Islam Nusantara, Jaran Kepang, dan Logika Soto

Oleh: Fariz Alniezar*






Akhir-akhir ini media massa riuh dihiasi perdebatan sengit seputar Islam
Nusantara. Ada banyak pihak yang pro, tak sedikit pula yang kontra dan
bahkan menuding secara sepihak agenda tersembunyi di balik Islam Nusantara.




Pada tataran ini, saya sungguh teringat perkataan Cak Nur (2002). Dengan
sangat jelih dan analitik, ia mengatakan bahwa dalam kurun waktu sepuluh
sampai lima belas tahun yang akan datang—dari ucapan itu dikeluarkan tahun
2002—anak-anak muda NU akan menguasai wacana. Dan nyatanya sekarang ucapan
itu benar belaka, wacana Islam nusantara hari ini didominasi dan digulirkan
oleh anak-anak muda NU.




Tulisan pendek ini ingin memberikan sumbangsih gagasan kepada para
pengkritik Islam Nusantara. Sebab dari serangkaian kritik yang dilayangkan
untuk wacana Islam Nusantara selama ini, menurut saya kerap dan masih
sering terjebak dan berkutat pada perdebatan terminologik, bukan epistemik.




Salah satu artikel yang mempertanyakan Islam Nusantara adalah milik saudara
Faisal Ismail bertajuk “Problematika Islam Nusantara”. Artikel tersebut
pada dasarnya tidak memiliki pijakan epistemologik yang kuat untuk kemudian
dengan gegabah menyimpulkan bahwa istilah Islam Nusantara itu kurang tepat,
dan bahkan tidak benar. Ibarat seorang koboi, saudara Faisal Ismail
nampaknya baru belajar bagaimana memegang pistol sehingga arah bidikan mata
pistolnya tak keruan sekaligus tidak jelas sasaran.




Sebelum masuk ke dalam ranah epistemologik, sebaiknya kita periksa dahulu
apa maksud dan arti Islam dan juga Nusantara itu sendiri. Hal ini sangat
vital sebagai pijakan dikursif bahwa Islam dan Nusantara yang kita
maksudkan dalam terma Islam Nusntara memiliki definisi yang sama antara
kita.




Islam adalah Agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang
berpedoman kapada Al-Quran dan Hadist. Atau dalam bahasa yang lebih
kontekstual, Islam berarti sebuah substansi nilai dan seperangkat
metodologi yang bisa saja ia memiliki kesamaan atau juga pertemuan dengan
substansi nilai yang berasal-muasal dari agama, ilmu atau bahkan tradisi
lain di luarnya.




Sementara itu, Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV mencatat bahwa
lema Nusantara berarti sebutan (nama) bagi seluruh wilayah kepulauan
Indonesia. Maka merujuk pada dua definisi tersebut, dan jika kita
berdisiplin dengan kamus, maka Islam Nusantara adalah Islam Indonesia itu
sendiri.




Setelah jelas duduk terminologisnya, maka persoalan selanjutnya adalah
mendudukkan Islam Nusantara secara epistemik. Dan pada persoalan inilah apa
yang di sampaikan oleh para pengkritik Islam Nusantara, termasuk Saudara
Faisal Ismail, mempunyai masalah yang serius.




Para pengkritik mula-mula mengutip pendapat Abdul Ala Al-Maududi dalam
bukunya Toward Understanding Islam (1966) yang mengatakan bahwa Islam tidak
bisa dinisbatkan kepada pribadi atau kelompok manusia manapun karena Islam
bukan milik pribadi, rakyat atau negeri manapun. Islam bukan produk akal
seseorang, bukan pula terbatas pada masyarakat tertentu, dan tidak
diperuntukkan untuk negeri tertentu.




Dengan mengutip pendapat Abul Ala Al-Maududi tersebut sesungguhnya para
pengkritik Islam Nusantara terjebak pada pemaknaan bahwa Islam tidak bisa
dilokalisirkan dalam bentuk apapun. Pelokalisiran Islam, baik dalam bentuk
ekspresi, budaya, dan juga penerjemahan ritus ibadah menurutnya sama sekali
tidak benar.




Pelokalisiran tersebut, lebih lanjut, menurut mereka akan melahirkan aneka
varian Islam yang tidak terbilang jumlanya. Jika ada Islam Nusantara, maka
kemudian hari akan muncul Islam Jawa Timur, Islam Lamongan, Islam Jawa
Tengah, dan tentu saja Islam Betawi.




Logika semacam ini sesungguhnya sangat mudah untuk dipatahkan. Sebab
argumentasinya tidak berpijak pada pemahaman yang jernih pada sebuah
persoalan dan cenderung membabi buta asal main kritik semata.




Para pengkritik Islam Nusantara mungkin sedikit lupa bahwa Islam adalah
Agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang memiliki sumber utama
berupa suci Al-Quran dan Hadis. Al-Quran dan Hadis di hadapan umat Islam,
jika meminjam analogi istilah sehari-hari, ia ibarat segenggam padi.




Padi adalah bahan mentah. Al-Quran dan Hadis pun juga bahan mentah.
Dibutuhkan sebuah kreativitas tingkat tinggi untuk mengolah bahan mentah
tersebut supaya kemudian bisa dimakan. Kreativitas tersebut kemudian hari
dikenal dengan istilah memasak. Dengan dimasak, padi yang mentah tadi
menjelma menjadi beras dan nasi yang matang dan siap untuk kemudian dimakan.




Kreativitas dalam beragama adalah ekspresi keagamaan itu sendiri. Sebuah
ekspresi keberagamaan tentu saja bersumber dari pemaknaan atas sebuah agama
itu sendiri. Perbedaan menafsirkan diktum agama inilah yang kemudian hari
menjelma menjadi “model” keberagamaan. Nah, model keberagamaan ini sangat

banyak, dan salah satunya adalah yang berbasis kesamaan lokus dan juga
kebudayaan.




Maka dengan alur kronologis seperti itu sesungguhnya Islam Nusantara
bukanlah barang baru. Ia ada secara alamiah sebagai model dan cara beragama
sebuah masyarakat. Itu saja tidak lebih.




Jauh daripada itu, penting untuk dicatat bahwa bahan mentah seperti padi di
atas bukan berarti tidak bisa dimakan. Kita tahu, padi bisa dimakan oleh
para pemain jaran kepang yang identik dengan perangai “edan dan ngamukan”.




Oleh karena itu, di tangan masyarakat yang miskin kerativitas dalam
beragama, Islam menjadi sedemikian garang dan “ngamukan”. Ciri-ciri
masyarakat Jaran Kepang adalah sensitif dan reaktif dalam menerima
perbedaan. Masalah pada masyarakat yang demikian ini sesungguhnya hanya
satu, yakni sebab mereka memakan barang mentah bernama Al-Quran dan Hadis
tersebut.




Para pengkritik Islam Nusantara nampaknya juga harus belajar dari kearifan
kuliner bernama soto. Di seluruh wilayah, soto adalah sebuah makanan yang
basis bahan bakunya sama. Dengan bahan baku yang sama tersebut, di tangan
orang-orang yang memiliki krativitas dan kebetulan lokusnya juga berbeda
soto bisa di-ijtihadi dan kemudian menjelma menjadi beraneka macam dan
varian.




Soto Lamongan, soto Kudus, soto Betawi, dan juga soto Bogor kita tahu tentu
saja berbeda satu dengan yang lainnya, namun percayalah pada soto-soto
tersebut bahan bakunya sama, dan yang begitulah juga sebetulnya yang
terjadi pada Islam Nusantara.




Walhasil, sebagai penutup tulisan ini, izinkanlah saya mengutip secara
serius petikan status facebook Gus Yahya Staquf ihwal mereka yang phobia
terhadap Islam Nusantara: “Karena kau cuma tiang yang dipancang
tergesa-gesa kemarin sore dan pangkalmu cuma dangkal-dangkal saja ditanam,
maka engkau jadi takut setengah mati pada angin. Bahkan semilir yang segar
pun kau caci dan kau kutuki. Kami pohon berakar tunjang mencengkeram jauh
ke jantung ibu pertiwi kami dan menjalar memenuhi mukanya. Maka kami
menyapa angin dengan senang hati. Menitipinya serbuk-serbuk sari untuk
menyuburi putik-putik bunga yang indah. Demi buah-buah yang berguna bagi
seluruh dunia.”Wallahu a’lam bisshawab. []




Fariz Alniezar, mengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama
(STAINU) Jakarta






--
http://harian-oftheday.blogspot.com/


"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke