nice story.... Puas dan tidak puas datangnya dr hati, dr niat untk apakah 
menjalankan sbuah aktifitas. Yg bs menilai,tentu diri sendiri. Karna ada jg 
manusia yg mampu berhenti pada suatu pemberhentian,dan meneguhkan niat untk 
menjadikan merah hitam kehidupan adalah satu babak drama. Dan kmudian 
melangkahkan kaki menuju babak baru,dgn jauh lbh indah dibanding pihak yg hanya 
mengenal satu warna kehidupan. Hidup berawal dari hati, tak harus melangkah 
lurus terus dalam mengecup akhir hidup yang mewangi. Txs 4 inspiration.
Wtn

muhamad kundarto wrote: 
>                                          PATAH *) 
>    
>                                oleh : Ki Asmoro Jiwo **) 
>    
>  Gelombang PHK besar-besaran yang berlangsung secara nasional turut andil 
> besar dalam menghancurkan kehidupan keluarga Tarjo. Penghasilan satu-satunya 
> sebagai buruh pabrik menguap bersama mimpinya tentang masa depan. Kesetiaan 
> istri menjadi goyah karena ekonomi keluarga menjadi tidak menentu. Keluarga 
> menjadi sering konflik. Sang istri mengambil jalan pintas pulang ke rumah 
> orangtua bersama ketiga anaknya. Tarjo yang sedang kepayang terpaksa menjual 
> rumah satu-satunya dan kembali ke daerah asalnya. Walaupun Tarjo dan istri 
> berasal dari daerah yang sama, namun keduanya tidak bertegur sapa 2 tahun 
> lamanya. Intervensi Mertua terhadap istri membuat hubungan semakin buruk, 
> apalagi Tarjo tiada penghasilan. 
>    
>  Puncak kemelut terjadi setahun lalu karena berakhir dengan perceraian. 
> Mantan istri dengan ketiga anaknya tinggal di rumah orangtuanya. Tarjo 
> sendiri mulai merangkak dari awal, dengan membuka usaha sebagai pedagang 
> kakilima. Setiap hari Tarjo mendapatkan keuntungan antara 30 sampai 60 ribu 
> rupiah. Tiap sebulan sekali, anaknya datang untuk minta uang saku. Kadang dia 
> memberi 100 ribu, kadang juga lebih, tergantung penghasilan. Namun saat 
> ketemuan dengan anak-anaknya, dia tidak mau bertegus sapa dengan mantan istri 
> karena hatinya masih memendam kekecewaan dan kebencian akibat ditinggalkan 
> pada saat terpuruk. 
>    
>  Hari-hari dijalani Tarjo dengan berjualan. Kadang dia bermimpi ingin 
> mendapatkan seorang istri yang setia. 
>  "Yah umurnya sekitar 35, masih perawan atau janda tanpa anak", Jelasnya. 
>  "Syukur dia ada rumah, sehingga aku bisa numpang," Harapnya makin nekad. 
> Pertimbangannya, dia sendiri sudah punya anak 3 orang, kalau ditambah anak 
> lagi dari bawaan istri, dia akan bingung karena penghasilannya yang kecil. 
> Saran banyak orang agar dia kembali rujuk, ditolak, karena rasa bencinya yang 
> amat sangat. 
>  Kadang dia juga mengakui bahwa hidupnya kini sepi dan tak tahu masa depannya 
> bagaimana. Kadang Tarjo juga mengeluh anak-anaknya butuh biaya sekolah, tapi 
> jelas dia tidak mampu untuk membiayai semuanya. 
>    
>  Sebagai seorang Duda, ternyata dia tidak tahan untuk menahan diri dari 
> hasrat syahwatnya. Tarjo kerap kali memanfaatkan hari liburnya untuk 
> jalan-jalan "menenggak syurga dunia". Seringnya dia menjadi pelanggan untuk 
> 'shorttime' kisaran 50 rb an. Bahkan dia harus berhitung dulu untuk harga 
> hotel melati 25 ribuan plus BBM buat pulang pergi. Yach, sekali melewatkan 
> hari libur, dia harus merogoh koceknya 100 ribuan. 
>  Tarjo cukup hafal beberapa tempat yang memasang harga murah. 
>  "itu lho depan terminal baru dan di timurnya candi", jawabnya setengah 
> berbisik. 
>  Kadang dia memakai obat oles 'ajaib' yang bisa dipakai empat kali. 
>  "bisa lebih tahan lama," jelasnya. 
>    
>  Kadang beberapa teman mengingatkan, bahwa memuaskan nafsu dengan jalan tidak 
> halal hanya akan membuat semakin tidak puas. Bahkan apabila berumahtangga 
> lagi akan cenderung mudah bosan karena sudah sekian banyak yang dicoba. 
>  "Nggak kok, kalau sudah ada istri lagi, aku akan tobat.." Kilahnya. 
>  Kadang dia juga berkilah tentang istrinya. Kata 'orang pintar', istrinya 
> tergoda oleh lelaki lain. Terus apa bedanya dengan Tarjo? 
>  "aku jadi begini kan karena perilaku mantan istriku, beda dong", Kilahnya 
> lagi. 
>    
>  Begitulah fenomena Tarjo. Orang yang gagal dalam karier dan rumahtangga, 
> namun selalu mencari 'kambinghitam' pada mantan istrinya. rona emosional 
> masih menggelayuti wajahnya tiap hari. Diapun sangat sulit berkaca, bahwa apa 
> yang dilakukannya saat ini jauh lebih buruk lagi. Namun kesadaran dan 
> taubatan itu urusan hati. Kadang kita sudah merasa mengingatkan puluhan kali, 
> namun belum juga hati tergerak untuk bertaubat. 
>  Mengingatkan banyak jalannnya, bisa dengan hati, lisan, atau tangan (baca: 
> perbuatan). 
>  Bisa juga dibahas langsung, dengan diberi perumpamaan, dengan cerita tentang 
> orang lain, dll. 
>    
>  Dengan hikmah, dengan suri tauladan, dengan ketulusan hati dalam ucapan yang 
> menyejukkan. .... 
>    
>  Yogyakarta, 24 Juni 2008 
>    
>  *) ditulis berdasarkan kisah nyata 
>  **) nama samaranku hehhe.... 
>      



      

Kirim email ke