan tambahan pengajian, sambutan dan Pembacaan kitab maulid.
Adapun kitab maulid yang dimaksud adalah Maulid al-Barzanji, Maulid
ad-Diba'i dan al-Burdah. Yang menarik, beberapa darah di Jawa orang membaca
maulid tidak hanya waktu perayaan saja namun sepanjang tahun. Setiap malam
Jumat, malam Senin atau tujuh hari berturut-turut setelah kelahiran bayi.
Jelas ini adalah warga Nahdliyyin.


Aktualisasi Maulid Nabi


Dalam peringatan maulid Nabi selalu diungkap fakta-fakta sejarah tentang
baginda Nabi dari kelahiran sampai wafatnya beliau, atau cuplikan
keteladanan, akhlakul karimah dan sikap-sikap beliau kepada kawan dan
lawan. Potret sejarah kehidupan Nabi akan selalu relevan dan selalu
dibutuhkan ibarat oase di padang pasir. Apalagi, bagi masyarakat yang hidup
di zaman serba modern seperti saat ini tentunya butuh sesuatu yang bisa
mencerahkan, yaitu semangat hidup dan keteladanan.


Banyak kalangan menilai, kegagalan tokoh-tokoh dan pemimpin masyarakat
utamanya pejabat pemerintah dalam mengambil simpati rakyat adalah karena
tidak adanya keteladanan. Banyak sekali pejabat publik, wakil rakyat atau
tokoh masyarakat yang seharusnya memberi contoh yang baik, atau minimal
tidak memberi contoh yang tidak baik, justru terjerat berbagai kasus
korupsi, asusila, berbagai pelanggaran hukum dan perilaku amoral lainnya.
UUD 1945 sebagai hukum yang seharusnya menjadi acuan dalam bermasyarakat
dan bernegara seakan sudah tidak suci dan dipatuhi lagi. Ini disebabkan
pengaruh demokrasi liberal dengan uang sebagai landasan dalam berpikir dan
bertindak.


Di tengah carut marutnya kadaan negeri ini yang sedemikian parah, hendaknya
peringatan maulid Nabi tidak hanya menjadi ritual tahunan yang datang-pergi
dan silih berganti. Lebih daripada itu semua, sejarah hidup dan keteladanan
Nabi bisa kita internalisasikan dalam kehidupan nyata.


Berat memang. Selain kita bukan nabi, jaraknya pun terlalu jauh dari
beliau. Namun demikian, bukankah beliau diturunkan kedunia untuk
di-copy-paste akhlaknya oleh manusia sehingga apapun itu alasannya tidak
bisa menjadi dasar untuk tidak mencontoh beliau. Minimal berusaha mencontoh
beliau. Jika hal ini dilakukan secara massal oleh masyarakat Indonesia,
harapan bangkit dari keterpurukan akan hadir dan tampil sebagai bangsa yang
besar, maju, adil, beradab dan sejahtera. Semoga!


*Ketua PC IPNU Kabupaten Purworejo



-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke