Ini Alasan NKRI Harga Mati bagi NU

Ahad, 03/05/2015 03:15






[image: Ini Alasan NKRI Harga Mati bagi NU]






Surabaya, *NU Online*
Mengapa Nahdlatul Ulama kukuh menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia
atau NKRI dan tidak bisa ditawar? Bahkan siapa saja yang berkeinginan
mengubahnya, akan berhadapan dengan NU.


Hal inilah yang menjadi pembahasan dalam diskusi rutin PW Aswaja NU Center
Jawa Timur, Sabtu (2/5). Narasumber yang dihadirkan adalah KH Ahmad Azhar
Shofwan yang juga Ketua PW Lembaga Bahtsul Masail NU Jawa Timur.


Bagi Kiai Azhar, setidaknya ada tiga alasan mendasar yang akhirnya
menjadikan NU tetap berkomitmen untuk menjadikan NKRI sebagai harga mati.
Bagi NU, negara bukanlah sebagai tujuan. "Selama negara bisa menjamin bagi
terlindunginya lima hal pokok atau ushulul khams, maka sudah seharusnya
keberadaan negara didukung," katanya.


Kelima hal pokok tersebut adalah terjaganya akal, agama, harta, keturunan
serta jiwa atau nyawa. Sehingga, tujuan hakiki dari sebuah negara adalah
maslahah 'ammah atau kemaslahatan publik, tanpa harus mempersoalkan bentuk
dari negara yang ada, lanjutnya.


Pertimbangan kedua adalah, secara substantif keberadaan NKRI sesuai dengan
syariat. "Karena dalam praktiknya, masyarakat muslim atau warga negara bisa
menjalankan syariat Islam secara penuh," katanya.


Kiai Azhar, memerinci bahwa selama ini banyak undang-undang atau peraturan
di negara Indonesia yang bisa mengakomodir pelaksanaan syariat Islam.
"Seperti berlakunya undang-undang perkawinan, waris, zakat, juga
pengelolaan fakir dan miskin," katanya. Bahkan untuk yakng terakhir ini
yakni penanganan fakir miskin di tanah air sesuai dengan tatanan yang
disyariatkan dalam Islam, lanjutnya.


"Yang ketiga adalah NU menyadari akan kebhinekaan dari bangsa Indonesia,
karenanya menghadapi keberagaman itu harus dihadapi dengan arif agar
kemajemukan yang ada bisa terjaga dengan baik," terangnya. Karenanya, NKRI
menjadi solusi terbaik bagi upaya menebarkan rasa aman dan damai, tanpa
harus ada pihak yang diciderai.


Dalam pandangan pengasuh bahtsul masail di sejumlah media ini, bagi NU
formalisasi syariah apalagi dalam bentuk negara tidaklah penting. "Yang
lebih penting adalah bagaimana rasa aman dan nyaman dalam menjalankan
syariat bisa terlindungi dengan baik oleh negara," tandasnya.


Di akhir pemaparannya, Gus Azhar mengemukakan bahwa titik tekan sebuah
negara adalah bagaimana hukum Islam dapat teraplikasi secara penuh dalam
kehidupan sehari-hari, tanpa mempersoalkan status negaranya.


Diskusi ini merupakan kegiatan mingguan yang diselenggarakan PW Aswaja NU
Center Jawa Timur. Para peserta adalah utusan dari pengurus setempat dan
juga dihadiri masyarakat umum yang ingin mendalami masalah keaswajaan dalam
banyak sudut pandang.


"Untuk Sabtu depan, kami akan menghadirkan Ustadz Ma'ruf Khozin dengan tema
bahasan seputar ijtihad ulama NU dalam menerima Pancasila dan demokrasi,"
kata Ustadz Ahmad Muntaha, AM, koordinator Kajian Islam ala Ahlus Sunnah
wal Jamaah atau Kiswah. Kegiatan dilangsungkan di perpustakaan PWNU Jatim
dari jam 14.00 hingga 16.00 WIB. *(Syaifullah/Abdullah)*




Sumber:


http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,59266-lang,id-c,daerah-t,Ini+Alasan+NKRI+Harga+Mati+bagi+NU-.phpx






-- 
http://harian-oftheday.blogspot.com/


"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke