Membersihkan Gorong-Gorong Buntu di Otak****

 ****

SAMBIL mengambil pisau bedah, Dokter Terawan mulai menyanyikan lagu
kesukaannya, Di Doa Ibuku. Suaranya pelan, tapi sudah memenuhi ruang
operasi itu.****


Saya berbaring di depannya, di sebuah ruang operasi di RSPAD Gatot Subroto
Jakarta, Jumat pagi lalu. Peralatan operasi sudah disiapkan dengan rapi.
Para perawat juga sudah berada di posisi masing-masing. Sebenarnya saya
tidak dalam keadaan sakit. Juga tidak punya keluhan apapun. Hanya, saya
memang sudah lama ingin melakukan ini: cuci otak. Sejak masih jadi direktur
utama Perusahaan Listrik Negara dulu. Keinginan itu tertunda terus oleh
kesibukan yang padat, terutama setelah menjadi menteri BUMN. Bahkan,
keinginan untuk coba-coba melakukan stem cell pun tertunda sampai sekarang.*
***


Mencoba merasakan cuci otak ini bisa dianggap penting, bisa juga tidak.
Saya ingin mencobanya karena ini merupakan metode baru untuk membersihkan
saluran-saluran darah di otak. Agar terhindar dari bahaya stroke atau
perdarahan di otak. Dua bencana itu biasanya datang tiba-tiba. Kadang tanpa
gejala apa-apa. Dan bisa menimpa siapa saja. Saya tahu, metode cuci otak
Dokter Terawan ini masih kontroversial. Pendapat kalangan dokter masih
terbelah. Masih banyak dokter yang belum bisa menerimanya sebagai bagian
dari medical treatment. Pengobatan model Dokter Terawan, ahli radiologi
yang berumur 48 tahun, yang berpartner dengan Dokter Tugas, ahli saraf yang
berumur 49 tahun, ini masih terus dipersoalkan. Dia masih sering “diadili”
di rapat-rapat profesi kedokteran.****


Saya terus mengikuti perkembangan pro-kontra itu. Termasuk ingin tahu
sendiri secara langsung seperti apa cuci otak itu. Dengan cara
menjalaninya. Kesempatan itu pernah datang, tapi beberapa kali tertunda.
Sebab, ada pasien yang lebih mendesak untuk ditangani. Sebagai orang sehat,
saya harus mengalah.****


Kamis malam lalu kesempatan itu datang lagi. Seusai sidang kabinet di
istana, saya langsung masuk RSPAD Gatot Subroto. Berbagai pemeriksaan awal
dilakukan malam itu: periksa darah, jantung, paru-paru, dan MRI. Dan yang
juga penting dilakukan Dokter Tugas adalah ini: pemetaan saraf otak.
Beberapa tes dilakukan. Untuk mengetahui kondisi saraf maupun fungsi otak.**
**


Keesokan harinya, pagi-pagi, saya sudah bisa menjalani cuci otak di ruang
operasi. Saya sudah tahu apa yang akan terjadi karena dua minggu sebelumnya
istri saya sudah lebih dulu menjalaninya. Saat itu saya menyaksikan dari
layar komputer.****


Cuci otak ini dimulai dengan irisan pisau di pangkal paha. Saat mengambil
pisau, seperti biasa, adalah saat dimulainya Dokter Terawan menyanyikan
lagu kesukaannya, Di Doa Ibuku.****


Perhatian saya pun terbelah: mendengarkan lagu itu atau siap-siap merasakan
torehan pisau ke pangkal paha yang tidak dibius. Tiba-tiba Dokter Terawan
mengeraskan suaranya yang memang merdu. Saya pun kian memperhatikan lagu
itu.****


Saat puncak perhatian saya ke lagu itulah, rupanya Dokter Terawan
menorehkan pisaunya. Tipuan itu berhasil membuat rasa sakit hanya melintas
sekilas.****


Dan Dokter Terawan terus menyanyi:****

Di waktu masih kecil****

Gembira dan senang****

Tiada duka kukenang****

Di sore hari nan sepi****

Ibuku berlutut****

Sujud berdoa****

Kudengar namaku disebut****

Di doa ibuku****


Sebuah lagu yang isinya kurang lebih saya alami sendiri saat saya masih
kecil, sebelum ibu saya meninggal saat saya berumur 10 tahun. Otomatis
perhatian saya ke lagu itu. Itulah cara Dokter Terawan membius pasiennya.
Saya jadi teringat saat memasuki ruang operasi menjelang ganti hati enam
tahun lalu di RS Tianjin, Tiongkok. Ruang operasi dibuat ingar-bingar oleh
lagu rock yang lagi top-topnya saat itu di sana: Mei Fei Se Wu, yang
berarti bulu mata menari-nari. Sebelum lagu berbahasa Mandarin itu
berakhir, saya sudah tidak ingat apa-apa lagi: Saya dimatikan selama 13 jam.
****


Demikian juga Dokter Terawan. Sambil terus menyanyikan Di Doa Ibuku, dia
mulai memasukkan kateter dari luka di pangkal paha itu. Lalu mendorongnya
menuju otak. Kateter pun terlihat memasuki otak kanan. “Sebentar lagi akan
ada rasa seperti mint,” ujar Terawan.****


Benar. Di otak dan mulut saya terasa pyar yang lembut disertai rasa Mentos
yang ringan.****


Itulah rasa yang ditimbulkan oleh cairan pembasuh yang disemprotkan ke
saluran darah di otak. “Rasa itu muncul karena sensasi saja,” katanya.
Hampir setiap dua detik terasa lagi sensasi yang sama. Berarti Dokter
Terawan menyemprotkan lagi cairan pembasuh lewat lubang di dalam kateter
itu. Saya mulai menghitung berapa pyar yang akan saya rasakan. Kateter itu
terus menjelajah bagian-bagian otak sebelah kanan. Pyar, pyar, pyar.
Lembut. Mint. Ternyata sampai 16 kali.****


Begitu dokter mengatakan pembersihan otak kanan sudah selesai, saya melirik
jam. Kira-kira delapan menit.****


Kateter lantas ditarik. Ganti diarahkan ke otak kiri. Rasa pyar-mint yang
sama terjadi lagi. Saya tidak menghitung. Perhatian saya beralih ke
pertanyaan yang akan saya ajukan seusai cuci otak nanti: Mengapa dimulainya
dari otak kanan?****


Usai mengerjakan semua itu, Terawan menjawab. “Karena terjadi penyumbatan
di otak kiri Bapak,” katanya.****


Hah? Penyumbatan? Di otak kiri? Mengapa selama ini tidak terasa? Mengapa
tidak ada gejala apa-apa? Mengapa saya seperti orang sehat 100 persen?****


Dokter Terawan, kolonel TNI-AD yang lulusan Universitas Gadjah Mada
Jogjakarta dengan spesialisasi radiologi dari Universitas Airlangga
Surabaya itu, lantas menunjuk ke layar komputer. “Lihat sebelum dan
sesudahnya,” ujar Terawan.****


Sebelum diadakan pencucian, satu cabang saluran darah ke otak kiri tidak
tampak di layar. “Mestinya bentuk saluran darah itu seperti lambang Mercy.
Tapi, ini tinggal seperti lambang Lexus,” katanya.****


Setiap orang ternyata memiliki lambang Mercy di otaknya. “Nah, setelah yang
buntu itu dijebol, lambang Mercy-nya sudah kembali,” katanya sambil
menunjuk layar sebelahnya. Jelas sekali bedanya.****


Karena saluran yang buntu itu, beban gorong-gorong di otak kanan terlalu
berat. “Lama-lama bisa terjadi pembengkakan dan pecah,” katanya. “Lalu
terjadilah perdarahan di otak,” tambahnya.****


Alhamdulillah. Puji Tuhan. Saya pun langsung teringat Pak Sumaryanto
Widayatin, deputi menteri BUMN bidang infrastruktur dan logistik yang hebat
itu. Yang juga ketua alumni ITB itu. Yang idenya banyak itu. Yang terobosan
birokrasinya tajam itu. Sudah hampir setahun terbaring tanpa bisa bicara
dan hanya sedikit bisa menggerakkan anggota badan.****


Saluran darah ke otaknya pecah justru di tengah tidurnya menjelang dini
hari. Saya sungguh menyesal tidak menyarankannya ke Terawan sebelum itu.
Penyesalan panjang yang tidak berguna. Kini, setelah perawatan yang panjang
oleh istrinya yang hebat, Pak Sum memang terlihat kian segar dan pikirannya
tetap hidup bergairah, tapi masih perlu banyak waktu untuk bisa bicara.****


Setelah cuci otak ini berhasil membersihkan gorong-gorong yang buntu, saya
kembali ke kamar. Kaki tidak boleh bergerak selama tiga jam. Tapi, sore itu
saya sudah bisa terbang ke Surabaya. Untuk merayakan Imlek bersama
masyarakat Tionghoa dan besoknya mengadakan khataman Alquran bersama para
hufadz di rumah saya.****


Tiap hari Dokter Terawan sibuk dengan antrean yang panjang. Ada yang karena
sakit, ada juga yang karena ingin tetap sehat.****


Bagi yang cito, akan langsung ditangani. Tapi, bagi yang sehat, antrenya
sudah mencapai tiga bulan. Sebab, hanya sekitar 15 orang yang bisa
ditangani setiap hari. Lebih dari itu, bisa-bisa Terawan sendiri yang akan
mengalami perdarahan di otaknya.****


Belum diterimanya metode itu oleh dunia kedokteran di seluruh dunia membuat
gerak Terawan terbatas. Misalnya tidak bisa secara terbuka mengajarkan
ilmunya itu ke dokter-dokter lain agar antrean tidak terlalu panjang.
Sampai hari ini, baru dialah satu-satunya di dunia yang bisa melakukan cara
itu.****


Kalau profesi dokter tidak segera bisa menerima metode itu, jangan-jangan
Persatuan Insinyur Indonesia yang akan segera mengakuinya. Anggap saja
Terawan ahli membersihkan gorong-gorong yang buntu. Hanya, gorong- gorong
itu letaknya tidak di Bundaran HI. (*)****


Dahlan Iskan, Menteri BUMN****

 ****

Sumber:****

http://dahlaniskan.wordpress.com/2013/02/18/membersihkan-gorong-gorong-buntu-di-otak/
****



-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke