Kiai Wahab dan Kiai Bisri Berdebat Soal Aurat


Beberapa tahun setelah kemerdekaan RI, para santri putri di
pesantren-pesantren berinisiatif mengadakan kegiatan-kegiatan dalam rangka
mengisi kemerdekaan. Mereka tidak mau kalah dengan organisasi-organisasi
perempuan terutama dari Partai Komunis Indonesia (Gerwani) yang lebih
sering tampil dimuka umum.



Para santri putri ini kemudian merencanakan membuat satu grup drumband.
Nah, ternyata Kiai Bisri Syamsuri mendengar geliat ini. Dengan bersemangat
beliau melarang kegiatan ini. “Perempuan tidak boleh main drumband. Nanti
auratnya kelihatan,” katanya.



Para santri putri lantas melaporkan, peringatan Kiai Bisri ini ke Kiai
Abdul Wahab Chasbullah yang adalah kakak ipar Kiai BIsri sendiri. Biasanya,
kiai Wahablah satu-satunya kiai yang lebih memahami keinginan mereka. Kiai
Wahab lantas menemui Kiai Bisri. “Nggak apa-apa wong masih pakek kerudung
koq, nggak seperti Gerwani. Pokoknya, auratnya nggak kelihatan,” katanya
kepada Kiai Bisri. Kiai Bisri terdiam, tidak melarang.



Baiklah grup drumband jadi dibentuk. Kiai Wahab berpesan, “Janganlah sampai
Kiai Bisri tahu dulu!”



Para santri putri yang tergabung di dalamnya langsung mengadakan latihan.
Ada yang menenteng drum kecil, ada yang lebih besar sampai seperti bedug
kemudian dipukul-pukul. Ada juga yang membawa tongkat kemudian
diayun-ayunkan ke atas. Rupaya dia memimpin drumband-nan itu. Tiba-tiba
kiai Wahab meminta latihan itu dihentikan. “Jangan pake goyang-goyang, itu
namanya aurat,” kata Kiai Wahab kepada salah seorang yang membawa tongkat.
Kiai Bisri yang kemudian ikut menyaksikan drumband-nan itu mengetahui hal
itu manggut-manggut.



Jauh-jauh hari sebelumnya, pada masa-masa menjelang kemerdekaan,
perempuan-perempuan pesantren melakukan demonstrasi menuntut para kiai agar
mereka diperkenankan untuk bergabung dalam pasukan non-reguler Hizbullah
dan Sabilillah, berjihad mengusir para “kumpeni”. Para kiai menenangkan,
“Perempuan juga punya kesempatan untuk berjihad. Jihadnya perempuan itu di
rumah tangga.” Namun itu tidak membuat semangat kaum perempuan kendur.
Mereka tetap memaksa bergabung dengan pasukan perang.



Kiai Bisri pun bersuara. “Perempuan tidak boleh ikut berperang, karena
berbahaya.” Lagi-lagi Kiai Wahab tampil dan ikut bersura, “Tidak apa-apa
asal tetap menutup aurat dan yang menjadi pimpinan tetap laki-laki,
perempuan mengikuti komando saja kalau nanti pas nyerang.”



Demikianlah. Ada Kiai Bisri yang sangat berhati-hati dalam memberikan
fatwa. “Hukum harus berdasarkan dalil yang paling jelas, dan aturan harus
diputuskan dengan sangat hati-hati.” Ada juga kiai Wahab mengedepankan
efektifitas dan katakanlah semacam “substansi” hukum, kaitannya dengan
pengabdian para santri, warga NU untuk negaranya tercinta, Indonesia. Dan
bukan untuk yang lain. []



A. Khoirul Anam



-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke